Selalu Sakit Perut Jelang Wawancara atau Ujian? Bisa Jadi IBS, Ini Penjelasannya
Kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup karena sering kali dipicu oleh stres.
Sindrom iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) memengaruhi sekitar 1,4 juta orang di Korea Selatan, dengan banyak penderita mengalami gejala saat menghadapi situasi penuh tekanan seperti wawancara kerja atau ujian, menurut data Layanan Penilaian dan Tinjauan Asuransi Kesehatan Korea.
IBS merupakan gangguan pencernaan fungsional kronis yang ditandai dengan kram perut, diare, sembelit, atau kombinasi keduanya. Meskipun tidak membahayakan jiwa, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup karena sering kali dipicu oleh stres, makanan tertentu, dan perubahan lingkungan.
“Bahkan setelah saya menghindari makanan yang memicu gejala, sakit perut selalu muncul menjelang wawancara,” kata Kim (28), seorang pencari kerja di Seoul. “Dokter mengatakan ini akibat gugup, tapi tidak semudah itu.”
Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Nature (2021) sistem imun juga berperan dalam IBS. Sel imun terkadang keliru menganggap partikel makanan sebagai ancaman, memicu pelepasan histamin yang mengiritasi usus dan menyebabkan gejala seperti kembung, nyeri, serta diare.
Hari Kesehatan Pencernaan Sedunia yang diperingati setiap 29 Mei menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi ini. IBS berbeda dengan penyakit radang usus seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif, yang biasanya disertai penurunan berat badan dan kekurangan gizi.
“IBS tidak menyebabkan peradangan seperti Crohn,” jelas Cha Jae-myung, gastroenterolog dari RS Universitas Kyung Hee. “Diagnosis yang tepat sangat penting dan memerlukan endoskopi, tes darah, serta pemeriksaan tinja.”
Studi dari Fakultas Kedokteran Universitas Missouri (2023) menunjukkan bahwa 38 persen penderita IBS juga mengalami gangguan kecemasan, dan 27 persen mengalami depresi. Keterkaitan ini membentuk lingkaran setan antara stres psikologis dan gangguan pencernaan.
Meski belum ada obat pasti, IBS dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan pola makan. Diet rendah FODMAP yang membatasi gula fermentasi seperti fruktosa, laktosa, dan poliol terbukti efektif. Studi Universitas Gothenburg (2023) menemukan bahwa 76 persen pasien IBS mengalami perbaikan gejala setelah mengikuti diet ini.
Namun, pola makan tinggi lemak juga perlu diwaspadai. “Lemak tinggi merangsang empedu dan mempercepat pergerakan usus, yang bisa memperburuk diare,” kata Shin Seung-yong, profesor di RS Universitas Chung-Ang. Ia menekankan bahwa pengelolaan IBS memerlukan pendekatan bertahap dan berkelanjutan.