Iran Melancarkan Serangan ke-40, Bareng Hizbullah Bombardir Israel dan Pangkalan Militer AS
IRGC mengungkapkan bahwa serangan ini dilakukan untuk pertama kalinya secara terkoordinasi dengan pasukan Hizbullah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa gelombang ke-40 dari Operasi True Promise 4 telah dilaksanakan pada Rabu (11/3/2026) dengan sandi 'Ya Amir al-Mu'minin'. Operasi ini dilakukan dalam koordinasi dengan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Menurut kantor hubungan masyarakat IRGC, operasi tersebut melibatkan peluncuran rudal Qadr, Emad, Kheibar-Shekan, dan Fattah. Serangan ini ditujukan kepada lebih dari 50 target di Tel Aviv, Yerusalem yang diduduki, dan Haifa, serta pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan, termasuk Pangkalan Udara Al-Azraq dan Pangkalan Udara Al-Kharj.
Saat bersamaan, Hizbullah juga mengumumkan Operasi Devoured Straw dengan menembakkan lebih dari seratus roket ke wilayah Palestina utara yang diduduki.
Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebut bahwa media Israel mengakui adanya peningkatan yang signifikan dalam peluncuran rudal dari Iran menuju Israel selama 24 jam terakhir, disertai dengan meningkatnya jumlah korban. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa serangan yang terus berlangsung telah memaksa penduduk Israel hidup "dari sirene ke sirene" dan menghabiskan waktu lama di tempat perlindungan sebagai konsekuensi dari perang yang sedang berlangsung. IRGC menegaskan bahwa serangan tersebut akan terus berlanjut.
Serangan ke-39 Menargetkan Pangkalan Militer AS dan Intelijen Israel
Pada hari yang sama, IRGC mengumumkan pelaksanaan gelombang ke-39 sebagai reaksi terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi dari AS dan Israel terhadap rakyat serta kedaulatan Iran.
Dalam pernyataan tersebut, IRGC menekankan bahwa operasi ini dilakukan untuk menghormati dan mengenang para martir Iran, termasuk Martir Amir Mousavi, serta untuk menargetkan posisi AS di berbagai wilayah di kawasan.
IRGC mengungkapkan bahwa serangan ini dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis rudal balistik, seperti Qadr dengan hulu ledak ganda, Khorramshahr, dan Emad. Serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan posisi militer AS di kawasan Teluk.
Mereka juga menyatakan bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk berhasil dihancurkan dalam operasi ini.
Dalam pernyataan yang sama, IRGC memuji serangan tersebut sebagai "efektif, heroik, dan penuh keberanian" yang dilaksanakan oleh pasukan perlawanan.
Serangan ini dianggap sebagai pelengkap dari operasi besar-besaran yang melibatkan penggunaan rudal dan drone oleh pasukan Iran. IRGC menambahkan bahwa operasi tersebut tidak hanya berhasil menghancurkan target yang dituju, tetapi juga menimbulkan rasa takut di kalangan pemukim Israel yang telah hidup di bawah suara sirene selama 11 hari sejak dimulainya Operasi True Promise 4.
Sementara itu, Selat Hormuz yang memiliki nilai strategis tetap berada di bawah pengawasan pasukan angkatan laut Iran, dan IRGC memperingatkan, "Para agresor AS dan mitra mereka tidak memiliki hak untuk melintas."