Rektor Unair Dukung Perguruan Tinggi Kelola Tambang, Ini Alasannya
Hambatan geografis dan logistik menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi.
Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof. Dr. Mohammad Nasih, menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah yang akan memberikan izin konsesi tambang kepada institusi pendidikan tinggi.
Namun, dia menegaskan pentingnya mempertimbangkan berbagai aspek secara mendalam sebelum kebijakan tersebut diimplementasikan.
"Jika niatan baik ini benar-benar direalisasikan, tentu dengan berbagai syarat yang jelas, kami akan menyambutnya dengan baik," ungkap Nasih di Surabaya, seperti yang dikutip dari ANTARA, Selasa (28/1).
Tantangan Bisnis Tambang bagi Perguruan Tinggi
Nasih menjelaskan bahwa mengelola bisnis tambang bukanlah hal yang mudah, terutama jika lokasi tambang terletak di daerah yang terpencil.
Hambatan geografis dan logistik menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi.
"Bisnis tambang tidak serta-merta memberikan keuntungan dalam waktu singkat. Biasanya diperlukan waktu 3-4 tahun untuk mencapai profit, itupun dengan asumsi kondisi tambang masih dalam keadaan normal," jelasnya.
Dia juga menyoroti bahwa beberapa konsesi tambang yang sebelumnya diberikan kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah tambang bekas yang telah ditinggalkan oleh pengelola sebelumnya.
Kondisi ini, menurut Nasih, memerlukan identifikasi yang mendalam terkait potensi tambang yang tersisa serta langkah-langkah konservasi yang perlu dilakukan.
"Harus dipastikan, apakah tambang tersebut masih memiliki cadangan yang layak atau tidak. Jika tambang berada di lokasi yang sulit dijangkau atau memerlukan penggalian dalam, investasi yang dibutuhkan tentu sangat besar," tambah Rektor Unair Surabaya tersebut.
Nasih menekankan bahwa pengelolaan tambang yang dilakukan oleh perguruan tinggi memerlukan investasi yang cukup besar. Oleh karena itu, sangat penting bagi perguruan tinggi untuk melakukan analisis ekonomi yang mendalam guna menilai kelayakan dari usaha tambang tersebut.
"Perlu dihitung apakah investasi yang dikeluarkan sepadan dengan hasilnya. Jika tidak menguntungkan, maka perguruan tinggi harus berpikir ulang. Namun, jika hasilnya menjanjikan, tentu ini menjadi peluang besar yang patut dimanfaatkan," ujarnya.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memutuskan untuk terjun ke dalam pengelolaan tambang.
Analisis yang cermat akan membantu mereka memahami risiko dan potensi keuntungan yang ada. Dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat mengambil keputusan yang lebih bijak mengenai investasi yang akan dilakukan.
Tambang dapat menjadi sumber pendanaan tambahan bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
Nasih menyatakan bahwa jika izin tambang ini dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi perguruan tinggi, terutama dalam mengurangi beban keuangan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), maka kebijakan tersebut akan diterima dengan baik. Namun, keberhasilan ini tetap bergantung pada kesiapan dan analisis yang teliti.
"Jika hasil identifikasi menunjukkan potensi manfaat yang besar, tentu perguruan tinggi akan dengan senang hati menerima peluang ini," tutupnya.