Pengusaha Tekstil Indonesia Usul Impor Kapas Lebih Banyak dari Amerika Agar Tarif 32 Persen Turun
Penurunan tarif impor akan membantu meningkatkan ekspor Indonesia.
Kelompok pengusaha di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia menawarkan solusi untuk meningkatkan penggunaan kapas impor dari Amerika Serikat sebagai strategi untuk mengurangi tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, terhadap produk Indonesia yang mencapai 32 persen.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wiraswata, menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat menerapkan aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 20 persen untuk produk impor agar bisa mendapatkan pemotongan tarif. Menurutnya, Indonesia dapat memanfaatkan kapas AS lebih banyak, yang bisa dikombinasikan dengan serat polyester dan rayon yang diproduksi di dalam negeri.
"Mengingat AS tidak bisa menyediakan benang dan kain, Indonesia harus lebih banyak menggunakan kapas AS, yang nantinya bisa dipintal dan ditenun di dalam negeri," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (4/4).
Redma menyebut langkah ini dapat membantu mengurangi tarif impor yang tinggi dan meningkatkan kinerja industri TPT nasional, sekaligus mengurangi impor barang jadi yang berlebihan.
"Jika kita bisa menormalkan lagi industri dari hulu ke hilir, ini bukan hanya ancaman, tapi peluang. Salah satu cara untuk menormalkannya adalah dengan lebih banyak menggunakan kapas Amerika Serikat," tambahnya.
Saat ini, industri TPT Indonesia mengkonsumsi sekitar USD 600 juta kapas dari AS. Namun, Indonesia justru mengimpor benang, kain, dan garment senilai USD 6,5 miliar dari China, yang dianggap tidak adil karena menyebabkan persaingan tidak sehat dan menurunkan utilisasi mesin produksi industri dalam negeri, yang hanya sekitar 45 persen.
"Khususnya untuk industri pemintalan, dari kapasitas 12 juta mata pintal terpasang, saat ini hanya digunakan 4 juta mata pintal. Karena itu, kami mendorong pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan AS, agar kita bisa mengimpor lebih banyak kapas," ujar Redma.
Transparansi dalam Industri
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa, menyatakan siap untuk memenuhi permintaan transparansi yang diajukan oleh pemerintah AS terkait penggunaan kapas impor untuk industri tekstil Indonesia. Jemmy mengungkapkan bahwa jika negosiasi dapat berhasil, tarif untuk produk tekstil Indonesia yang diekspor ke AS bisa turun dari 32 persen menjadi 20 persen.
"Jika kita berhasil negosiasi dengan pemerintah Trump, untuk pakaian jadi yang masuk ke Amerika dengan kapas dari Amerika, yang ditenun di Indonesia, tarif akan lebih ringan. Ini akan membantu utilisasi industri TPT kita," katanya.
Menurut Jemmy, penurunan tarif impor akan membantu meningkatkan ekspor Indonesia dan memperbaiki kondisi industri TPT yang sedang mengalami kesulitan.
"Dengan tarif yang lebih murah, ekspor bisa terbantu dan industri TPT yang saat ini carut-marut bisa terbenahi. Jadi kita harus pintar-pintar menyikapi ini," pungkasnya.