Terlalu Pintar, Miliarder Startup Ini Ditolak 15 Universitas Bergengsi Amerika
Ia mulai memprogram di usia tujuh tahun, mengajar orang lain dengan bayaran USD30 per jam pada usia 10 tahun
Zach Yadegari, CEO dan pendiri Cal AI, perusahaan startup yang berkembang pesat di sektor perawatan kesehatan berbasis kecerdasan buatan, mengungkapkan perjalanan menariknya yang dimulai dari penolakan oleh sejumlah universitas bergengsi hingga meraih kesuksesan luar biasa dalam dunia bisnis.
Di usia yang masih sangat muda, 18 tahun, Yadegari telah memimpin Cal AI, aplikasi pelacak nutrisi yang memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis gambar makanan dan memantau asupan kalori penggunanya.
Di bawah kepemimpinannya, aplikasi ini telah mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, dengan pendapatan tahunan berulang sebesar USD30 juta dan lebih dari satu juta unduhan.
Namun, meskipun sukses besar dalam dunia startup, Yadegari menghadapi kenyataan pahit dalam dunia pendidikan.
Dengan IPK sempurna 4,0 dan skor ACT yang sangat mengesankan 34 dari 36, dia tetap ditolak oleh beberapa universitas paling bergengsi di dunia, termasuk enam sekolah Ivy League, seperti Harvard, Yale, Princeton, Columbia, Brown, dan Cornell, serta universitas terkemuka lainnya seperti Stanford dan MIT.
Pada tanggal 1 April 2024, Yadegari membagikan pengalaman ini secara terbuka melalui akun X miliknya. Dalam unggahannya, ia mencantumkan 18 universitas yang ia lamar, dan mengungkapkan bahwa ia hanya diterima di tiga universitas: Institut Teknologi Georgia, Universitas Texas, dan Universitas Miami. Ke-15 universitas yang menolaknya termasuk universitas-universitas ternama, dan postingan tersebut langsung menarik perhatian lebih dari 27,3 juta orang.
Tidak hanya membagikan pengalamannya, Yadegari juga membagikan esai penerimaan kuliahnya. Dalam esai tersebut, ia mengungkapkan perjalanan awalnya dalam dunia teknologi.
Ia mulai memprogram di usia tujuh tahun, mengajar orang lain dengan bayaran USD30 per jam pada usia 10 tahun, dan meluncurkan aplikasi pertamanya pada usia 12 tahun. Pada usia 16 tahun, ia meninggalkan perusahaan game daring untuk fokus pada Cal AI.
Tetap Mengutamakan Pendidikan Jenjang Tinggi
Meskipun awalnya menolak untuk melanjutkan pendidikan tinggi, Yadegari akhirnya menyadari pentingnya kuliah sebagai cara untuk memperkaya pengalaman dan keterampilannya. Dalam esainya, ia mengungkapkan bahwa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang berinteraksi dengan manusia—baik profesor maupun mahasiswa—dan belajar dari mereka.
"Saya menyadari bahwa kuliah bukan sekadar hak untuk lulus. Kuliah adalah sarana untuk meningkatkan pekerjaan yang selama ini saya lakukan," tulisnya. "Saya ingin berkontribusi dan tumbuh dalam komunitas yang lebih besar, memberdayakan saya untuk memberikan dampak positif yang lebih besar pada dunia."
Meskipun menghadapi penolakan, Yadegari tetap optimis. Georgia Tech, salah satu universitas yang menerima dirinya, dikenal dengan program-program teknik dan teknologi yang sangat kuat. Begitu pula dengan University of Miami, yang menawarkan berbagai peluang menjanjikan di bidang lainnya.
Kesuksesan Yadegari menjadi bukti bahwa jalur akademis tradisional bukan satu-satunya cara menuju kesuksesan. Dalam dunia yang semakin dipengaruhi oleh teknologi dan inovasi, kisahnya menginspirasi banyak orang untuk melihat bahwa jalan menuju keberhasilan bisa berbeda-beda, tergantung pada pilihan dan keberanian untuk mengikuti passion dan tujuan pribadi.