China Larang Warganya ke Jepang, Ini Alasannya
Pernyataan terbaru dari PM Jepang, Sanae Takaichi, menjadi alasan bagi China untuk mengeluarkan imbauan tersebut.
China telah mengeluarkan peringatan perjalanan untuk warganya dan memanggil Duta Besar Jepang di Beijing.
Langkah ini diambil menyusul pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang mengatakan Jepang mungkin akan mengerahkan Pasukan Bela Diri jika terjadi serangan dari China terhadap Taiwan.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan sengit yang terus berkembang sepanjang pekan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Sanae Takaichi dalam sidang parlemen pekan lalu mengungkapkan bahwa kehadiran kapal perang China di sekitar Taiwan dapat dianggap sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang.
Ini adalah status hukum yang memungkinkan Tokyo untuk mengerahkan pasukannya.
Beijing langsung mengecam komentar tersebut. Ketegangan semakin memuncak ketika Xue Jian, Konsul Jenderal China di Osaka, mengeluarkan komentar yang dinilai mengancam, yang diartikan sebagai ajakan untuk "memenggal kepala" Takaichi.
Meskipun unggahan tersebut kemudian dihapus, dampaknya sudah terlanjur meluas. Jepang dan China saling mengajukan protes diplomatik, sementara Takaichi bersikeras tidak akan mencabut komentarnya dan menyatakan bahwa pernyataannya sejalan dengan posisi Jepang selama ini, seperti yang dilaporkan oleh BBC pada Sabtu (15/11).
Beijing merespons dengan lebih keras, memperingatkan Jepang untuk "berhenti bermain api" dan menyebut kemungkinan keterlibatan Jepang di Selat Taiwan sebagai "tindakan agresi".
Di pihak Jepang, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan mereka terkait Taiwan tidak akan berubah dan tetap mendorong penyelesaian damai melalui dialog.
Tokyo juga mendesak Beijing untuk mengambil tindakan terhadap komentar yang dibuat oleh Xue Jian.
Situasi yang semakin memanas ini ditambah dengan langkah China yang pada Jumat malam menyarankan warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang dalam waktu dekat, dengan alasan meningkatnya pernyataan provokatif dari Tokyo mengenai Taiwan.
Ketegangan Berkepanjangan
Pertikaian terbaru ini kembali mengingatkan kita pada sejarah panjang permusuhan antara Jepang dan China, yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu hingga masa pendudukan brutal Jepang selama Perang Dunia II.
Beban sejarah ini terus membayangi hubungan antara kedua negara, menciptakan ketegangan yang sulit dihilangkan.
Kenaikan Takaichi, yang dikenal sebagai sosok konservatif dan memiliki kedekatan dengan almarhum Shinzo Abe, semakin menambah kekhawatiran Beijing.
Kebijakan Takaichi yang pro-AS serta dorongannya untuk meningkatkan anggaran pertahanan Jepang dianggap sebagai tanda bahwa ketegangan antara Tokyo dan Beijing mungkin akan semakin meningkat.
Dengan dua kekuatan besar di Asia yang saling mengancam, dinamika keamanan di kawasan ini tampaknya memasuki fase baru yang lebih sensitif, terutama terkait dengan masa depan Taiwan.