Profil Lucy Guo Wanita Cantik Berharta Rp16 Triliun Mendadak Terkenal Gara-Gara Moto Hidupnya ‘Nyeleneh’
Guo pernah di-bully semasa kecil. Belum lagi keluarganya hidup miskin di perantauan AS.
Lucy Guo lahir dari orang tua imigran Tiongkok dan dibesarkan di kawasan San Francisco Bay Area. Kedua orang tuanya, yang bekerja sebagai insinyur listrik, kehilangan pekerjaan sejak ia masih kecil, memaksa keluarganya untuk hidup hemat.
"Aku di-bully di sekolah karena miskin. Jadi aku berpikir, oke, aku harus cari uang," kata Guo kepada Business Insider.
Ia mulai mencari cara untuk menghasilkan uang sejak usia dini. Ia menjual kartu Pokémon dan pensil warna, bahkan memotong rumput demi uang tunai.
Ketika orang tuanya mencoba mendisiplinkannya dengan menyita uang hasil jerih payahnya, ia pun beralih ke dunia maya.
"Akhirnya aku pergi ke internet di mana mereka tidak bisa menyentuh danaku," kenangnya.
Ia belajar coding secara otodidak dan menghabiskan waktu berjam-jam sendirian di depan komputer. Salah satu kesuksesan awalnya datang dari gim virtual peliharaan Neopets, di mana ia menggunakan bot untuk mendapatkan keuntungan dalam permainan dan menjual akun yang sudah ditingkatkan seharga ribuan dolar.
Saat lulus SMA, ia sudah menghasilkan pendapatan lima digit dengan mengembangkan bot, termasuk bot Twitter awal, dan membangun situs pemasaran digital.
Ia kemudian belajar ilmu komputer dan interaksi manusia-komputer di Carnegie Mellon University, sambil terus coding dan ikut kompetisi hackathon. Namun pendidikan formal gagal menarik minatnya.
Guo keluar dari kampus setelah mendapat tempat dalam program prestisius Thiel Fellowship, yang memberikan dana USD100.000 kepada wirausahawan muda yang meninggalkan bangku kuliah untuk meluncurkan startup.
Ia sempat magang di Facebook dan Snapchat sebelum bergabung dengan Quora, platform diskusi tanya-jawab, tempat ia bertemu Alexandr Wang.
"Alex dan aku selalu membicarakan soal membangun perusahaan," ujarnya dikutip VNExpress, Rabu (6/8).
Pada 2016, keduanya mendirikan Scale AI setelah mendapat saran dari teman sekamar di Y Combinator tentang membuat "API untuk manusia." "Saat dia bilang itu, aku langsung berpikir, itu ide yang sangat kontroversial," kenang Guo. "Itu ide yang brilian."
Scale AI menemukan ceruk di industri kecerdasan buatan dengan melakukan pekerjaan yang oleh Wang disebut sebagai “picks and shovels”—pekerjaan mendasar seperti memberi label pada data untuk melatih AI.
Berawal dari hanya segelintir karyawan dan membayar murah para pekerja kontrak, perusahaan ini menjadi bagian penting dari ledakan industri AI.
Kliennya berkembang hingga mencakup pemerintah AS, yang menggunakan teknologi Scale untuk menganalisis citra satelit di Ukraina, serta OpenAI, yang mengandalkan layanannya untuk melatih ChatGPT, menurut laporan Forbes.
Guo meraih USD5 juta pertamanya lewat putaran pendanaan seri B Scale AI.
"Aku melakukan sedikit penjualan saham sekunder dan menginvestasikannya, sejujurnya cukup baik, dan itu berkembang jadi lebih banyak uang," ujarnya.
Saat Wang menjabat CEO dan Guo memimpin operasi serta desain produk, pertumbuhan pesat Scale membawa mereka masuk dalam daftar Forbes Under 30 pada 2018.
Namun pada tahun yang sama, dilaporkan terjadi perselisihan soal arah perusahaan yang membuat Wang memecat Guo.
"Kami punya perbedaan pandangan, tapi aku bangga dengan apa yang sudah dicapai Scale AI," ujar Guo.
Ia tetap memegang sekitar 5 persen saham di Scale, yang nilainya melonjak seiring valuasi perusahaan mencapai USD25 miliar pada 2025.
Saham tersebut mendorong kekayaan bersihnya melampaui USD1 miliar atau setara Rp16 Triliun, menjadikannya, pada usia 30, dan Wang, 28, sebagai miliarder perempuan dan laki-laki termuda yang merintis sendiri kekayaannya.
Pada 2019, Guo bergerak cepat dengan mendirikan Backend Capital, perusahaan modal ventura yang berinvestasi di startup teknologi. Ia juga menanamkan dana di platform pembayaran digital Ramp pada 2020, yang kini bernilai USD13 miliar. Namun ambisi utamanya adalah membangun kerajaan sendiri.
Pada 2022, ia meluncurkan Passes, platform yang diklaim sebagai alternatif aman dari Patreon dan OnlyFans, memungkinkan kreator dan selebritas terhubung dengan penggemar melalui obrolan dan video berbayar, menurut majalah The Cut.
Antara 2022 hingga 2024, Guo menggalang dana sebesar USD50 juta dari tiga putaran pendanaan yang menilai perusahaan tersebut sebesar USD150 juta.
Meski kini kaya raya, Guo hidup secara sederhana. Ia mengatakan kepada Fortune pada 2023 bahwa ia pernah terbang gratis menggunakan buddy pass dari temannya yang bekerja di maskapai dan bahkan menemukan cara untuk mendapat makanan gratis di bandara.
"Aku makan gratis karena aku cukup memesan tiket Southwest yang bisa dibatalkan, masuk lewat keamanan bandara, pergi ke lounge AmEx, makan, lalu keluar lagi. Aku mengurangi pengeluaranku hingga hampir nol per bulan," katanya.
Sebagian besar pakaiannya berasal dari toko fesyen murah Shein, dan ia masih menggunakan Honda Civic tua.
"Asistenku yang menyetir, pakai Honda Civic yang lumayan tua. Aku nggak peduli. Nggak ada yang akan melihatku lalu menunjuk dan bilang, ‘Haha, dia miskin’ saat aku datang pakai Honda Civic, karena, ya sudahlah, itu nggak penting,” jelasnya.
Namun, ia pernah menjalani gaya hidup mewah, berpesta dengan selebritas seperti Billie Eilish dan Charli XCX, menghadiri festival musik, dan terjun payung untuk bersenang-senang.
Ia bahkan pernah menggelar festivalnya sendiri, Lucypalooza, dan dikenal karena pesta liar yang menampilkan lemur dan ular di kondominium mewahnya di Miami.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih memeluk gaya hidup minimalis, didorong oleh mantra yang kini jadi prinsip hidupnya: "Bersikap seperti orang miskin, tetap kaya." "Aku akui sepenuhnya; aku pernah mengalami masa boros itu ketika aku lebih insecure dan merasa perlu menunjukkan sesuatu."
Ia percaya bahwa kebanyakan miliarder pada akhirnya mengadopsi gaya kasual karena sudah tak perlu membuktikan apa-apa. "Dan kurasa itu juga yang aku rasakan sekarang, aku sudah melewati fase itu. Aku nggak perlu membuktikan diriku pada siapa pun."