Harga Rumah Melonjak, Anak Muda Jepang Pilih KPR 50 Tahun
Menurut laporan dari PayPay Bank, sekitar 70 persen nasabah di usia 20-an memilih jangka waktu cicilan yang mencapai 50 tahun.
Anak muda di Jepang kini lebih cenderung memilih kredit pemilikan rumah (KPR) dengan tenor yang mencapai 50 tahun, melebihi tenor standar yang biasanya 35 tahun. Hal ini terjadi di tengah peningkatan harga rumah yang signifikan di negara tersebut.
Dengan memilih masa pengembalian yang lebih panjang, mereka dapat menekan besaran cicilan bulanan, meskipun total pinjaman yang harus dilunasi menjadi lebih besar.
Hal ini berpotensi membuat karyawan terus melakukan cicilan bahkan setelah pensiun. Perubahan kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank of Japan, yang mempengaruhi suku bunga pinjaman, juga menjadi perhatian tersendiri.
Seperti yang dikutip dari laman Antara News pada Senin (22/12/2025), pada bulan Juli 2025, PayPay Bank mulai menawarkan KPR dengan tenor 50 tahun.
Sekitar 70 persen nasabah yang berusia 20-an dan 49 persen dari mereka yang berusia 30-an memilih untuk mengambil KPR dengan masa cicilan hingga 50 tahun.
Tidak hanya PayPay Bank, bank digital lainnya serta bank daerah juga mulai menyediakan pinjaman dengan jangka waktu lebih panjang, khususnya untuk kelompok usia tersebut.
Mereka memberikan kelonggaran kepada nasabah untuk melunasi pinjaman sebelum mencapai usia 80 tahun.
Berdasarkan analisis Takashi Shiozawa dari MFS Inc., jika seorang nasabah meminjam 60 juta yen (setara dengan Rp6,35 miliar) dengan bunga tahunan sebesar 0,75 persen, cicilan bulanan untuk tenor 50 tahun akan berkisar sekitar 120.000 yen (Rp12,7 juta), dengan total bunga mencapai sekitar 11,97 juta yen.
Menurut Toshiaki Nakayama dari kelompok properti Lifull, KPR dengan tenor 50 tahun dapat menurunkan cicilan bulanan, sehingga nasabah memiliki lebih banyak sisa uang. Sisa dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk berinvestasi.
"Penting untuk mempertimbangkan rencana hidup jangka menengah hingga panjang sebelum berutang," ungkap Nakayama.
Ia juga menyoroti berbagai risiko yang mungkin dihadapi, seperti sakit atau kesulitan membayar cicilan akibat perubahan pekerjaan.