Pemprov Sumut Pastikan Stabilitas Harga Bahan Pokok Jelang Ramadhan 1447 H
Pemerintah Provinsi Sumut menjamin stabilitas harga bahan pokok menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, didukung surplus pangan dan intervensi program Jaskop untuk menjaga ketersediaan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memastikan bahwa kondisi harga bahan pokok di wilayahnya tetap stabil menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Penjaminan ini menjadi kabar baik bagi masyarakat yang akan menyambut momen penting tersebut dengan kebutuhan pangan yang terjaga. Berbagai langkah intervensi strategis telah dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga dan memastikan ketersediaan pasokan di seluruh daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumut, Timur Tumanggor, menjelaskan bahwa upaya menjaga stabilitas ini melibatkan Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditas Pangan (Jaskop). Program ini dirancang khusus untuk mengendalikan fluktuasi harga dan memastikan pasokan pangan tetap aman. Dengan demikian, masyarakat dapat berbelanja kebutuhan pokok tanpa kekhawatiran yang berlebihan.
Kondisi stok pangan di Sumatera Utara saat ini dilaporkan surplus, memberikan keyakinan kuat bahwa harga bahan pokok akan tetap stabil hingga Hari Raya Idul Fitri. "Stok pangan kita sekarang surplus. Sehingga menjelang Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri, kita pastikan kondisinya terjaga dan harga bahan pokok bisa stabil," jelas Timur Tumanggor di Medan, Kamis. Pernyataan ini menegaskan komitmen Pemprov Sumut dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Stok Pangan Surplus dan Program Jaskop Jamin Stabilitas Harga Bahan Pokok Sumut
Sumatera Utara menunjukkan kinerja positif dalam produksi pangan, yang menjadi faktor utama penentu stabilitas harga bahan pokok. Sepanjang tahun lalu, wilayah ini berhasil mencatat surplus beras yang signifikan, dengan produksi mencapai sekitar 2,22 juta ton lebih. Angka ini jauh melampaui kebutuhan beras masyarakat Sumut yang sekitar 1,7 juta ton per tahun, menghasilkan surplus sekitar 520 ribu ton.
Kondisi surplus ini menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu daerah penyuplai beras bagi provinsi lain di Indonesia. "Kondisi ini juga menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu daerah penyuplai beras bagi provinsi lain," tutur Timur. Selain beras, beberapa komoditas pangan lain juga mengalami surplus yang menggembirakan, termasuk cabai merah sebesar 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton, dan cabai rawit 65 ribu ton.
Program Jaskop menjadi instrumen penting dalam mengelola surplus ini dan mencegah gejolak harga. Melalui Jaskop, Pemprov Sumut dapat melakukan intervensi pasar yang diperlukan untuk memastikan harga tetap terkendali. Langkah-langkah ini sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang dan selama periode Ramadhan.
Fluktuasi Harga Cabai dan Intervensi Kawasan Unggulan Pertanian
Meskipun secara umum stok pangan surplus, Timur Tumanggor mengakui bahwa harga cabai merah masih berpotensi mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan sebagian produksi cabai dijual ke provinsi lain dengan harga yang lebih tinggi, menciptakan dinamika pasar yang perlu diwaspadai. "Untuk harga cabai merah, terkadang berfluktuasi karena cabai dijual ke provinsi lain dengan harga yang lebih tinggi. Makanya kita lakukan intervensi saat panen guna menjaga stok dan harga terkendali," katanya.
Untuk mengatasi potensi fluktuasi ini dan menjaga stabilitas harga bahan pokok, Pemprov Sumut melakukan intervensi melalui pengembangan kawasan unggulan tanaman padi. Lima kabupaten/kota di Sumut menjadi fokus pengembangan, antara lain Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Asahan. Di kawasan ini, berbagai dukungan diberikan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.
Sementara itu, kawasan unggulan cabai merah dikembangkan secara khusus di dua kabupaten, yaitu Karo dan Batu Bara. Dukungan yang diberikan mencakup alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta bibit unggul. "Kawasan ini kita intervensi mulai dari alsintan, pupuk, dan juga bibitnya agar produksi kita tetap bisa surplus," ujar Timur. Intervensi ini bertujuan untuk memastikan produksi tetap tinggi dan pasokan terjaga.
Pemulihan Lahan Pascabencana untuk Ketahanan Pangan Sumut
Selain upaya peningkatan produksi, Pemprov Sumut juga sigap dalam menjaga ketahanan pangan melalui pemulihan lahan pascabencana. Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 telah berdampak pada sejumlah lahan pertanian di wilayah tersebut. Pemulihan cepat menjadi prioritas untuk memastikan lahan produktif dapat segera dimanfaatkan kembali.
Berdasarkan data, terdapat 31.123 hektare lahan pertanian di Sumut yang terdampak bencana. Kerusakan ini terbagi menjadi rusak ringan sekitar 22 ribu hektare, rusak sedang 4.500 hektare, dan rusak berat 4.560 hektare. Penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk meminimalkan dampak jangka panjang terhadap produksi pangan.
Sebagai contoh, di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, sebanyak 94 hektare lahan yang rusak akibat bencana telah diintervensi langsung oleh Pemprov Sumut. "Di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, ada 94 hektare lahan rusak, dan langsung kita intervensi. Kita sudah melakukan penanaman kembali dan bibitnya kita berikan," ungkap Timur. Langkah proaktif ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok dan ketahanan pangan secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews