Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Selasa mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sebuah kapal kontainer yang disebut berafiliasi dengan Israel di perairan Teluk Persia. Insiden ini terjadi sebagai bagian dari gelombang serangan ke-88 yang menargetkan sasaran Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut. Serangan ini menegaskan kembali ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah.
Menurut pernyataan resmi dari IRGC yang dikutip oleh kantor berita Tasnim, Angkatan Laut IRGC menggunakan rudal balistik untuk menghantam kapal kontainer bernama Express Halfong. Kapal ini diidentifikasi sebagai milik rezim Zionis, merujuk pada Israel. Lokasi serangan berada di perairan strategis Teluk Persia, sebuah jalur pelayaran vital bagi perdagangan global.
Langkah ini merupakan balasan atas serangan sebelumnya yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menargetkan sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran sebelumnya telah membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Advertisement
Advertisement
Angkatan Laut IRGC menyatakan telah menyerang kapal kontainer Express Halfong, yang diklaim sebagai milik Israel, di Teluk Persia. Serangan ini dilakukan menggunakan rudal balistik, sebuah indikasi kemampuan militer Iran dalam melancarkan serangan presisi jarak jauh. Pernyataan IRGC tersebut dimuat oleh kantor berita Tasnim, yang merupakan corong resmi pemerintah Iran.
Kapal Express Halfong menjadi target dalam apa yang disebut IRGC sebagai gelombang serangan ke-88 terhadap sasaran AS dan Israel. Meskipun IRGC mengklaim kapal tersebut milik Israel, beberapa laporan menyebutkan bahwa tidak ada kapal dengan nama persis 'Express Halfong' yang ditemukan di situs pelacakan kapal, namun ada kapal berbendera Singapura dengan nama serupa, 'Haiphong Express', yang terkonfirmasi berada di wilayah Teluk.
Selain kapal kontainer, IRGC juga mengklaim telah menargetkan posisi militer AS dan sistem radar. Beberapa laporan menyebutkan serangan terhadap tempat persembunyian pasukan AS di pantai Uni Emirat Arab, sistem anti-drone Armada Kelima AS di dekat Bandara Manama, Bahrain, serta dua radar peringatan dini canggih di Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber di Kuwait.
Advertisement
Advertisement
Serangan IRGC ini tidak terlepas dari eskalasi konflik yang terjadi sebelumnya. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap beberapa sasaran di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan mengakibatkan kerusakan signifikan dan menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil Iran.
Sebagai respons, Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang berada di Timur Tengah. Eskalasi ini menunjukkan siklus saling balas serangan yang semakin intens antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ketegangan di kawasan Teluk Persia telah menjadi perhatian global karena dampaknya terhadap stabilitas regional dan jalur pelayaran internasional.
IRGC juga menegaskan bahwa pasukannya memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, sebuah jalur maritim krusial. Mereka memperingatkan bahwa setiap pergerakan musuh di selat tersebut akan ditanggapi dengan serangan. Pernyataan ini menggarisbawahi tekad Iran untuk mempertahankan dominasinya di perairan strategis tersebut dan menunjukkan potensi konflik yang lebih luas di masa mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews