FOTO: Kisah Guru Palestina Mengajar Anak-Anak di Tengah Reruntuhan Jalur Gaza
Inisiatif Doha al-Attar untuk membuka kelas ini bertujuan agar anak-anak Jalur Gaza tetap bisa mengenyam pendidikan di tengah perang yang tak berkesudahan.
Serangan tanpa henti Israel telah menghancurkan berbagai bangunan di Jalur Gaza, termasuk sekolah-sekolah. Kondisi itu membuat seluruh aktivitas pendidikan terhenti. Anak-anak di Jalur Gaza tak lagi punya tempat belajar.
Melihat kondisi itu, seorang guru bernama Doha al-Attar tak tinggal diam. Doha, yang juga merupakan ibu empat anak, membuka kelas di antara reruntuhan bangunan.
Perempuan asal Rafah itu mengajar sejumlah anak dari berbagai rentang usia.
Inisiatif Doha untuk membuka kelas ini bertujuan agar anak-anak Jalur Gaza tetap bisa mengenyam pendidikan di tengah perang yang tak berkesudahan.
Berikut potret Doha saat mengajar murid-muridnya di tengah reruntuhan Jalur Gaza:
UNICEF kembali menyalurkan Bantuan Pendidikan Gaza berupa perlengkapan sekolah dan rekreasi setelah dua tahun pembatasan, membawa harapan baru bagi lebih dari 700.000 anak yang terdampak konflik.
Tentara Israel melancarkan serangan tanpa henti ke wilayah Jalur Gaza, hanya beberapa hari setelah mengumumkan rencana perluasan operasi militer besar-besaran.
ICRC peringatkan ribuan jenazah di Gaza terancam tak teridentifikasi permanen karena lambatnya evakuasi dan minimnya alat berat, menolak hak keluarga mengetahui nasib orang terkasih.
Agresi rezim Israel di Jalur Gaza terus memakan korban jiwa. Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas Gaza telah mencapai 72.938 orang, dengan ribuan lainnya terluka, memperparah krisis kemanusiaan.
Menteri Kesehatan Palestina Majed Abu Ramadan mengumumkan peluncuran kampanye donor darah 'Darah Kita Satu' untuk mendukung pasien dan korban luka di Jalur Gaza, memperkuat pasokan darah nasional, dan menyatukan solidaritas rakyat Palestina.
Relawan Flotilla Gaza dari Indonesia membeberkan pengalaman pahitnya, termasuk kekerasan fisik dan penahanan oleh pasukan Israel, setelah kapal kemanusiaan mereka di-intercept di Laut Mediterania.
Jumlah korban tewas di Jalur Gaza terus melonjak, kini mencapai puluhan ribu orang. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, menunjukkan skala tragedi kemanusiaan.
Sembilan WNI peserta WNI Flotilla Gaza yang dibebaskan dari penahanan Israel kini menjalani serangkaian pemeriksaan di Turkiye, termasuk visum dan tes kesehatan, sebelum dapat kembali ke Indonesia.