Warga Korea Selatan Lebih Nyaman ke Bank Fisik, Ini Alasannya
Di tengah efisiensi yang ditawarkan digitalisasi, nasabah dengan keterbatasan akses teknologi termasuk lansia dikhawatirkan akan semakin terpinggirkan.
Di tengah laju transformasi digital yang semakin cepat di sektor keuangan Korea Selatan, masih banyak nasabah yang lebih memilih mengurus urusan perbankan mereka secara langsung di kantor cabang salah satunya adalah Jung Yoo-young.
Jung, 48 tahun, seorang penerjemah lepas yang tinggal di Distrik Gangbuk, Seoul, mengaku lebih nyaman berinteraksi langsung dengan petugas bank dibanding menggunakan aplikasi mobile banking. Meskipun mahir menggunakan ponsel pintar, ia merasa tidak aman jika harus mengakses data finansial yang sensitif melalui perangkatnya.
“Laporan soal serangan siber yang menyasar lembaga keuangan atau informasi dari USIM membuat saya waspada,” ujar Jung dilansir dari The Korea Times.
“Memang lebih lambat, tapi saya merasa lebih aman saat petugas bank menangani langsung kebutuhan saya di kantor cabang.”
Nasabah Masih Andalkan Layanan Tatap Muka untuk Urusan Rumit
Pola seperti yang dijalani Jung ternyata bukanlah hal langka. Menurut survei nasional terbaru oleh Consumer Insight terhadap lebih dari 10.000 nasabah berusia 20–69 tahun, layanan mobile banking memang menjadi pilihan utama untuk transaksi sederhana seperti transfer dana (66%) dan pengecekan saldo (57,1%).
Namun, untuk layanan yang memerlukan keterlibatan lebih tinggi seperti transaksi mata uang asing (5,1%), akses informasi investasi (6,4%), hingga pengelolaan produk keuangan (8,7%)—nasabah masih enggan beralih ke digital.
Layanan-layanan ini kerap kali memerlukan penjelasan mendetail, pemahaman produk, serta kepercayaan terhadap petugas bank yang hanya bisa didapatkan melalui interaksi langsung.
Kantor Cabang Masih Dibutuhkan di Masa Transisi Digital
Survei tersebut juga mencatat bahwa alasan kedua terbanyak kunjungan ke cabang adalah untuk konsultasi produk finansial seperti deposito dan pinjaman. Bahkan, transaksi dasar seperti tarik tunai, setor tunai, dan transfer dana masih menjadi aktivitas yang paling banyak dilakukan di kantor cabang.
Kondisi ini menguatkan kekhawatiran para ahli mengenai potensi eksklusi digital. Di tengah efisiensi yang ditawarkan digitalisasi, nasabah dengan keterbatasan akses teknologi termasuk lansia dikhawatirkan akan semakin terpinggirkan.
Peneliti dari Institut Keuangan Korea, Lee Si-yeon, mengingatkan bahwa preferensi untuk datang langsung ke bank tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan teknologi.
“Bahkan nasabah yang fasih teknologi pun kadang lebih nyaman bertatap muka langsung. Inilah mengapa keputusan untuk menutup cabang bank perlu dibuat secara hati-hati,” ujarnya.