Heboh Isu BBM Oplosan, Eno NTRL Tiba-Tiba Cover Drum Lagu Sukatani, Netizen: Sarkasnya Beda Tapi Ngena!
Eno NTRL melalui media sosialnya terlihat menyanyikan cover lagu dari band Sukatani yang saat ini masih hangat diperbincangkan publik.
Eno Gitara Ryanto yang dikenal sebagai Eno NTRL, penabuh drum dari band NTRL, baru-baru ini mencuri perhatian para penggemarnya. Ia mengunggah sebuah video di media sosial yang menunjukkan dirinya dengan penuh semangat memainkan instrumen drum, dengan variasi tempo yang beragam, mulai dari cepat hingga sedikit lebih lambat.
Dalam video tersebut, Eno NTRL melakukan cover untuk lagu Bayar, Bayar, Bayar karya band Sukatani, yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Menariknya, Eno memilih untuk mengunggah video ini di tengah isu BBM yang tengah ramai di kalangan masyarakat.
Di awal video, ia dengan cerdik menuliskan kata "murni" sambil menunjukkan permainan drumnya dengan tempo yang cepat. Setelah itu, tempo permainan drumnya melambat dan ia menambahkan kata "oplosan".
Eno menuliskan, "Beda kan tarikannya.." yang seolah-olah mengisyaratkan isu BBM tanpa secara langsung menyinggung pihak tertentu yang sedang menjadi sorotan. Video yang diunggahnya ini berhasil memicu beragam reaksi dari warganet, yang menunjukkan bagaimana musik dan isu sosial bisa saling terkait dalam konteks yang menarik.
Tabuhan Drum Eno yang Mengesankan
Di kolom komentar, banyak pengguna yang memberikan pujian kepada Eno NTRL atas penampilannya yang memukau. Namun, tak sedikit juga yang menyentuh isu yang sedang hangat diperbincangkan saat ini.
"Sjc emang gurih suara snare-nya," ungkap @esa***.
Selain itu, ada komentar lain yang menyatakan, "Murni lebih kebut yee bung ens."
Komentar yang tak kalah menarik muncul dari seorang pengguna yang menuliskan, "Wkwkwkkwkwkwkwkwkwk terbaiq bung ens sarkasnya beda versi tapi ngena."
Harapan untuk kolaborasi juga disampaikan oleh pengguna lain, "Kami suka sukatani bung ens... collab lah sama mereka," yang menunjukkan antusiasme mereka terhadap Eno NTRL.
Polemik Sukatani
Dalam perkembangan terbaru mengenai kontroversi lagu dari band Sukatani, Rudianto Lallo, anggota Komisi III DPR RI, mengungkapkan keprihatinan terhadap dugaan intimidasi yang dilakukan oleh anggota Polda Jawa Tengah terhadap grup band tersebut. Intimidasi ini berkaitan dengan lirik lagu mereka yang berjudul Bayar Bayar Bayar, yang dianggap mengkritik institusi Polri.
Rudianto menekankan pentingnya penegakan disiplin di lingkungan Polri, sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2022 mengenai Pengawasan Melekat (Waskat). Dalam hal ini, pimpinan dua tingkat di atas wajib diberikan sanksi jika terbukti melakukan pelanggaran.
Oleh karena itu, Rudianto mengingatkan agar Propam Polri dan Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri kembali mensosialisasikan Perkap Nomor 2 Tahun 2022 tentang Waskat kepada seluruh jajaran Polda, Polres, hingga Polsek.
"Kita berharap ke depan Itwasum, Propam, kedisiplinan kan ada di Propam apabila ada yang melanggar hukum, termasuk melanggar kode etik, harus memberi pemahaman sampai ke bawah supaya ada Perkap yang diingatkan. Kalau anda melanggar Perkap, maka dua tingkat harus bertanggung jawab," kata Rudianto dikutip Jumat (28/2).
Rudianto juga menegaskan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dan Kapolres tidak boleh lepas tangan atas tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya.
"Maknanya sebenarnya supaya seorang Kapolda, seorang Kapolres, tidak lepas tanggung jawab, bila mana ada anggota yang melakukan perbuatan tercela atau perbuatan melawan hukum, atau perbuatan hukum. Itu semangatnya," tegasnya.
Dengan demikian, Rudianto meminta agar oknum anggota Polda Jawa Tengah yang dipimpin oleh Irjen Ribut Hari Wibowo diusut secara tuntas, karena diduga melakukan intimidasi terhadap grup musik Sukatani agar meminta maaf.
Dia berharap agar oknum-oknum Polri yang terlibat dalam tindakan intimidasi tersebut harus dimintai pertanggungjawaban, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
"Saya berharap oknum-oknum Polri yang terlibat intimidasi, yang menyuruh meminta maaf ini ya kalau perlu dimintai tanggung jawab supaya tidak terulang lagi," ujarnya.
Tak Boleh Direspon Berlebihan
Menurut pendapatnya, semangat yang terkandung dalam lagu yang dinyanyikan oleh grup musik Sukatani sebenarnya merupakan sebuah kritik yang bertujuan untuk membangun, dan hal ini juga mencerminkan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Ia menegaskan seharusnya Polda Jawa Tengah tidak perlu bersikap reaktif terhadap kritik yang disampaikan melalui lagu Sukatani tersebut.
“Semangat lagu ini sebenarnya kritik membangun menurut saya, ya mungkin banyak dirasakan masyarakat. Jadi tidak perlu reaktif. Kalau reaktif, pasti memunculkan pertanyaan, membenarkan. Ada apa? Seandainya tidak reaktif, tidak ditanggapi, kan tidak ada ribut-ribut seperti ini. Jadi ada hikmahnya ini,” pungkasnya.