FOTO: Senam Air di Laut Dakar Hadir Sebagai Solusi Terapi Kesehatan Lansia
Di tengah keterbatasan layanan kesehatan dan meningkatnya penyakit kronis pada lansia, senam air di laut Dakar muncul sebagai solusi terapi berbiaya rendah.
Matahari belum terbit di ibu kota Senegal, Dakar, ketika sekitar seratus orang berkumpul di tepi pantai. Dengan pakaian renang dan jaket pelampung, mereka bersiap mengikuti kelas senam air di perairan dingin Samudra Atlantik. Di dalam air, para peserta mengayuh kaki mengikuti irama bersama, sementara di pasir pantai sejumlah orang dengan keterbatasan mobilitas melakukan gerakan terapi ringan untuk mengurangi nyeri.
Program senam air ini menjadi ruang pemulihan bagi banyak lansia yang hidup dengan penyakit kronis. Salah satunya adalah Aminata Sall, 63 tahun, yang sebelumnya didiagnosis menderita rheumatoid arthritis, penyakit autoimun yang menyerang sendi dan dapat menyebabkan keterbatasan gerak serius. Setelah menerima peringatan medis tentang risiko kehilangan kemampuan berjalan, ia sempat menarik diri dari aktivitas sosial selama hampir setahun. Perjumpaannya dengan kelompok senam air di kawasan Ngor menjadi titik balik yang membawanya kembali bergerak.
Senam air atau aquagym di Senegal berkembang sebagai pendekatan berdampak rendah yang dinilai efektif membantu orang dengan mobilitas terbatas akibat penyakit jantung, stroke, dan gangguan sendi. Seiring meningkatnya angka harapan hidup di Afrika, penyakit tidak menular semakin umum, namun layanan pencegahan, diagnosis, dan rehabilitasi belum berkembang secepat kebutuhannya.
Sistem kesehatan publik di banyak negara Afrika masih berfokus pada penyakit menular serta layanan ibu dan anak. Keterbatasan akses terhadap dokter spesialis, khususnya geriatri dan rehabilitasi, membuat banyak lansia menunda pengobatan karena alasan biaya.
Di Senegal, sebagian besar biaya kesehatan ditanggung langsung oleh pasien, sementara cakupan asuransi publik terbatas dan asuransi swasta sulit dijangkau. Prosedur medis mahal seperti operasi sering kali berada di luar kemampuan finansial warga lanjut usia.Dalam kondisi tersebut, aquagym muncul sekitar satu dekade lalu sebagai alternatif yang terjangkau. Air laut menopang tubuh, mengurangi tekanan pada sendi, dan memungkinkan gerakan dilakukan dengan lebih nyaman. Pendekatan ini memberi kesempatan bagi peserta untuk tetap aktif tanpa memperparah rasa sakit.
Manfaat ini juga dirasakan Khadija Wade, 76 tahun, yang hidup dengan stenosis tulang belakang. Setelah mengalami penurunan kondisi dan aktivitas, ia mulai mengikuti kelas senam air atas rekomendasi dokter. Perubahan positif dalam kemampuan bergerak membuatnya kembali percaya diri menjalani aktivitas harian.
Pendiri program ini adalah Ndiamé Samb, 69 tahun, mantan petugas pemadam kebakaran yang memiliki pengalaman operasi bawah air dan kemudian menjadi penjaga pantai. Sebagai anggota suku Lebu yang memiliki ikatan kuat dengan laut, Samb melihat potensi besar laut sebagai ruang terapi. Setelah mengenal aquagym saat berlatih di Paris, ia mengadaptasi konsep tersebut di Dakar dengan memanfaatkan laut sebagai pengganti kolam renang yang masih langka.
Kelas-kelas ini termasuk di antara sedikit program aquagym di dunia yang dilakukan langsung di laut. Dari awal yang hanya diikuti segelintir peserta, jumlahnya kini berkembang menjadi ratusan orang setiap pekan. Biaya yang dikenakan sangat rendah dan dikelola bersama pelatih sukarelawan, dengan dukungan terbatas dari pemerintah kota untuk operasional dan peralatan.
Bagi para peserta, senam air bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga ruang kebersamaan yang menumbuhkan semangat untuk terus bergerak. Di tengah keterbatasan sistem kesehatan dan tantangan penuaan, ombak Atlantik di Dakar kini menjadi sumber harapan baru bagi banyak lansia Senegal untuk mempertahankan kualitas hidup mereka.