DPRD NTB Usul Pembangunan Gudang Kastorit, Kunci Stabilisasi Harga Bawang Merah di Produsen Ketiga Nasional!
DPRD NTB mengusulkan pembangunan gudang kastorit untuk stabilisasi harga bawang merah. Mengapa fasilitas ini krusial bagi produsen ketiga terbesar di Indonesia?
DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mengusulkan pembangunan gudang penyimpanan berstandar, yang dikenal sebagai kastorit, untuk menjaga stabilitas harga komoditas bawang merah. Inisiatif ini bertujuan untuk melindungi petani dari kerugian akibat fluktuasi harga yang sering terjadi, terutama saat musim panen raya.
Anggota Komisi II DPRD NTB, Hulaemi, dalam keterangannya di Mataram pada Rabu (03/9), menekankan urgensi fasilitas ini. Menurutnya, tanpa kastorit, kualitas bawang merah akan menurun drastis jika hanya disimpan di ruang terbuka, yang pada akhirnya merugikan petani.
Usulan ini muncul mengingat NTB merupakan produsen bawang merah terbesar ketiga secara nasional, setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun belum memiliki fasilitas penyimpanan modern tersebut. Pembangunan gudang kastorit diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Peran Vital Gudang Kastorit dalam Menjaga Kualitas dan Harga Bawang Merah
Pembangunan gudang kastorit menjadi krusial untuk menjaga mutu, berat, dan kualitas bawang merah agar tetap utuh meskipun disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Fasilitas penyimpanan berstandar ini dirancang untuk mengontrol suhu dan kelembaban, sehingga dapat memperpanjang masa simpan komoditas. Tanpa fasilitas seperti ini, bawang merah yang melimpah saat panen raya akan cepat rusak dan kualitasnya menurun, memaksa petani menjual dengan harga rendah.
Hulaemi menyoroti bahwa Nusa Tenggara Barat, sebagai salah satu sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia, masih belum memiliki gudang kastorit yang memadai. Kondisi ini ironis mengingat volume produksi yang tinggi dan kebutuhan akan manajemen pasokan yang efektif untuk mencegah kerugian petani.
DPRD NTB secara aktif mendorong pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran guna pembangunan gudang kastorit. Investasi ini dianggap penting untuk memperkuat ketahanan pangan regional dan menjaga stabilisasi harga di tingkat petani, khususnya ketika pasokan membanjiri pasar saat panen raya. Dengan adanya gudang ini, surplus bawang merah dapat disimpan dan dilepaskan ke pasar secara bertahap, menghindari anjloknya harga.
Dinamika Harga Bawang Merah dan Antisipasi Gejolak Pasar
Harga bawang merah di Nusa Tenggara Barat menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan laporan Dinas Perdagangan NTB, pada 3 September 2025, harga rata-rata bawang merah mencapai Rp34.400 per kilogram. Namun, hanya dua pekan sebelumnya, tepatnya pada 15 Agustus 2025, harga rata-rata masih berada di angka Rp43.267 per kilogram, menunjukkan penurunan yang cukup tajam.
Penurunan harga ini sebagian besar disebabkan oleh melimpahnya produksi bawang merah saat musim kemarau. Hulaemi menjelaskan bahwa jika harga bawang merah berada di bawah Rp15 ribu per kilogram, petani pasti akan mengalami kerugian besar. Saat ini, harga Rp25 ribu masih dianggap cukup baik, namun perlu skema antisipasi untuk gejolak harga di masa depan.
Selain itu, Hulaemi juga memperingatkan potensi kelangkaan dan lonjakan harga pada awal tahun 2026 jika tidak ada pengendalian pasokan sejak dini. Musim hujan seringkali menyebabkan penurunan produksi bawang merah akibat serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, penting untuk menyisihkan sebagian surplus saat ini untuk memenuhi kebutuhan di bulan Desember dan Januari, demi menjaga stabilisasi harga.
Tantangan Produksi dan Potensi Pasar Bawang Merah NTB
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi bawang merah di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2024 mencapai 1,59 juta kuintal. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2023 yang mencatat produksi sebesar 2,12 juta kuintal. Penurunan produksi ini sebagian besar dipengaruhi oleh fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina yang berdampak pada pola curah hujan.
Meskipun menghadapi tantangan produksi, bawang merah dari Nusa Tenggara Barat dikenal memiliki kualitas yang baik dan diminati oleh konsumen di luar wilayah. Ketika pasokan bawang merah tidak terserap sepenuhnya di pasar lokal, pengusaha memiliki opsi untuk menjualnya ke daerah lain di Indonesia bahkan ke negara lain. Potensi pasar yang luas ini menjadi nilai tambah bagi petani NTB.
Oleh karena itu, manajemen pasokan melalui pembangunan gudang kastorit menjadi semakin relevan. Dengan kemampuan menyimpan bawang merah dalam kondisi optimal, NTB dapat memastikan ketersediaan pasokan yang stabil sepanjang tahun, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, sekaligus menjaga stabilisasi harga dan kesejahteraan petani.
Sumber: AntaraNews