Pendapatan Fantastis Iran dari Minyak hingga Berani Ancam Tutup Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan rute paling vital dalam pengiriman minyak dunia.
Dunia tengah dibuat ketar-ketir setelah Iran berencana menutup Selat Hormuz, rute paling vital dalam pengiriman minyak dunia. Langkah ini diambil setelah Amerika Serikat membombardir tiga situs nuklir Iran.
Terletak strategis di jantung Timur Tengah dan membentang dari Turki dan Irak hingga ke Turkmenistan dan Pakistan, Republik Islam Iran merupakan negara terluas ke-17 di dunia, mencakup wilayah sekitar 1,65 juta kilometer persegi.
Melansir dari berbagai sumber, bebagai salah satu peradaban tertua yang masih eksis hingga kini, Iran dihuni oleh sekitar 85,69 juta jiwa. Ibu kotanya, Teheran, yang terletak di kaki Pegunungan Alborz, menjadi pusat pemerintahan sekaligus kota terbesar dengan populasi sekitar tujuh juta orang.
Bahasa resmi negara ini adalah Persia, namun keragaman etnis juga mencerminkan keberagaman linguistik, bahasa Azeri, Kurdi, dan Luri turut digunakan di berbagai wilayah.
Iran dikenal bukan hanya karena sejarah dan budayanya yang kaya, tetapi juga karena kelimpahan sumber daya alam yang strategis, mulai dari minyak bumi, gas alam, batu bara, hingga mineral seperti kromium, tembaga, bijih besi, dan seng. Mata uang nasionalnya adalah rial.
Peran Vital Iran
Dalam hal energi, Iran memegang posisi vital di panggung global. Pada tahun 2023, Iran tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar keempat dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan pada tahun sebelumnya menjadi produsen gas alam kering terbesar ketiga di dunia.
Cadangan energi negara ini luar biasa besar, Iran berada di peringkat ketiga dunia untuk cadangan minyak terbukti, dan peringkat kedua untuk cadangan gas alam. Menurut data 2023, Iran menguasai sekitar 24 persen cadangan minyak di Timur Tengah dan 12 persen dari total cadangan minyak global.
Namun, potensi besar ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Produksi minyak Iran masih dibatasi oleh kurangnya investasi serta sanksi internasional yang terus menekan sektor energi selama beberapa tahun terakhir.
Meskipun demikian, Iran berhasil meningkatkan ekspor minyak mentahnya, terutama ke China. Antara 2020 hingga 2023, produksi minyak mentah Iran meningkat sekitar 1 juta barel per hari (bph), seiring ekspor ke Tiongkok yang tumbuh hampir 870 ribu bph dalam periode yang sama.
Sebagai respons atas peningkatan ekspor ini, Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap Iran pada April 2024. Sanksi baru mencakup pelabuhan, kapal, dan kilang yang terlibat dalam pengiriman minyak Iran.
Meski demikian, terdapat klausul keringanan 180 hari jika sanksi tersebut dinilai mengganggu keamanan nasional AS. Apabila seluruh sanksi dicabut, Iran diperkirakan mampu memulihkan kapasitas produksi minyak mentahnya hingga 3,8 juta bph.
Ekonomi Iran sendiri relatif lebih terdiversifikasi dibandingkan banyak negara Timur Tengah lainnya. Namun, pendapatan negara masih sangat bergantung pada ekspor minyak dan produk cairan terkait.
Pendapatan Iran dari Minyak
Pada tahun 2023, diperkirakan pendapatan ekspor minyak bersih Iran mencapai sekitar USD53 miliar angka yang sama dengan tahun sebelumnya dan naik signifikan dari USD37 miliar pada 2021.
Lonjakan pendapatan pada 2022 dipicu oleh naiknya harga minyak global serta peningkatan volume ekspor. Sebaliknya, pada 2023, meskipun volume ekspor naik lebih tinggi, penurunan harga global membuat total pendapatan tetap stagnan. Estimasi ini belum memperhitungkan diskon harga resmi yang diberikan Iran kepada pembeli, yang kemungkinan turut menekan pendapatan riil negara.
Dalam hal konsumsi energi domestik, Iran juga merupakan kekuatan besar. Pada tahun 2022, negara ini diperkirakan mengonsumsi 13,5 kuadriliun British thermal unit (BTU) energi primer, menjadikannya konsumen energi terbesar di kawasan Timur Tengah.
Hampir seluruh kebutuhan energi Iran ditopang oleh gas alam dan minyak bumi, sementara sisanya berasal dari tenaga air, batu bara, tenaga nuklir, dan energi terbarukan non-hidro.
Dengan cadangan yang melimpah namun dihadang sanksi dan ketegangan geopolitik, Iran saat ini berada di persimpangan strategis: negara yang sangat kaya energi, tetapi terus berjuang untuk mengakses potensi penuhnya dalam ekonomi global yang makin kompleks.