Arkeolog Temukan Struktur Buatan Manusia Tertua di Dunia di Sebuah Goa Yunani
Para peneliti menemukan sebuah dinding batu berusia lebih dari 23.000 tahun di Gua Theopetra yang menjadikannya salah satu struktur buatan manusia tertua.
Sebuah temuan arkeologi di tengah Pegunungan Pindos, Yunani Tengah, berpotensi mengubah pemahaman tentang awal mula arsitektur manusia. Para peneliti menemukan sebuah dinding batu berusia lebih dari 23.000 tahun di Gua Theopetra yang menjadikannya salah satu struktur buatan manusia tertua yang pernah tercatat, bahkan 17.000 tahun lebih tua dari piramida Mesir. data dikutip dari media IDR, Kamis (13/11).
Dibangun pada Puncak Zaman Es
Dinding tersebut diperkirakan berdiri sejak periode Maksimum Glasial Terakhir, ketika suhu Eropa berada pada titik paling ekstrem. Penelitian yang dipimpin arkeolog Dr. Catherine Kyparissi-Apostolika menggunakan metode penanggalan termoluminesensi, memperkirakan konstruksinya berada pada rentang 21.000–24.000 tahun lalu.
Struktur sederhana dari batu kapur dan tanah liat itu diyakini berfungsi sebagai pelindung dari angin beku, menunjukkan adanya bentuk awal rekayasa lingkungan. Kyparissi-Apostolika menyebut temuan itu sebagai “contoh perencanaan arsitektur awal yang menunjukkan kemampuan modifikasi lingkungan lebih kompleks dari dugaan selama ini.”
Situs Hunian Manusia Berkelanjutan
Gua Theopetra, yang terletak di dekat Kalambaka, Thessalia, merupakan salah satu lokasi dengan jejak hunian manusia paling panjang di Eropa, mencakup lebih dari 130.000 tahun. Sejumlah temuan penting yang telah diidentifikasi tim arkeolog meliputi:
-Jejak kaki anak-anak berusia 4–5 tahun berumur sekitar 135.000 tahun
-Sisa perapian yang digunakan berturut-turut selama ribuan tahun
-Ornamen kerang, alat batu, hingga tanah liat awal
-Lima kerangka manusia dari berbagai periode
Dinding yang menutup sebagian pintu masuk gua diperkirakan dibangun bersamaan dengan periode cuaca ekstrem yang tercatat dalam lapisan sedimen, termasuk fase banjir besar yang pernah menaikkan permukaan endapan hampir dua meter.
Dibangun untuk Bertahan Hidup, Bukan Simbolik
Berbeda dengan struktur prasejarah monumental seperti Gobekli Tepe atau Stonehenge, dinding Theopetra tidak memiliki unsur ritual atau seremonial. Tujuannya bersifat murni utilitarian yang melindungi penghuni dari iklim yang keras. Studi dari Institut Sains Weizmann dan Universitas Harvard menunjukkan pola perubahan cuaca ekstrem yang konsisten dengan kebutuhan manusia untuk menciptakan perlindungan tambahan.
Penggalian lebih dalam juga mengungkap evolusi budaya jangka panjang, termasuk bukti eksperimen awal pembuatan keramik, konsumsi jelai dan gandum, hingga praktik penguburan dan penangkaran hewan. Kontinuitas DNA dari kerangka yang ditemukan menunjukkan stabilitas hunian di dalam gua selama ribuan tahun.
Temuan dinding Theopetra tidak hanya memperkaya catatan arkeologi, tetapi juga menegaskan bahwa jauh sebelum munculnya peradaban besar, manusia sudah mengembangkan inovasi untuk beradaptasi dan bertahan dalam lingkungan yang ekstrem.
Reporter Magang : Ahmad Subayu