Dampak Perang Iran vs AS dan Israel, 9.400 Jemaah Umrah Jatim Tertahan di Arab Saudi
Otoritas setempat bersama maskapai melakukan pengaturan ulang jalur penerbangan sebagai langkah antisipatif.
9.400 Jemaah umrah asal Jawa Timur belum bisa kembali ke Tanah Air akibat eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Situasi keamanan kawasan timur tengah membuat sejumlah penerbangan mengalami penyesuaian rute dan jadwal.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Jawa Timur, Asadul Anam mengatakan, berdasarkan pendataan sementara terdapat sekitar 9.400 jemaah asal Jatim yang kepulangannya harus ditunda.
"Data sementara menunjukkan kurang lebih 9.400 jemaah dari Jawa Timur masih menunggu jadwal kepulangan karena adanya penyesuaian penerbangan," kata Anam.
Alasan Kepulangan Ditunda
Menurut dia, kebijakan tersebut diambil demi mengutamakan faktor keselamatan di tengah dinamika geopolitik yang belum stabil. Otoritas setempat bersama maskapai melakukan pengaturan ulang jalur penerbangan sebagai langkah antisipatif.
Anam memastikan seluruh jemaah dalam kondisi aman dan tetap mendapatkan pendampingan dari Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). "Sampai saat ini para jemaah dalam keadaan baik dan terus didampingi pihak travel masing-masing,” kata Anam.
Pihak kantor wilayah Kementerian Haji Jawa Timur juga mengimbau keluarga jemaah di Jawa Timur agar tetap tenang serta menunggu informasi resmi dari pemerintah Indonesia maupun otoritas Arab Saudi terkait jadwal pemulangan yang dinilai aman.
Keberangkatan Jemaah Umrah Ditunda
Selain penundaan kepulangan, Kementerian Haji di tingkat pusat turut mengambil langkah dengan menangguhkan sementara keberangkatan jemaah umrah dari Indonesia sampai situasi dinyatakan kondusif.
“Kebijakan dari pusat sudah jelas, keberangkatan sementara ditunda. Kami di daerah menindaklanjuti dengan menyampaikan kepada seluruh PPIU agar mematuhi arahan tersebut,” tegas Anam.
Anam menambahkan, seluruh penyelenggara perjalanan di Jawa Timur diminta mempertimbangkan secara cermat aspek keamanan sebelum memberangkatkan jemaah.
“Keselamatan jemaah tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya.