Awalnya Dikira Ramuan Obat-Obatan, Ternyata Arkeolog Temukan Resep Masakan Tertua di Dunia
Arkeolog temukan prasasti yang berisi resep masakan dari peradaban Babilonia sekitar 1730 SM.
Memasak adalah bagian penting dari budaya manusia, tetapi orang-orang tidak selalu menulis resep masakan seperti yang kita lakukan sekarang.
Arkeolog menemukan sisa-sisa makanan yang menyerupai makanan yang biasa kita makan. Jejak tersebut meliputi jejak bubur yang gosong di panci Zaman Batu hingga ‘roti bir’ di Mesir kuno. Namun, untuk sebagian besar sejarah, memasak merupakan seni yang diwariskan secara lisan dan jarang didokumentasikan secara tertulis.
Salah satu resep masakan kuno berasal dari peradaban tertua, meskipun resep mereka terlihat sedikit berbeda dari yang kita lihat saat ini.
Menurut Farrel Monaco, seorang peneliti tamu kehormatan dan kandidat doktor di Universitas Leicester yang mengkhususkan diri dalam roti Romawi kuno, “resep” seperti yang kita ketahui saat ini adalah penemuan modern.
Bahan yang sudah tidak ada lagi
Dilansir Live Science, Sabtu (19/4) petunjuk kuno untuk membuat makanan sering kali tidak memiliki takaran bahan. Ramuan medis kuno juga sering kali mengandung komponen yang dapat dimakan, sehingga sulit memastikan apakah daftar bahan-bahan tersebut dimaksudkan untuk keperluan kuliner atau pengobatan. Ditambah lagi dengan masalah ada beberapa kata dari resep kuno yang sulit diterjemahkan, serta beberapa merujuk kepada bahan yang sudah tidak ada lagi.
Faktanya, apa yang dikenal sebagai “resep tertua” tidak diidentifikasi seperti itu untuk waktu yang lama. Ketika empat lempengan tanah liat di Babilonia tiba di Universitas Yale pada awal tahun 1900-an, arkeolog berjuang keras untuk menerjemahkan aksara paku yang terkandung di dalamnya. Prasasti-prasasti tersebut masing-masing berukuran sebesar iPad mini, berasal dari tahun 1730 SM. Aksara tersebut ditulis di tempat yang sekarang disebut Irak Selatan.
Asumsi
Pada 1945, sarjana Marry Hussey menyatakan bahwa prasasti-prasasti tersebut adalah resep masakan. Namun, rekan-rekannya di bidang tersebut meremehkan asumsinya. Mereka yakin bahwa prasasti itu adalah campuran obat-obatan atau ramuan alkimia.
Dosen Gajko Barjamovic, dosen senior dan peneliti senior di bidang Astrologi di Yale, mengatakan “Pembuatan makanan adalah salah satu dari jenis teknologi yang tidak terdengar."
Ia menjelaskan bahwa dalam sebagian besar sejarah, resep-resep masakan diwariskan dari generasi ke generasi. Dan paling sering melalui perempuan, sehingga arkeolog tidak percaya bahwa resep tertulis dari era Mesopotamia benar-benar ada.
Kuah, Pai, dan Semur Kuno
Pada 1980-an, arkeolog Jean Bottero mengonfirmasi bahwa prasasti-prasasti Babilonia sebenarnya adalah resep. Namun, ia menyatakan bahwa resep makanan tersebut tidak dapat dimakan. Baru-baru ini, semua resep tersebut ditinjau ulang.
Barjamovic bekerja sama dengan tim interdisipliner di Harvard untuk menerjemahkan dan membuat ulang resep-resep tersebut. Namun, banyak prasasti yang rusak hingga sulit dibaca. Meskipun begitu, tim Barjamovic dapat mengisi kekosongan tersebut untuk merekonstruksi makanan kuno itu.
Mereka menemukan prasasti tersebut berisi petunjuk untuk membuat kaldu, pai yang diisi dengan burung penyanyi, gandum hijau, 25 jenis semur berbahan dasar sayuran dan daging, serta beberapa jenis mamalia kecil yang dimasak. Dalam banyak hal, resep-resep ini menyerupai makanan modern dari Irak yang menggunakan bahan-bahan seperti daging domba dan daun ketumbar. Namun, resep-resep itu juga mencantumkan beberapa bahan yang mungkin kurang disukai, seperti masakan darah dan hewan pengerat.
Meskipun satu prasasti berisi petunjuk yang lebih terperinci dengan takaran, terdapat banyak resep Babilonia yang tidak menyerupai resep-resep terperinci yang biasa kita temui.
Salah satu resep berbunyi “Gunakan daging. Siapkan air. Tambahkan garam halus, roti jelai kering, bawang bombai, bawang Persia, dan susu. Tumbuk lalu tambahkan daun bawang dan bawang putih.”
Mempelajari resep-resep kuno seperti ini membantu kita lebih menghargai makanan kita sendiri, kata Monaco.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey