Penyaluran KUR Sulsel Capai Rp15,98 Triliun per November 2025, Sektor Pertanian Mendominasi
Penyaluran KUR Sulsel hingga November 2025 tembus Rp15,98 triliun, menjadi yang tertinggi di luar Jawa, dengan sektor pertanian memimpin, namun sektor perikanan masih jadi tantangan.
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Sulawesi Selatan (Sulsel) berhasil mencapai angka impresif Rp15,98 triliun hingga November 2025. Angka ini menempatkan Sulsel sebagai wilayah dengan penyaluran KUR tertinggi pertama di luar Pulau Jawa, menunjukkan geliat ekonomi daerah yang signifikan.
Data ini disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Sulawesi Selatan, Supendi, dalam keterangannya di Makassar pada Minggu, 28 Desember 2025. Pencapaian ini menjadi indikator penting dalam upaya pemerintah mendukung sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Total dana sebesar Rp15,98 triliun tersebut telah berhasil disalurkan kepada 271.797 debitur, memperlihatkan jangkauan program KUR yang luas. Program ini bertujuan untuk memberikan akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau bagi pelaku UMKM agar dapat mengembangkan usahanya.
Dominasi Sektor Pertanian dalam Penyaluran KUR Sulsel
Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menjadi tulang punggung utama dalam penyaluran KUR Sulsel, dengan total dana tersalur mencapai Rp8,07 triliun. Angka ini merepresentasikan lebih dari setengah total penyaluran keseluruhan KUR di wilayah tersebut, menegaskan pentingnya sektor agraris bagi perekonomian lokal.
Supendi menjelaskan bahwa dominasi sektor pertanian ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh para petani dan pelaku usaha di bidang terkait. "Untuk penyaluran, sektor usaha pertanian masih mendominasi dan itu setengah dari total penyaluran secara keseluruhan atau sekitar Rp8,07 triliun dari total Rp15,98 triliun," ujarnya.
Selain pertanian, sektor perdagangan besar dan eceran juga menunjukkan performa yang kuat dengan penyaluran KUR sebesar Rp4,90 triliun. Sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan perorangan lainnya juga berkontribusi sebesar Rp1,07 triliun, sementara sektor-sektor lain menyumbang Rp1,94 triliun lebih.
Rincian penyaluran ini menggambarkan diversifikasi ekonomi di Sulsel, meskipun dengan fokus yang jelas pada sektor primer dan sekunder. Dukungan KUR diharapkan mampu mendorong pertumbuhan lebih lanjut di berbagai lini usaha.
Tantangan Penyaluran KUR untuk Sektor Perikanan
Di tengah capaian positif Penyaluran KUR Sulsel, Supendi menyoroti adanya tantangan signifikan dalam penyaluran KUR untuk sektor usaha perikanan. Penyaluran di sektor ini masih berada di angka yang relatif rendah, yaitu sekitar Rp600 miliar lebih.
Rendahnya angka ini menjadi "pekerjaan rumah" bagi perbankan, terutama karena tingkat risiko yang tinggi yang melekat pada usaha nelayan. Faktor-faktor seperti cuaca ekstrem, fluktuasi harga ikan, dan keterbatasan infrastruktur seringkali menjadi penghalang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit.
Meskipun demikian, pihak perbankan di Sulsel terus mengupayakan berbagai cara untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan. Upaya ini sejalan dengan komitmen perbankan untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap di bawah 2 persen, memastikan keberlanjutan program KUR.
Peningkatan penyaluran KUR untuk sektor perikanan diharapkan dapat membantu modernisasi alat tangkap, peningkatan kapasitas produksi, dan perbaikan kesejahteraan nelayan di Sulsel. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perbankan, dan komunitas nelayan menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini.
Sumber: AntaraNews