Prediksi Pasar Properti 2025: Harga Rumah Naik, Permintaan Rumah Kecil–Menengah Tertinggi
Pasar properti di tanah air menunjukkan stabilitas, dengan rumah berukuran kecil dan menengah tetap menjadi pilihan utama bagi para pembeli.
Pada akhir 2025, pasar residensial nasional menunjukkan kondisi yang relatif stabil meski terjadi penyesuaian daya beli masyarakat dan perubahan preferensi hunian. Permintaan rumah tetap terjaga, terutama pada segmen rumah kecil dan menengah, sementara pasar sewa mulai menunjukkan penguatan.Data Pinhome melalui Pinhome Home Sell Index dan Pinhome Home Rental Index pada kuartal IV 2025 menunjukkan bahwa Indeks Harga Jual Rumah Nasional naik tipis 0,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Secara tahunan, kenaikan harga rumah juga tercatat stabil di angka yang sama, yakni 0,4 persen dibandingkan 2024.
CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan pasar properti yang relatif seimbang di tengah dinamika ekonomi yang ada.
"Segmen menengah dan kecil tetap jadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan yang berkaitan dengan kecenderungan konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota inti, serta peningkatan inventori di beberapa wilayah komuter," ungkap Dayu Dara Permata dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (15/3).
Secara tahunan, rumah tipe kecil masih menjadi penopang utama pasar properti dengan pertumbuhan sekitar 0,8 persen. Di sisi lain, rumah tipe menengah (55--120) tumbuh sebesar 0,5 persen, dan tipe 121--200 meningkat sebesar 0,3 persen. Namun, rumah tipe besar (201) justru mengalami koreksi tipis dengan penurunan sebesar -0,9 persen.
Pergerakan Harga Rumah di Jakarta
Pergerakan harga properti di DKI Jakarta dan sekitarnya menunjukkan variasi yang berbeda di berbagai kawasan. Di Jakarta Utara, harga rumah tipe 55-120 di Tanjung Priok mengalami penurunan sekitar 5 persen, sedangkan untuk tipe 121-200 di Tanjung Priok dan Cilincing turun sekitar 3 persen. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran masyarakat akan risiko banjir rob. Namun, di kawasan yang sama, harga rumah kecil tipe 54 justru meningkat sekitar 3 persen.
Di Jakarta Barat, harga rumah tipe kecil di Kembangan naik sekitar 3 persen berkat harga yang lebih bersaing. Sementara itu, rumah tipe 121-200 di Kalideres mengalami kenaikan sebesar 2 persen, yang didorong oleh konektivitas transportasi yang baik serta kedekatannya dengan Bandara Soekarno-Hatta. Di Jakarta Timur, rumah tipe 121-200 mengalami kenaikan harga sekitar 3 persen di Ciracas dan 2 persen di Cakung, berkat peningkatan akses infrastruktur. Di sisi lain, Jakarta Selatan mencatat koreksi harga rumah kecil yang turun sekitar 2 persen di Jagakarsa dan Pasar Minggu.
Pergerakan Harga Rumah di Berbagai Daerah Indonesia
Di luar Jakarta dan daerah sekitarnya, pasar properti menunjukkan dinamika yang berbeda di berbagai wilayah. Di Jawa Barat, rumah dengan tipe besar mengalami penurunan sekitar -3 persen di Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya perhatian terhadap risiko lingkungan serta kebijakan moratorium pembangunan perumahan yang diterapkan.
Di sisi lain, Bali menunjukkan stabilitas harga hunian, dengan kenaikan sekitar 2 persen untuk rumah tipe 121-200 di Kota Denpasar, yang didorong oleh aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata yang berkembang pesat.
Di Sumatera, pasar hunian mengalami penguatan, seperti yang terlihat di Palembang, di mana terjadi kenaikan harga sebesar 3 persen untuk rumah kecil dan 2 persen untuk tipe 121-200. Sementara itu, di Kalimantan, harga rumah tipe menengah juga mengalami peningkatan sekitar 2 persen di Balikpapan, sedangkan rumah tipe besar naik sekitar 2 persen di Samarinda.
Di wilayah Sulawesi, Manado mencatat kenaikan harga rumah tipe besar sekitar 2 persen. Di Maluku dan Papua, pasar properti cenderung stabil, dengan penyesuaian harga yang terbatas, seiring dengan fokus pembangunan hunian yang lebih terjangkau bagi masyarakat.