Terungkap! Bagaimana Program Jaskop Bobby Nasution dengan Solar Dryer Dome Dapat Stabilkan Harga Cabai Merah di Sumut?
Ekonom menilai Program Jaskop Bobby Nasution, terutama melalui pembangunan solar dryer dome, berpotensi besar menstabilkan harga komoditas pangan, khususnya cabai merah, di Sumatera Utara. Pembaca akan menemukan bagaimana inisiatif ini bekerja.
Ekonom Universitas Sumatera Utara, Wahyu Ario Pratomo, baru-baru ini mengemukakan pandangannya mengenai Program Jaminan Stabilisasi Harga Komoditas Pangan (Jaskop). Program ini digagas oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dengan tujuan utama menjaga stabilitas harga pangan di wilayah tersebut. Inisiatif ini diharapkan mampu mengatasi fluktuasi harga yang kerap merugikan petani dan konsumen.
Salah satu elemen kunci dari Program Jaskop yang disoroti adalah pembangunan solar dryer dome (SDD) khusus untuk komoditas cabai merah. Fasilitas ini dirancang untuk menampung dan mengolah cabai merah saat panen raya. Tujuannya adalah mencegah anjloknya harga cabai yang sering terjadi akibat melimpahnya pasokan di pasaran lokal.
Pembangunan 10 unit SDD tahap awal direncanakan di dua kabupaten penghasil cabai merah utama, yaitu Batu Bara dan Karo. Setiap unit SDD mampu menampung hingga dua ton cabai merah, dan akan dikelola langsung oleh kelompok tani penerima hibah. Hal ini memberikan solusi konkret bagi petani dalam mengelola hasil panen mereka secara lebih efektif.
Peran Solar Dryer Dome (SDD) dalam Stabilisasi Harga
Wahyu Ario Pratomo secara spesifik menyoroti efektivitas solar dryer dome (SDD) sebagai bagian integral dari Program Jaskop Bobby. Ia menyatakan bahwa fasilitas pengering ini sangat bermanfaat dalam mengantisipasi anjloknya harga cabai merah. Fenomena ini sering terjadi ketika daerah penghasil mengalami panen raya.
"Program ini bagus untuk menstabilkan harga cabai merah. Selama ini, ketika pasokan melimpah harga langsung turun drastis dan merugikan petani," ujar Wahyu. Kehadiran SDD memungkinkan komoditas cabai merah untuk ditampung dan diolah. Dengan demikian, harga jualnya dapat tetap terjaga pada tingkat yang menguntungkan bagi petani.
Fasilitas SDD ini juga akan membantu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam menampung hasil panen petani. Langkah ini krusial agar harga cabai tidak jatuh terlalu rendah di pasaran lokal. Kapasitas penampungan yang mencapai dua ton per unit SDD menunjukkan skala intervensi yang signifikan.
Pembangunan 10 unit SDD di Batu Bara dan Karo, dua sentra produksi cabai merah di Sumut, adalah langkah strategis. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung sektor pertanian dan kesejahteraan petani. Program Jaskop Bobby melalui SDD ini menjadi jawaban atas tantangan volatilitas harga pangan.
Sinergi Jaskop dengan Cold Storage dan Rantai Pasok Pangan
Meskipun SDD efektif saat pasokan melimpah, Wahyu Ario Pratomo juga menekankan pentingnya cold storage atau gudang berpendingin sebagai pelengkap. Ia menilai, cold storage akan sangat dibutuhkan saat pasokan cabai merah justru menurun. Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam menjaga stabilitas harga sepanjang tahun.
"Sebenarnya dua-duanya saling melengkapi. SDD berfungsi saat pasokan melimpah, dan cold storage dibutuhkan saat pasokan menurun," jelas Wahyu. Kombinasi kedua fasilitas ini akan menciptakan sistem manajemen pasokan yang lebih robust. Ini penting untuk menghadapi dinamika pasar komoditas pangan yang seringkali tidak terduga.
Selain Program Jaskop Bobby, Wahyu juga menyoroti inisiatif lain seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Kedua program ini dinilai dapat memperkuat rantai pasok bahan pangan di Sumatera Utara secara keseluruhan. Sinergi antar program menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Koperasi Merah Putih, misalnya, berpotensi menjadi pemasok bahan pangan utama untuk program MBG. Ini mencakup komoditas seperti ayam, telur, beras, dan bawang. Dengan demikian, harga kebutuhan pokok tersebut dapat lebih terkendali dan stabil. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Dampak Ekonomi dan Potensi Pertumbuhan Sumatera Utara
Wahyu Ario Pratomo menggarisbawahi bahwa jika Program Jaskop Bobby dan inisiatif terkait berjalan dengan baik, dampak positifnya akan meluas. Tidak hanya harga pangan yang stabil, tetapi juga akan terjadi penyerapan tenaga kerja yang signifikan. Hal ini akan memperluas dampak ekonomi positif di masyarakat luas.
"Kalau program ini berjalan, tidak hanya harga yang stabil, tapi juga bisa menyerap tenaga kerja dan memperluas dampak ekonomi di masyarakat," tutur Wahyu. Pernyataan ini menegaskan potensi multi-dimensi dari program-program yang digagas pemerintah daerah. Ini mencakup peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Terkait kondisi ekonomi Sumatera Utara secara umum, Wahyu mengungkapkan bahwa pertumbuhan masih cukup baik. Meskipun terjadi sedikit perlambatan, potensi ekonomi wilayah ini dinilai masih sangat besar. Berbagai program pemerintah diharapkan dapat terus mendorong laju pertumbuhan ini secara berkelanjutan.
"Potensi ekonomi kita besar. Kalau bisa dimanfaatkan dan dielaborasi dengan baik, Sumut bisa tumbuh lebih cepat," ungkap Wahyu. Optimisme ini didasarkan pada kekayaan sumber daya dan inisiatif strategis seperti Program Jaskop Bobby. Ini menunjukkan visi untuk menjadikan Sumatera Utara sebagai lokomotif ekonomi regional.
Sumber: AntaraNews