Israel Dilaporkan Bakal Kirim Robot Peledak ke Gaza
Robot peledak adalah perangkat otomatis yang dirancang untuk menangani bahan peledak dengan aman.
Militer Israel sedang mempersiapkan untuk mengerahkan berbagai kendaraan kendali jarak jauh yang dilengkapi dengan bahan peledak ke Kota Gaza.
Menurut laporan dari media Israel Walla News, jumlah kendaraan yang disiapkan kali ini merupakan yang terbesar dalam sejarah.
Di Gaza, kendaraan-kendaraan ini dikenal dengan sebutan robot peledak. Kendaraan-kendaraan tersebut adalah APC (Kendaraan Pengangkut Personel Lapis Baja) yang sudah tidak terpakai, yang telah dimodifikasi dengan bahan peledak dan dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh pasukan Israel.
Pasukan Israel berencana untuk mengendalikan APC tersebut agar memasuki daerah perkotaan, lalu meledakkannya untuk menyebabkan kerusakan yang luas. Mereka menyebut metode ini sebagai "APC bunuh diri".
Walla News melaporkan pada Selasa (16/9) bahwa militer telah menempatkan banyak APC usang di sepanjang perbatasan Gaza. Kendaraan-kendaraan ini telah dimodifikasi menjadi "bom raksasa" yang akan digunakan dalam serangan darat yang dimulai pada hari tersebut.
Awal bulan ini, Jerusalem Post melaporkan bahwa penggunaan APC tua tipe M113 meningkat tiga kali lipat atas perintah Kepala Komando Selatan Yaniv Asor.
Media Israel juga melaporkan bahwa kekuatan ledakan dari APC tersebut sangat besar, sehingga beberapa ledakan dapat terdengar hingga wilayah Israel tengah.
Di sisi lain, warga Palestina menggambarkan ledakan-ledakan tersebut sebagai peristiwa yang "mengguncang Bumi" dan menebarkan teror serta kehancuran di sekitarnya.
"Kendaraan-kendaraan itu sangat dahsyat. Mereka meratakan seluruh bangunan menjadi puing-puing," ungkap Hamza Shabaan, seorang warga Kota Gaza yang pernah menyaksikan langsung dampak dari robot peledak tersebut, kepada Middle East Eye.
"Mereka jauh lebih menghancurkan daripada serangan udara," tambahnya menggambarkan betapa mengerikannya situasi yang dihadapi oleh warga Gaza akibat serangan tersebut.
Senjata paling menakutkan
Menurut laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza, lebih dari 100 robot peledak telah dikerahkan di area yang padat penduduk antara 13 Agustus hingga 3 September.
Serangan ini memberikan dampak yang sangat signifikan. Lembaga non-profit Euro-Mediterranean Human Rights Monitor mencatat, sekitar 300 unit tempat tinggal hancur setiap harinya akibat ledakan yang ditimbulkan.
Euro-Med Monitor juga menyatakan bahwa penggunaan robot ini terjadi dengan kecepatan yang belum pernah terlihat sebelumnya, menunjukkan adanya strategi untuk 'menghapus kota dari peta'.
“Inilah senjata paling mengerikan milik Israel yang digunakan untuk menakut-nakuti warga Gaza agar mengungsi ke selatan: kendaraan APC yang diubah menjadi bom raksasa robotik,” ungkap peneliti Palestina Muhammad Shehada di platform media sosial X.
“Militer Israel telah membanjiri Kota Gaza dengan APC-APC tersebut untuk membom secara membabi buta kawasan padat penduduk dan menciptakan kekacauan.”
Dengan demikian, situasi di Gaza semakin memprihatinkan dan menunjukkan dampak yang menghancurkan bagi masyarakat sipil.
Bukan metode baru
Penggunaan metode ini bukanlah hal yang baru. Laporan menunjukkan bahwa APC yang dilengkapi bahan peledak telah diterapkan di seluruh wilayah Gaza sejak bulan-bulan awal genosida, meskipun pada awalnya pihak militer Israel membantah hal tersebut.
Kesaksian dari para tentara yang muncul sejak Juli 2024 mengkonfirmasi bahwa metode ini memang digunakan.
Menurut berita terbaru dari Maariv, taktik ini pertama kali dikembangkan setelah konflik Gaza tahun 2014.
Sejak saat itu, taktik tersebut telah berevolusi menjadi metode operasional yang efektif untuk membuka jalan, merobohkan bangunan, serta menghancurkan infrastruktur musuh tanpa membuat pasukan terpapar pada ancaman langsung.
Namun, keberadaan "APC bunuh diri" bukanlah satu-satunya hal yang terlihat di perbatasan Gaza.
Berdasarkan informasi dari Walla News, dalam seminggu terakhir, militer Israel telah mengalihkan puluhan kendaraan berat ke perbatasan Gaza.
Sebagian besar dari kendaraan tersebut sudah berada di dalam Gaza, dan lebih banyak lagi diperkirakan akan memasuki wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan.
"Dalam sepekan terakhir, puluhan kendaraan berat telah dipindahkan ke perbatasan Gaza," tulis Walla.
"Sebagian besar sudah berada di dalam Gaza. Lebih banyak lagi diperkirakan akan masuk dalam beberapa hari mendatang."
Seorang sumber militer mengungkapkan kepada media tersebut bahwa kendaraan-kendaraan ini sedang menunggu perintah untuk melaksanakan misi utama maupun tambahan.
Militer Israel dilaporkan memberikan perhatian yang besar terhadap mesin-mesin ini dan sedang berupaya memastikan bahwa semuanya dapat beroperasi secara optimal.
Peralatan tersebut diproduksi di Amerika Serikat dan baru tiba di Israel setelah mengalami penundaan oleh pemerintahan Joe Biden. Pengiriman ini akhirnya disetujui pada masa kepresidenan Donald Trump.