Tahukah Anda? 23 Provinsi Alami Deflasi Beras, Mentan Ungkap Kunci Sinergi Lintas Sektor
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan deflasi beras terjadi di 23 provinsi berkat sinergi lintas sektor. Penurunan harga ini berhasil meredam inflasi nasional dan menjaga stabilitas harga pangan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengumumkan kabar baik terkait stabilitas harga pangan nasional. Ia menegaskan bahwa deflasi beras telah terjadi di 23 provinsi di Indonesia, sebuah pencapaian signifikan yang diklaim berkat sinergi lintas sektoral yang kuat.
Menurut Mentan Amran, keberhasilan ini tidak lepas dari pengawalan harga yang ketat di setiap kabupaten, dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga daya beli masyarakat. "Tujuan kita menurunkan harga supaya masyarakat bahagia, dan itu sudah tercapai," kata Amran.
Pernyataan ini disampaikan Amran setelah menyimak laporan Badan Pusat Statistik (BPS) secara virtual di Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Serpong, Tangerang, Banten, pada Senin (04/11). Capaian deflasi beras ini diharapkan dapat terus berlanjut demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Sinergi Lintas Sektor Jaga Stabilitas Harga Pangan
Untuk memastikan stabilitas harga beras tetap terjaga, Kementerian Pertanian telah membentuk tim pengawal harga di setiap kabupaten. Tim ini merupakan kolaborasi dari berbagai instansi, termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Perum Bulog, serta aparat penegak hukum.
Tugas utama tim ini adalah melakukan operasi pasar secara berkelanjutan, terutama di daerah-daerah yang harga berasnya masih berada di atas rata-rata nasional. Amran menegaskan, "Operasi pasar tidak akan berhenti, bahkan saat panen raya nanti kita akan salurkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke daerah-daerah pegunungan yang bukan sentra produksi."
Dengan berbagai kebijakan strategis dan kerja sama yang solid antar sektor, Mentan Amran Sulaiman menyatakan optimisme tinggi. Ia yakin bahwa sektor pertanian Indonesia sedang berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan. Keberhasilan menjaga harga beras ini adalah hasil kerja keras bersama.
Amran menekankan bahwa pencapaian ini adalah keberhasilan kolektif seluruh elemen bangsa, bukan hanya Kementerian Pertanian. "Ini adalah keberhasilan kita semua, bukan hanya Kementerian Pertanian, tapi seluruh anak bangsa. Dari Presiden, petani, hingga wartawan yang terus mengawal," imbuhnya, menunjukkan pentingnya peran semua pihak dalam menjaga stabilitas pangan.
Data BPS Konfirmasi Penurunan Harga Beras Signifikan
Badan Pusat Statistik (BPS) turut mengonfirmasi fenomena deflasi beras ini. Pada Oktober 2025, BPS mencatat bahwa secara umum terjadi inflasi sebesar 0,28 persen, namun komoditas beras justru mengalami deflasi sebesar 0,27 persen (month-to-month). Kondisi ini menandai perubahan signifikan dari tren dua tahun sebelumnya, di mana beras selalu mengalami inflasi pada bulan Oktober 2022 dan 2023.
Deflasi pada Oktober 2025 tercatat lebih dalam dibandingkan September 2025, yang mengindikasikan penurunan harga yang semakin signifikan di berbagai wilayah. Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan, "Terjadi deflasi beras pada Oktober 2025 lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya."
Secara nasional, data menunjukkan bahwa sebanyak 23 provinsi mengalami deflasi beras, sementara tiga provinsi mencatat harga yang relatif stabil. Namun, 12 provinsi lainnya masih mengalami inflasi beras, menunjukkan bahwa upaya stabilisasi harga masih perlu terus dilakukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Penurunan Harga Beras di Berbagai Tingkatan
Penurunan harga tidak hanya terjadi di tingkat konsumen, tetapi juga di tingkat produsen. Rata-rata harga beras di penggilingan pada Oktober 2025 secara total turun 0,54 persen dari bulan sebelumnya. Jika dipilah berdasarkan kualitas, beras premium mengalami penurunan 0,71 persen, sedangkan beras medium turun 0,46 persen dari bulan sebelumnya.
Pudji Ismartini dari BPS lebih lanjut memaparkan bahwa deflasi ini juga merambah ke tingkat grosir dan eceran. "Beras di tingkat grosir deflasi sebesar 0,18 persen, dan di tingkat eceran 0,27 persen secara month-to-month," ujarnya, menunjukkan bahwa penurunan harga beras terjadi secara komprehensif di seluruh rantai pasok.
Harga beras yang disebutkan merupakan rata-rata dari berbagai jenis kualitas dan mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Penurunan harga beras yang meluas di sebagian besar provinsi ini menjadi faktor krusial dalam meredam tekanan inflasi nasional, terutama menjelang akhir tahun.
Selain beras, beberapa komoditas lain dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga turut menyumbang deflasi pada Oktober 2025. Bawang merah dan cabai rawit masing-masing menyumbang deflasi 0,03 persen, tomat sebesar 0,02 persen, dan beras sendiri menyumbang 0,01 persen terhadap deflasi keseluruhan.
Sumber: AntaraNews