Prospek Ekspor Indonesia Semester II 2026 Dibayangi Tarif AS dan Tekanan Komoditas
Ekonom CORE Indonesia menilai Prospek Ekspor Indonesia semester II 2026 dibayangi tarif AS dan tekanan komoditas global, memicu kekhawatiran terhadap kinerja perdagangan nasional.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan prospek ekspor Indonesia pada semester II 2026 akan dibayangi oleh sejumlah tantangan signifikan. Tantangan ini meliputi dampak kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat hingga tekanan harga komoditas global yang masih berlanjut.
Yusuf menjelaskan bahwa dampak penuh dari kebijakan tarif impor AS diperkirakan baru akan terasa pada paruh kedua tahun ini. Hal ini disebabkan oleh penyesuaian pesanan dari importir yang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk beradaptasi dengan perubahan regulasi tersebut.
Selain itu, Indonesia juga perlu mewaspadai risiko pengalihan pesanan ekspor ke negara-negara pesaing seperti Vietnam dan Meksiko. Kedua negara tersebut dinilai memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar Amerika, berpotensi mengurangi pangsa pasar ekspor Indonesia.
Tantangan Ekspor di Tengah Kebijakan Tarif AS
Kebijakan tarif universal sebesar 10 persen yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap ekspor Indonesia menjadi perhatian utama, memengaruhi Prospek Ekspor Indonesia secara signifikan. Tarif ini berlaku selama 150 hari hingga 24 Juli 2026, menggantikan kebijakan tarif resiprokal sebelumnya yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag), terus melakukan pendekatan dan negosiasi intensif dengan AS. Tujuannya adalah untuk memperoleh tarif yang lebih kompetitif, bahkan mendorong agar sejumlah komoditas unggulan Indonesia bisa mendapatkan tarif 0 persen.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa selain tarif, tekanan harga komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) juga masih menghadapi siklus penurunan. Pemulihan permintaan logam industri dari China pun berjalan lebih lambat dari perkiraan, menambah daftar tantangan bagi Prospek Ekspor Indonesia.
Kondisi ini menciptakan bayang-bayang ketidakpastian bagi pelaku usaha ekspor di Indonesia, mempengaruhi Prospek Ekspor Indonesia. Mereka perlu merancang strategi adaptasi untuk menjaga daya saing produk di pasar global yang semakin kompetitif dan penuh regulasi baru.
Penopang Kinerja Ekspor dan Potensi Pertumbuhan
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Yusuf Rendy Manilet tetap melihat adanya faktor penopang yang dapat menjaga kinerja ekspor Indonesia. Salah satunya adalah pertumbuhan ekspor nonmigas ke China yang masih positif, memberikan harapan bagi Prospek Ekspor Indonesia.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat tumbuh 17,7 persen secara tahunan. Angka ini menjadi bantalan penting yang mampu menahan pelemahan permintaan di pasar lainnya, memberikan stabilitas pada kinerja perdagangan.
Selain itu, permintaan terhadap produk turunan nikel juga dinilai masih terjaga di pasar global. Selama permintaan ini tetap kuat, peluang pertumbuhan ekspor Indonesia dinilai masih terbuka lebar, terutama bagi sektor industri hilirisasi.
"Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah apabila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran," ujar Yusuf. Prediksi ini menyoroti pentingnya diplomasi perdagangan dalam menentukan arah Prospek Ekspor Indonesia.
Kontraksi Ekspor Nonmigas dan Sektor Terdampak
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 mencapai 22,45 miliar dolar AS, memberikan gambaran terkini Prospek Ekspor Indonesia. Angka ini menunjukkan kontraksi sebesar 4,5 persen dibandingkan dengan Mei 2025, mengindikasikan adanya perlambatan kinerja ekspor.
Kontraksi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan ekspor pada beberapa komoditas kunci. Komoditas yang mengalami penurunan signifikan antara lain logam mulia dan perhiasan atau permata, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja.
Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas masih didominasi oleh industri pengolahan dengan nilai 19,05 miliar dolar AS. Meskipun demikian, sektor ini juga mengalami kontraksi sebesar 3,59 persen secara tahunan, menunjukkan adanya tekanan di berbagai lini industri.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan ekspor sebesar 20,43 persen menjadi 500 juta dolar AS. Sementara itu, ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga turun 7,03 persen menjadi 2,89 miliar dolar AS, menambah daftar sektor yang terdampak perlambatan ekspor.
Sumber: AntaraNews