Prabowo Resmikan Danantara, Rupiah Ditutup Menguat Rp16.278 per USD
Mata uang Rupiah ditutup menguat 35 poin ke level Rp16.278.
Mata uang Rupiah ditutup menguat 35 poin ke level Rp16.278 per Dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin (24/2) sore ini. Sedangkan untuk perdagangan Selasa besok, mata uang rupiah diperkirakan ditutup melemah direntang Rp16.260 sampai Rp16.330 per USD.
Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan nilai tukar Rupiah ini dipengaruhi oleh kebijakan Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Daya Anagata Nusantara atau Danantara pada Senin (24/2).
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut modal awal Danantara berasal dari hasil efisiensi anggaran senilai Rp300 triliun atau sekitar USD 20 miliar. Sebelumnya, pasar khawatir uang operasional Danantara berasal dari uang simpanan tabungan masyarakat di bank BUMN.
"Disiplin keuangan yang dimaksud adalah efisiensi anggaran di berbagai bidang yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo," ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (24/2).
Prabowo menjabarkan bahwa dana tersebut akan dialokasikan untuk investasi sekitar 20 proyek strategis nasional sebagai bagian dari industrialisasi dan hilirisasi Indonesia.
Gelombang pertama investasi Danantara akan difokuskan kepada proyek-proyek hilirisasi mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga, selain proyek lain seperti pembangunan pusat data, kecerdasan buatan, kilang minyak hingga energi terbarukan.
Dari sisi eksternal, penguatan mata uang Garuda ditopang oleh potensi pelemahan ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina.
Ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memulai pembicaraan dengan Rusia untuk mengakhiri perang tetapi tanpa mengundang Ukraina atau Uni Eropa ke meja perundingan.
"Seorang diplomat senior Rusia mengatakan tim Rusia dan AS berencana untuk bertemu minggu ini untuk membahas peningkatan hubungan," ujar Ibrahim.
Di Timur Tengah, seorang pejabat Hamas mengatakan pembicaraan dengan Israel melalui mediator mengenai langkah selanjutnya dalam perjanjian gencatan senjata bersyarat pada pembebasan tahanan Palestina sesuai kesepakatan.
Israel dan Hamas sering menuduh satu sama lain melakukan pelanggaran sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari, tetapi sejauh ini gencatan senjata terus berlanjut. Hal ini memberikan diyakini memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan global.