Di Tengah Dunia yang Terpecah, China Ingin Jadi Kekuatan Integrasi Ekonomi
Persaingan antara Amerika Serikat dan China kian meruncing di tengah kondisi global yang kian terpecah.
Di saat rivalitas Amerika Serikat dan China kian meruncing dan ketegangan geopolitik menjalar dari Indo-Pasifik hingga Timur Tengah, perdebatan tentang masa depan tatanan global semakin menguat.
Mabel Lu Miao, pengamat dari Center for China and Globalization (CCG), Beijing, memaparkan pandangannya mengenai rivalitas AS–China, peran Beijing di Global South, hingga dinamika Timur Tengah dan implikasinya terhadap stabilitas global.
Menurut Mabel, sengketa perdagangan antara Washington dan Beijing telah lama melampaui sekadar soal tarif impor.
“Rivalitas dan kompetisi antara AS dan China kini meluas ke berbagai bidang seperti kecerdasan buatan, komputasi, pertambangan mineral kritis, dan banyak sektor strategis lainnya,” ujarnya dalam wawancara untuk merdeka.com di sela acara Munich Security Conference belum lama ini.
Rivalitas Dua Ekonomi Terbesar
Kompetisi tersebut, kata dia, bukan lagi sekadar pertarungan dagang, melainkan kontestasi sistemik yang menyentuh kebijakan industri, kontrol rantai pasok teknologi, hingga tata kelola ekonomi global. Dampaknya terasa luas: dunia menjadi semakin terfragmentasi.
“Gelombang baru globalisasi telah terganggu oleh jenis kompetisi seperti ini,” tegasnya.
Alih-alih memperdalam integrasi ekonomi global yang telah terbangun selama tiga dekade terakhir, rivalitas dua ekonomi terbesar dunia justru mendorong pembentukan ekosistem teknologi dan perdagangan yang saling terpisah.
Perpecahan Global dan “Perang Dingin Baru”?
Mabel tidak menampik bahwa dunia saat ini menunjukkan gejala pembentukan blok-blok baru—baik dalam bidang ekonomi, perdagangan, maupun kerja sama strategis seperti mekanisme mineral kritis.
“Ini adalah gelombang baru fragmentasi,” katanya.
Namun, ia menolak penyederhanaan narasi bahwa dunia sepenuhnya memasuki “perang dingin baru.” Menurutnya, ada dua sisi yang perlu diamati.
“Di satu sisi memang ada kompetisi dan rivalitas. Tapi di sisi lain, masih ada banyak niat baik untuk menjaga dunia tetap terintegrasi.”
Artinya, fragmentasi bukanlah takdir final. Ia melihat dinamika global saat ini sebagai fase transisi yang masih membuka peluang untuk kerja sama lintas blok.
Motor Global South
Dalam konteks pembentukan blok alternatif, Mabel menempatkan China sebagai salah satu motor utama Global South. Melalui forum seperti BRICS dan Shanghai Cooperation Organization, Beijing dinilai berupaya membangun format kemitraan baru yang berbeda dari aliansi tradisional Barat.
“Ini bukan kemitraan tradisional. Ini kemitraan baru dan inovatif,” jelasnya.
Menurut dia, forum-forum tersebut bukan semata instrumen geopolitik, melainkan platform berbagi pengalaman pembangunan dan memperluas integrasi ekonomi dalam kerangka baru globalisasi.
“China ingin memainkan peran signifikan sebagai pemimpin negara-negara Global South,” ujarnya.
Beijing juga memprakarsai sejumlah inisiatif tata kelola global yang, menurut Mabel, mencerminkan “gelombang baru globalisasi yang dipimpin oleh Global South.” Ia menyebut pendekatan ini sebagai inovasi dalam membangun tatanan global baru—bukan untuk menggantikan sepenuhnya sistem lama, melainkan untuk mereformasinya agar lebih inklusif.
Timur Tengah: Stabilitas Energi dan Diplomasi Ekonomi
Terkait eskalasi Iran–Israel dan implikasinya terhadap keamanan energi global, Mabel menegaskan bahwa prioritas Beijing adalah meredakan krisis.
“Dunia sangat saling terhubung, terutama dalam bidang komersial dan pembangunan. Dunia tidak membutuhkan konflik dan ketegangan geopolitik, kita membutuhkan pembangunan dan integrasi.”
Ia menilai pendekatan China terhadap Timur Tengah bertumpu pada diplomasi ekonomi dan konektivitas, termasuk melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan.
Dalam konteks hubungan yang kompleks—dengan Iran, negara-negara Teluk, hingga Israel—Mabel menyebut China sebagai mitra dagang utama bagi banyak negara di kawasan tersebut. Menurutnya, posisi itu memberi Beijing ruang untuk memainkan peran penyeimbang.
Ia mencontohkan keberhasilan China memfasilitasi normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran sebagai bukti kapasitas diplomasi Beijing.
“China pandai melakukan negosiasi dengan berbagai pihak melalui kerja sama ekonomi,” katanya.
Kebangkitan Ekonomi China
Apakah ketegangan Timur Tengah menciptakan ruang bagi China memperluas pengaruhnya?
Mabel melihatnya bukan sebagai ekspansi, melainkan sebagai konsekuensi dari kebangkitan ekonomi China.
“China adalah kekuatan yang sedang bangkit dan ingin memikul tanggung jawab terhadap dunia,” ujarnya.
Alih-alih mengadopsi gaya hegemonik, ia menekankan bahwa pendekatan Beijing berfokus pada integrasi ekonomi. Dengan status sebagai mitra dagang terbesar bagi lebih dari 115 negara, China, menurutnya, menawarkan model kekuatan baru: membangun pengaruh melalui konektivitas dan perdagangan.
“Gaya China adalah berbisnis dengan semua pihak dan memprioritaskan hubungan ekonomi global,” tegasnya.
Secara historis, kata dia, China adalah negara yang berorientasi ke dalam dan memprioritaskan kesejahteraan domestik. Proses transformasi menjadi kekuatan global adalah perjalanan yang penuh dinamika.
“Ini adalah proses bagi China juga,” ujarnya.
Bukan Ancaman
Ia menolak anggapan bahwa Beijing semata ingin menjadi kekuatan hegemonik. Dalam pandangannya, China mengonseptualisasikan diri sebagai kekuatan yang bertanggung jawab—mendorong inisiatif tata kelola global yang menghormati kedaulatan dan kesetaraan.
Dengan menempatkan pembangunan ekonomi sebagai fondasi perdamaian, Beijing, menurut Mabel, berupaya membangun lebih banyak stabilitas dalam sistem internasional yang tengah berubah.
Menurut Mabel, kebangkitan China bukanlah ancaman, melainkan peluang bagi format globalisasi yang lebih inklusif.
Namun, di tengah rivalitas yang makin tajam dan perpecahan yang terlihat jelas, pertanyaan besarnya masih sama: apakah dunia akan benar-benar terbelah menjadi blok-blok yang saling berhadapan, atau justru menemukan cara baru untuk bekerja sama?
Bagi Mabel Lu Miao, jawabannya belum pasti. Dunia saat ini sedang berada dalam masa peralihan. Ke mana arahnya nanti sangat bergantung pada pilihan negara-negara besar—apakah mereka terus bersaing tanpa batas, atau memilih memperbarui kerja sama dan integrasi global.