Pesan Bos JP Morgan, Kuliah di Ivy League Tak Jamin Bisa Kerja
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika melaporkan bahwa daya kerja lulusan menurun.
CEO JP Morgan, Jamie Dimon, menegaskan lulusan dari kampus "Ivy League" tak menjamin dapat berkecimpung di dunia kerja dengan baik. Dia bahkan mengaku bank terbesar di Amerika yang dia pimpin sangat terbuka menerima calon pekerja meski memiliki catatan kriminal.
Sebagai informasi, Ivy League adalah kelompok yang terdiri dari delapan perguruan tinggi dan universitas swasta bergengsi di Amerika Serikat, yang dikenal karena keunggulan akademisnya, sejarahnya yang kaya, dan proses penerimaan yang ketat.
Universitas yang menjadi anggotanya adalah Brown University, Columbia University, Cornell University, Dartmouth College, Harvard University, University of Pennsylvania, Princeton University, dan Yale University.
"Ada 70 juta mantan narapidana di AS dan banyak dari mereka, tidak bisa mendapatkan mobil, tidak bisa mendapatkan rumah. Banyak dari mereka sudah menikah, mereka tidak ingin kembali, mereka butuh bantuan, mereka butuh keterampilan, jadi apa yang harus Anda lakukan?" ujar Dimon dilansir dari Fortune, Selasa (16/7).
Data dari JP Morgan, bank tersebut secara aktif menemukan talenta-talenta baru. Pada tahun 2023, sekitar 9 persen dari perekrutan JP di Amerika yang memiliki catatan kriminal ringan sebelumnya, tidak memengaruhi jabatan mereka. Tahun sebelumnya, raksasa perbankan tersebut mempekerjakan lebih dari 4.600 orang dengan latar belakang kriminal.
"Saya tidak berpikir karena Anda bersekolah di sekolah Ivy League atau memiliki nilai bagus, berarti Anda akan menjadi pekerja hebat, orang hebat, atau semacamnya. Jika Anda melihat keterampilan orang, sungguh menakjubkan betapa terampilnya orang dalam sesuatu, tetapi itu tidak terlihat di resume mereka," ucap Dimon.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, sekitar 61 persen lulusan sekolah menengah mendaftar di perguruan tinggi atau universitas—jumlah yang cukup standar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, biro tersebut melaporkan bahwa daya kerja lulusan menurun: di antara mereka yang berusia 20 hingga 29 tahun yang memperoleh gelar sarjana pada tahun 2023, 70 persen memperoleh pekerjaan—turun dari 76,4 persen.
Menurut edisi pertama Laporan Jobber's Blue-Collar , di mana platform manajemen bisnis tersebut mensurvei 1.000 orang berusia 18 hingga 20 tahun di Amerika.
Sebanyak 75 persen responden mengatakan mereka tertarik untuk menjajaki sekolah kejuruan yang menawarkan pelatihan berbayar di tempat kerja.
Dimon mengatakan sekolah harus mengkaji ulang kurikulum mereka.
"Jika Anda ingin membantu masyarakat dan membantu diri Anda sendiri, berikan anak-anak ini di kelas sepuluh, sebelas, dua belas, keterampilan yang dapat memberi mereka pekerjaan yang baik,"
pungkasnya.