Mengapa Iran Kaya Minyak Bumi? Ini Alasannya
Situasi ini bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga terkait proses geologi yang berlangsung jutaan tahun.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati jalur sempit Selat Hormuz saat keluar dari Teluk Persia.
Namun, jalur vital ini praktis tertutup tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Dampaknya, harga energi global melonjak dan memicu kekhawatiran krisis energi.
Situasi ini bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga terkait proses geologi yang berlangsung jutaan tahun.
Posisi sempit Selat Hormuz ternyata berkaitan langsung dengan kekayaan minyak dan gas di kawasan tersebut.
Iran berada di titik pertemuan antara Lempeng Arab dan Lempeng Eurasia. Tabrakan dua lempeng ini membentuk Pegunungan Zagros di Iran, yang menekan lempeng di bawahnya dan menciptakan cekungan geologi besar.
Cekungan ini menjadi tempat terkumpulnya hidrokarbon dalam jumlah besar sekaligus membentuk Teluk Persia.
“Perpaduan kondisi geologi inilah yang membuat kawasan ini sangat kaya minyak dan gas,” kata Mark Allen, profesor ilmu kebumian di Durham University dikutip dari Scientific American, Minggu (22/3/2026).
Jutaan tahun lalu, wilayah tepi Lempeng Arab merupakan kawasan yang relatif stabil. Seiring waktu, naik turunnya permukaan laut membentuk lapisan batuan kaya bahan organik. Di bawah tekanan dan panas tinggi, material ini berubah menjadi minyak dan gas.
Sekitar 30 juta tahun lalu, Lempeng Arab mulai bergerak dan menabrak Lempeng Eurasia. Tabrakan ini tidak hanya membentuk pegunungan, tetapi juga memicu lipatan dan patahan bawah tanah yang menjadi perangkap alami bagi minyak dan gas.
Hingga kini, kedua lempeng tersebut masih bergerak mendekat sekitar 20 milimeter per tahun, yang kerap memicu gempa bumi di kawasan tersebut.
Benturan Membentuk Pegunungan Zagros
Benturan ini juga membentuk Pegunungan Zagros yang membentang sekitar 1.600 kilometer dari Turki hingga Selat Hormuz. Meski pegunungan ini sendiri tidak menyimpan minyak, struktur lipatan di sekitarnya menjadi lokasi ladang migas besar.
Tekanan dari pegunungan juga membentuk Cekungan Teluk Persia yang relatif dangkal, dengan kedalaman sekitar 110 meter dan lebar maksimum 340 kilometer. Di bagian ujungnya, Semenanjung Musandam mempersempit teluk hingga hanya sekitar 55 kilometer di Selat Hormuz.
Penyempitan ini disebabkan oleh struktur batuan keras yang menjorok ke arah laut, hasil dari proses tabrakan lempeng purba.
“Selat ini ada karena faktor geologi, tetapi dampaknya bagi manusia saat ini sangat besar. Ini menjadi titik sempit jalur laut,” kata Allen.
Akibatnya, kapal-kapal tanker harus melintas di jalur yang sangat terbatas dan berada dekat dengan wilayah pesisir Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan energi global.