Pep Guardiola Punya Satu Penyesalan Besar Selama Karier Suksesnya di Manchester City
Pep Guardiola telah menikmati perjalanan karier yang sangat mengesankan selama sepuluh tahun melatih Manchester City.
Pep Guardiola telah menikmati perjalanan karier yang sangat mengesankan selama sepuluh tahun melatih Manchester City. Kini, ia telah memutuskan untuk meninggalkan klub yang dijuluki The Sky Blues tersebut pada akhir musim ini.
Selama satu dekade berkarier di City, Guardiola berhasil menyumbangkan enam gelar Liga Inggris dan satu trofi Liga Champions, serta beberapa gelar lainnya. Namun, baru-baru ini, ia tidak mendapatkan perpisahan yang ideal di Etihad Stadium setelah mantan anak asuhnya, Mikel Arteta, berhasil mengantarkan Arsenal meraih gelar Premier League yang bersejarah.
Walaupun sulit untuk membayangkan Guardiola memiliki banyak penyesalan setelah menjalani era yang hampir sempurna di Manchester City, para penggemar setia klub tampaknya sudah dapat menebak keputusan yang masih menghantuinya.
Ya, ada satu penyesalan yang tersimpan dalam hati Guardiola selama ia menjabat sebagai manajer Manchester City. Meskipun ia telah meraih banyak kesuksesan, penyesalan ini tetap menjadi bagian dari perjalanan kariernya yang luar biasa.
Apakah penyesalan tersebut berkaitan dengan momen-momen penting yang terlewatkan atau keputusan strategis yang diambilnya selama di klub?
Sesali Sikapnya terhadap Joe Hart
Guardiola bergabung dengan Manchester City pada tahun 2016 dan dengan cepat membawa klub tersebut meraih gelar Premier League pada musim berikutnya dengan pencapaian luar biasa, yaitu mengumpulkan 100 poin. Ini menjadikan City tim pertama dalam sejarah Liga Inggris yang berhasil menjadi juara dengan total poin mencapai tiga digit.
Namun, di tengah perjalanan menuju pencapaian tersebut, Guardiola membuat keputusan yang kontroversial dengan mencoret salah satu pemain yang sangat disukai oleh para penggemar dari skuadnya. Keputusan tersebut hingga kini masih menjadi penyesalan baginya.
Joe Hart, yang merupakan legenda Manchester City dan juga mantan kiper Timnas Inggris, hanya mendapatkan kesempatan bermain dalam satu pertandingan kompetitif di bawah arahan Guardiola, yaitu pada laga kualifikasi Liga Champions.
Tak lama setelah itu, Hart harus meninggalkan klub karena Guardiola lebih memilih Claudio Bravo sebagai kiper utama. Dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports, Guardiola mengaku bahwa keputusan tersebut adalah sebuah penyesalan yang sudah lama ia simpan dalam hati.
"Saya tidak memberi Joe Hart kesempatan untuk bersama saya, untuk membuktikan dirinya dan menunjukkan betapa hebatnya dia sebagai kiper. Dan saya seharusnya melakukan itu," ungkap Guardiola, seperti yang dikutip dari Sportbible pada Sabtu, 23 Mei 2026.
"Saya sangat menghormati Claudio Bravo dan Ederson. Tetapi saat itu saya seharusnya berkata, 'Oke Joe, mari kita coba bersama. Kalau tidak berhasil, baru kita ubah.'"
Namun, Guardiola menyadari bahwa semuanya sudah terjadi dan dalam hidup, terkadang ia harus mengambil keputusan yang mungkin tidak adil. Setelah hanya satu penampilan di bawah Guardiola, Hart dipinjamkan ke Torino dan West Ham sebelum akhirnya bergabung secara permanen dengan Burnley pada tahun 2018.
Hart, yang pernah meraih penghargaan Golden Glove Premier League tiga kali berturut-turut dari 2010 hingga 2013, juga mengungkapkan pada 2020 bahwa Guardiola secara jelas memberinya sinyal untuk meninggalkan klub.
"Itu emosional. Tidak menyenangkan, tetapi juga luar biasa karena berada di stadion yang penuh cinta dari para fans," kata Hart tentang laga terakhirnya bersama City.
"Pep membuat semuanya sangat jelas bahwa saya harus meninggalkan Manchester City. Para fans di stadion juga menunjukkan bahwa keputusan itu bukan berasal dari mereka."
Pengakuan Guardiola mengenai penyesalannya terhadap situasi Joe Hart diyakini akan sangat berarti bagi banyak penggemar Manchester City yang merasa bahwa sang legenda telah diperlakukan tidak adil.
Meskipun Guardiola telah memberikan kesuksesan yang luar biasa yang dulunya hampir tidak bisa dibayangkan oleh para pendukung City, komentar terbarunya menunjukkan bahwa sosok Guardiola sebagai manusia mungkin akan lebih dirindukan dibandingkan dengan deretan trofi yang ia persembahkan.
Pengakuan Joe Hart
Setelah tampil sekali di bawah asuhan Guardiola, Hart dipinjamkan ke Torino dan West Ham, sebelum akhirnya bergabung secara permanen dengan Burnley pada tahun 2018. Hart, yang pernah meraih penghargaan Golden Glove Premier League selama tiga musim berturut-turut dari 2010 hingga 2013, juga mengungkapkan bahwa Guardiola secara tegas memberinya sinyal untuk meninggalkan klub.
“Itu emosional. Tidak menyenangkan, tetapi juga luar biasa karena berada di stadion yang penuh cinta dari para fans,” ungkap Hart pada tahun 2020 mengenai pertandingan terakhirnya bersama City.
“Pep membuat semuanya sangat jelas bahwa saya harus meninggalkan Manchester City. Para fans di stadion juga menunjukkan bahwa keputusan itu bukan berasal dari mereka.” Pengakuan Guardiola tentang penyesalannya terhadap situasi Joe Hart diyakini akan sangat berarti bagi banyak penggemar Manchester City yang merasa bahwa sang legenda diperlakukan tidak adil.
Walaupun Guardiola telah memberikan kesuksesan luar biasa yang sebelumnya nyaris mustahil dibayangkan oleh para pendukung City, komentar terbarunya menunjukkan bahwa sosok Guardiola sebagai manusia mungkin akan lebih dirindukan daripada sekadar deretan trofi yang ia persembahkan.
Sumber: Sportbible