Mencekam, 20 Wisatawan Terjebak di Puncak Bianglala Tertinggi di Jepang Selama 9 Jam
Bianglala tertinggi di Jepang saat ini mengalami kerusakan serius dan masih ditutup untuk umum, tanpa kepastian kapan akan dibuka kembali.
Sekitar 20 wisatawan berhasil diselamatkan setelah terjebak selama sembilan jam di bianglala tertinggi di Jepang, yang terletak di Prefektur Osaka pada hari Selasa (25/11). Wahana tersebut berhenti beroperasi setelah disambar petir.
Bianglala Osaka Wheel, yang memiliki ketinggian 123 meter dan berada di dalam kompleks perbelanjaan serta hiburan Expocity di Suita, mengalami penghentian sekitar pukul 17.47 saat badai petir melanda, seperti dilaporkan oleh Japan Times dan dikutip dari VN Express pada Rabu, 26 November 2025.
Petugas awalnya berusaha memutar bianglala secara manual untuk menurunkan penumpang, namun proses tersebut berjalan lambat. Akibatnya, petugas pemadam kebakaran dan tim tanggap darurat dipanggil untuk membantu, dan penumpang terakhir berhasil dievakuasi dengan selamat pada Rabu dini hari sekitar pukul 02.41, menurut laporan dari Kyodo News Agency.
Beruntung, tidak ada laporan mengenai korban luka. Takeshi Niwa, Manajer Umum Humas operator bianglala, menyatakan bahwa perusahaan sedang menyelidiki penyebab penghentian wahana dan meninjau prosedur tanggap darurat yang ada.
Ia menjelaskan bahwa sambaran petir kemungkinan besar mengganggu pasokan listrik bianglala, yang menyebabkan terjadinya penghentian darurat.
Akibat insiden ini, Osaka Wheel mengalami kerusakan parah dan saat ini masih ditutup tanpa ada jadwal pasti untuk dibuka kembali. Tidak hanya di Jepang, insiden serupa yang mencekam juga terjadi di berbagai destinasi wisata lainnya.
Sebelumnya, pada bulan lalu, kerusakan pada kereta gantung di Tianmen Mountain Scenic Area, Provinsi Hunan, China, menyebabkan puluhan wisatawan terjebak di udara selama lebih dari satu jam. Insiden tersebut terjadi pada 5 Oktober 2025 sekitar pukul 18.40 waktu setempat, disebabkan oleh kerusakan listrik dan kegagalan dalam komunikasi, seperti yang dilaporkan oleh publikasi Tiongkok, Sohu, dan dikutip dari VN Express pada 10 Oktober 2025.
Peristiwa Lain
Beberapa rekaman video yang diambil oleh wisatawan menjadi viral di Douyin, menunjukkan dua kereta gantung yang bergetar hebat di udara. Masing-masing kereta gantung tersebut mengangkut sekitar sepuluh penumpang yang tampak panik dan ketakutan, sebagaimana dilaporkan oleh The Paper.
Seorang penumpang menceritakan pengalaman menegangkan yang dialaminya, mengungkapkan bahwa kereta gantung berulang kali menyala dan berhenti, "seperti berayun di ayunan tinggi di langit, yang sangat berbahaya."
Dalam video lain, tampak seorang turis wanita yang berteriak ketika kereta gantung bergetar dengan sangat hebat. Banyak orang yang menyaksikan rekaman tersebut mengaku "jantung mereka hampir berhenti," sementara yang lainnya berkomentar, "akan sangat mengerikan jika ada angin kencang."
Sebagai respons, manajemen kawasan wisata segera menerapkan rencana darurat untuk menjamin keselamatan para pengunjung.
Pengungsian Wisatawan
Sistem kereta gantung berhasil diperbaiki pada pukul 20.00, dan para penumpang yang terjebak telah dipindahkan ke lokasi yang aman. Kawasan wisata tersebut mengeluarkan permohonan maaf kepada publik dan berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Gunung Tianmen terletak di dalam Taman Nasional Gunung Tianmen, dan kereta gantung ini dipasang pada tahun 2005, menghubungkan puncaknya dengan Stasiun Kereta Api Zhangjiajie yang terletak tidak jauh dari sana.
Telpher Gunung Tianmen, yang memiliki panjang 7.455 meter, sering kali disebut dalam publikasi pariwisata sebagai "kereta gantung penumpang terpanjang di dunia yang melintasi pegunungan tinggi."
Di sisi lain dunia, terjadi insiden kereta funikular Gloria yang tergelincir di Lisboa, Portugal, yang mengakibatkan 16 orang kehilangan nyawa dan sekitar 20 lainnya mengalami cedera. Beberapa dari mereka dalam kondisi kritis akibat kecelakaan yang terjadi di dekat Avenida da Liberdade pada malam Rabu, 3 September 2025.
Insiden Kereta yang Terkenal
Menurut laporan dari BBC pada tanggal 5 September 2025, seorang saksi bernama Helen Chow yang berada di lokasi kejadian mengungkapkan bahwa kereta gantung tersebut "kehilangan kendali," meluncur dengan kecepatan tinggi sebelum jatuh miring. Ketika kereta tersebut menabrak sebuah bangunan, suara benturannya terdengar seperti ledakan bom, diikuti oleh "keheningan yang mengerikan."
Chow, yang berasal dari Kanada, menyatakan bahwa ia mendengar suara derit yang sangat keras dan melihat gerbong paling bawah "berhenti mendadak" di ujung rel. Ia juga menyaksikan puing-puing hitam bertebaran dan mendengar teriakan orang-orang saat masinis berusaha membuka gerbang masuk.
"Ada asap hitam pekat. Setelah asap itu menghilang, Anda bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi," tuturnya. Dalam situasi tersebut, banyak orang yang panik dan menangis, sementara yang lain berlarian untuk memberikan pertolongan.
"Mengerikan sekali," tambahnya. "Saya sangat terguncang." Video yang telah diverifikasi oleh publikasi tersebut menunjukkan kereta berwarna kuning-putih yang menabrak gedung di tikungan bukit, sementara kereta funikular lainnya terhenti di bawahnya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4215398/original/023594300_1667613031-WhatsApp_Image_2022-11-05_at_08.49.13.jpeg)