Pep Guardiola Berbagi Kunci Kebangkitan Manchester City, Sebut Dirinya Bukan Pesulap
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, mengungkapkan bahwa kabut yang pernah menyelimuti timnya kini mulai menghilang.
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, merasa bahwa kabut yang menyelimuti timnya mulai menghilang. Namun, pelatih asal Spanyol ini menegaskan bahwa dirinya bukanlah pesulap yang dapat menyelesaikan masalah hanya dengan menjentikkan jari. Manchester City berhasil meraih kemenangan penting dengan skor 2-1 atas Nottingham Forest pada pekan lalu. Gol telat dari Rayan Cherki memastikan tiga poin berharga yang membawa The Citizens kembali ke puncak klasemen Liga Inggris 2025/2026.
Walaupun demikian, posisi tersebut tidak bertahan lama. Arsenal berhasil merebut kembali singgasana setelah mengalahkan Brighton dengan skor yang sama, 2-1. Saat ini, City berada di peringkat kedua, tertinggal dua poin dari The Gunners.
Pada musim lalu, Manchester City harus puas finis di posisi ketiga, dengan selisih 13 poin dari Liverpool yang menjadi juara, setelah sebelumnya mendominasi liga dengan meraih empat gelar berturut-turut.
Perjalanan Manchester City musim ini sempat berjalan jauh dari harapan. Rentetan hasil buruk yang didapat, dengan hanya satu kemenangan dari 13 laga di semua kompetisi, termasuk lima kekalahan beruntun pada periode Oktober hingga November, hampir merusak musim mereka.
Selain itu, City juga harus menerima kenyataan pahit tersingkir lebih awal dari Liga Champions. Kekalahan dari Real Madrid di fase play-off knock-out menjadi eliminasi tercepat mereka dalam 12 tahun terakhir di kompetisi elit Eropa.
Butuh Waktu
Guardiola akhirnya memberikan penjelasan mengenai situasi sulit yang dihadapi oleh Manchester City.
"Manajer bukan pesulap. Kami tidak bisa memutuskan sesuatu, menjentikkan jari, lalu semuanya langsung jelas," ungkap Guardiola, seperti yang dikutip dari BBC pada Senin (29/12/2025).
Ia menekankan bahwa terkadang dibutuhkan waktu untuk menemukan solusi. "Musim lalu, berapa kali kalian melihat saya menghakimi atau mengkritik klub ini? Tidak pernah. Bukan soal satu orang atau dua orang. Ada sesuatu yang hilang... seperti kabut yang menyelimuti Manchester, termasuk pusat latihan kami," tambahnya.
Guardiola juga menyatakan bahwa kebangkitan City dimulai dari serangkaian diskusi yang dilakukannya bersama para pemain saat mengikuti Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat musim panas lalu. Meskipun timnya tersingkir oleh Al Hilal, Guardiola tetap optimis dan melihat tanda-tanda positif.
"Bukan soal kami kalah, tapi soal bagaimana kami bermain. Kami tampil sangat bagus," jelas Guardiola.
"Kami berlatih dengan baik, bersaing dengan baik. Lokasi kami di Boca Raton, tepat di depan pantai, membuat semua orang bahagia. Kami banyak makan malam bersama, banyak berdiskusi soal apa yang harus kami lakukan musim depan."
Diskusi Internal
Diskusi di antara staf pelatih dan manajemen, termasuk Pep Lijnders, Txiki Begiristain, dan Hugo Viana, menjadi momen yang sangat berarti. "Kami merasa ada sesuatu yang berubah. Energi," ungkap Guardiola secara tegas.
"Musim lalu kami kehilangan itu. Sekarang kami mulai berlatih lebih baik, bersaing lebih baik."
Hasil dari perubahan tersebut mulai tampak. Manchester City kini berhasil meraih delapan kemenangan berturut-turut di semua kompetisi. Ini merupakan sinyal yang kuat bahwa juara bertahan ini kembali menemukan identitasnya.
Meski demikian, Guardiola tetap bersikap rendah hati. "Itu tidak berarti kami pasti akan menang segalanya. Tapi setidaknya kami bisa mengenali tim ini lagi," tambahnya.
"Kami masih harus banyak berkembang, tentu saja. Tapi pola pikir ini jauh lebih baik." Dengan pernyataan ini, Guardiola menunjukkan bahwa meskipun timnya sedang dalam performa yang baik, masih ada ruang untuk perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.
Sumber: BBC