Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan kondisi autoimun yang menyerang sistem pencernaan, ditandai dengan peradangan berulang pada usus kecil dan besar. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang elemen pencernaannya sendiri, dipicu oleh respons imun abnormal terhadap mikroflora usus.
Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Jumat (12/9), dr. Amanda Pitarini Utari, Sp.PD-KGEH, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroentero-Hepatologi dari Universitas Indonesia, menjelaskan berbagai opsi pengobatan dan langkah pencegahan IBD. Beliau menekankan perlunya pendekatan multidisiplin karena tingkat kesulitan penyakit ini bervariasi.
Informasi ini sangat penting mengingat IBD sering didiagnosis pada usia dewasa muda, yang berpotensi memengaruhi produktivitas kerja. Para dokter mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala IBD dan tidak menunda pemeriksaan ke tenaga medis yang tepat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Advertisement
Advertisement
Penanganan penyakit radang usus memerlukan pendekatan yang komprehensif dan seringkali multidisiplin. Dr. Amanda Pitarini Utari menjelaskan bahwa tata laksana umumnya melibatkan terapi obat, baik dalam bentuk tablet maupun injeksi, untuk mengendalikan peradangan.
Namun, pada beberapa kasus yang lebih parah, tindakan operasi atau pembedahan mungkin diperlukan. Bahkan, kombinasi obat-obatan dan pembedahan bisa menjadi pilihan terbaik untuk mengatasi kondisi yang kompleks. Pasien IBD juga direkomendasikan untuk menerima beberapa jenis vaksinasi sebagai upaya pencegahan infeksi.
IBD yang telah kronis mungkin memerlukan pembedahan untuk mengangkat bagian saluran pencernaan yang rusak. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan yang paling sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahan penyakitnya.
Advertisement
Advertisement
Meskipun ada berbagai pilihan pengobatan, pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi penyakit radang usus. Dr. Amanda menyarankan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat sedini mungkin sebagai strategi jangka panjang mengurangi risiko IBD.
Faktor risiko genetik memiliki peran yang kuat dalam perkembangan IBD. “Faktor risiko genetik memang kuat, ada studi menunjukkan bahwa 5–20 persen orang dengan IBD memiliki salah satu anggota keluarga tingkat pertama yang juga mengidap penyakit ini,” ujar dr. Amanda.
Gaya hidup sehat yang dianjurkan meliputi peningkatan asupan serat pangan, konsumsi buah, sayur, dan whole grains, serta mengurangi makanan olahan (ultra processed food). Selain itu, rutin berolahraga juga sangat penting untuk menjaga kesehatan pencernaan. “Pencegahan dini ini memang bukan jaminan absolut, tetapi kombinasi strategi ini memberi harapan untuk menunda atau menurunkan risiko munculnya IBD,” tambahnya.
Advertisement
Advertisement
Dr. Indra Marki, Sp.PD, KGEH, FINASIM, turut menekankan bahaya jika IBD tidak ditangani secara tepat. Ia menjelaskan bahwa risiko tidak hanya terbatas pada meluasnya peradangan, tetapi juga munculnya berbagai komplikasi serius yang berpotensi mengancam nyawa.
Komplikasi yang mungkin timbul antara lain:
- Kanker kolon dan polip kolon: Peningkatan risiko terkena kanker pada usus besar.
- Striktur kolon: Penyempitan usus besar yang menghambat keluarnya feses, menyebabkan gejala seperti sembelit, sakit perut, dan kembung.
- Toxic megacolon: Sebagian atau seluruh usus besar melebar secara abnormal akibat peradangan parah, yang dapat menyebabkan infeksi sistemik.
- Fistula ani: Saluran abnormal yang terbentuk dari dalam anus ke kulit di luarnya.
Advertisement
Selain itu, IBD juga bisa menyebabkan manifestasi extraintestinal, yaitu komplikasi di luar sistem pencernaan. Contohnya termasuk sariawan kronis, plak dan luka pada kulit, gangguan sendi, radang selaput mata, hingga radang pembuluh darah. Tanpa penanganan yang konsisten, keluhan awal IBD yang mungkin tampak ringan dapat berkembang progresif dan berbahaya.
Advertisement
Penyakit radang usus adalah sekelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar. Dr. Paulus Simadibrata, Sp.PD, menjelaskan bahwa elemen sistem pencernaan diserang oleh sistem kekebalan tubuh sendiri, menyebabkan episode peradangan saluran cerna berulang.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan IBD adalah kesulitan masyarakat dalam membedakan diare biasa dengan diare yang menandakan radang usus. Gejala awal IBD seringkali dapat disalahartikan, menunda diagnosis dan penanganan yang tepat.
IBD umumnya didiagnosis pada usia dewasa muda, yang kemudian dapat berdampak signifikan pada produktivitas kerja dan kualitas hidup. Oleh karena itu, edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai gejala IBD sangat krusial untuk deteksi dini dan intervensi medis yang efektif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews