Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas rantai pasok dan harga komoditas pangan di wilayahnya. Inisiatif ini diwujudkan melalui Kios JTAB, sebuah program yang diinisiasi oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jateng Argo Berdikari (JTAB).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan pentingnya keberadaan Kios JTAB di seluruh pasar di 35 kabupaten/kota. Tujuannya adalah memangkas birokrasi terkait bahan pokok penting, sehingga harga dapat lebih terkontrol dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Luthfi menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung Kios JTAB dan berdialog dengan para pedagang di Pasar Legi, Kota Surakarta, pada Rabu (08/10). Intervensi ini diharapkan membawa dampak positif signifikan terhadap perekonomian daerah dan daya beli masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Kios JTAB memiliki fungsi vital dalam menstabilkan harga berbagai komoditas pangan esensial. Komoditas seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan bahan pokok lainnya menjadi fokus utama program ini.
Program ini tidak hanya berfokus pada harga di tingkat konsumen, tetapi juga memberikan jaminan penyerapan hasil panen petani. Dengan demikian, Kios JTAB turut menjaga harga pasar di tingkat petani dan berperan aktif dalam mengendalikan inflasi daerah.
Gubernur Luthfi menjelaskan bahwa Kios JTAB melakukan penetrasi harga untuk mencegah praktik manipulasi oleh tengkulak atau spekulan. Intervensi ini terbukti efektif, seperti pada harga cabai merah yang sebelumnya mendekati Rp40.000 per kilogram, kini berhasil ditekan hingga sekitar Rp26.000 per kilogram.
Advertisement
Menurutnya, harga di tingkat petani saat ini berkisar Rp20.000-Rp25.000, sehingga harga jual di Kios JTAB masih dianggap wajar. Penurunan harga ini diharapkan akan terus berlanjut secara perlahan berkat intervensi yang dilakukan.
Advertisement
Keberadaan Kios JTAB di pasar tradisional terwujud melalui kolaborasi erat antara PT JTAB, pemerintah kabupaten/kota, dan para pedagang lokal. Model kerja sama ini memastikan efektivitas distribusi dan jangkauan yang lebih luas.
Dalam skema kolaborasi ini, pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab untuk menyiapkan kios fisik di pasar. Sementara itu, pasokan bahan pokok utama disediakan langsung oleh PT JTAB, memastikan kualitas dan ketersediaan.
Direktur Utama PT JTAB, Totok Agus Siswanto, menegaskan bahwa tujuan utama Kios JTAB adalah memotong rantai distribusi yang panjang dari petani ke konsumen. Pemotongan rantai ini diharapkan dapat menciptakan pemerataan harga bahan pokok penting di seluruh Jawa Tengah.
Advertisement
Saat ini, Kios JTAB telah hadir di beberapa lokasi seperti Kendal, Ungaran, Salatiga, Boyolali, dan Surakarta. Totok menargetkan bahwa ke depannya, setiap pasar di Jawa Tengah akan memiliki satu Kios JTAB, dengan produk yang mencakup cabai, bawang merah, bawang putih, serta komoditas lain seperti gula dan minyak goreng sesuai harga pasar.
Advertisement
Kehadiran Kios JTAB telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi para pedagang dan konsumen. Di Pasar Legi, Kota Surakarta, misalnya, terdapat dua Kios JTAB yang dikelola oleh Bu Kati dan Bu Tri, yang telah bekerja sama dengan JTAB selama kurang lebih enam bulan.
Para pedagang ini menjual berbagai bahan pokok seperti beras, telur, dan minyak. Mereka merasakan kemudahan dalam mendapatkan pasokan barang dagangan yang stabil dan berkualitas.
Salah satu pedagang, Bu Kati, mengungkapkan keuntungannya. "Mudah untuk mendapatkan bahan. Dari segi harga lebih miring kalau dari JTAB, harga jual juga bisa lebih murah," ujarnya, mengindikasikan bahwa harga beli yang lebih rendah dari JTAB memungkinkan mereka menjual dengan harga yang lebih kompetitif kepada konsumen.
Advertisement
Pengalaman positif dari pedagang ini menunjukkan bahwa Kios JTAB tidak hanya menstabilkan harga, tetapi juga mendukung keberlangsungan usaha pedagang kecil. Pada akhirnya, konsumen juga diuntungkan dengan ketersediaan bahan pokok yang lebih terjangkau dan stabil.
Sumber: AntaraNews