Begini Kondisi Sebenarnya Ekonomi Masyarakat Iran di Tengah Perang Melawan Israel
Selain kekayaan alam yang melimpah, Iran juga memiliki populasi muda dan terdidik, yang sejatinya menjadi aset besar dalam pembangunan nasional.
Ketegangan antara Iran dan Israel terus masih terus terjadi dan belum mereda. Kedua negara saling meluncurkan rudal yang menyasar berbagai fasilitas, termasuk infrastruktur publik dan lokasi strategis lainnya. Di tengah konflik yang terus membara ini, kondisi internal Iran yang kerap luput dari perhatian publik global.
Melansir dari Arab Center Washington DC, Iran merupakan salah satu negara terkaya di dunia dalam hal sumber daya alam. Negeri ini tercatat memiliki cadangan gas alam terbesar kedua dan cadangan minyak mentah terbesar keempat di dunia. Total nilai sumber daya alam yang dimilikinya bahkan mencapai USD 27,3 triliun.
Selain kekayaan alam yang melimpah, Iran juga memiliki populasi muda dan terdidik, yang sejatinya menjadi aset besar dalam pembangunan nasional.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan paradoks yang mencolok. Di balik kekayaan tersebut, Iran justru terjebak dalam kemiskinan yang telah berlangsung menahun dan menjadi penghambat utama kemajuan ekonomi negara itu.
Mengurai penyebab keterpurukan ekonomi Iran bukan perkara mudah. Hal ini disebabkan oleh rendahnya transparansi, kompleksitas kebijakan ekonomi, serta tumpang tindih berbagai faktor yang memperparah kemiskinan. Situasi tersebut mengakar kuat dalam sistem yang tidak efisien dan tertutup dari pengawasan publik yang memadai.
Warga Miskin Iran
Data menunjukkan bahwa sekitar 28,1 persen warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 40 persen lainnya berada di ambang kemiskinan.
Ironisnya, mayoritas kemiskinan ini terjadi di pedesaan, di mana hampir setengah dari penduduknya tidak memiliki akses ke infrastruktur dasar yang layak. Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan sangat mencolok, meskipun daya beli masyarakat di kedua wilayah mengalami penurunan secara signifikan.
Dua faktor utama yang memperparah kondisi ini adalah sanksi internasional dan korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Amerika Serikat, sebagai pihak yang menjatuhkan sanksi ekonomi, menyatakan langkah tersebut sebagai bentuk penekanan terhadap program nuklir Iran, pelanggaran hak asasi manusia, serta dukungan negara itu terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Sayangnya, dampak dari sanksi itu sangat dirasakan oleh rakyat biasa, dengan memperburuk kondisi sosial dan ekonomi mereka.
Sanksi Barat Buat Iran Terisolasi
Sanksi-sanksi Barat membuat Iran semakin terisolasi secara ekonomi. Sektor-sektor vital seperti minyak dan perbankan mengalami penurunan drastis. Minyak, yang menjadi tulang punggung ekonomi Iran, terkena dampak besar karena produksi dan ekspor dibatasi.
Akibatnya, pendapatan negara anjlok, dan pemerintah kesulitan membiayai kebutuhan dasar rakyatnya. Inflasi pun melonjak tinggi, menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok melambung, dan memperkecil daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah.
Namun, sanksi bukan satu-satunya penyebab memburuknya kondisi ekonomi Iran. Kebijakan dalam negeri yang keliru juga memainkan peran signifikan. Perekonomian Iran dikuasai oleh negara dan para elit politik, menciptakan sistem kleptokrasi di mana akses terhadap sumber daya ekonomi lebih ditentukan oleh kedekatan politik daripada kemampuan profesional.
Pada Februari 2023, nilai tukar rial Iran merosot ke titik terendah sepanjang sejarah, dengan satu dolar AS diperdagangkan lebih dari 600.000 rial di pasar bebas.
Meski terjadi sedikit pemulihan nilai mata uang setelah pengumuman kesepakatan rekonsiliasi Iran-Saudi, banyak warga masih membandingkan situasi ini dengan tahun 2018, ketika nilai tukar dolar hanya sekitar 50.000 rial.
Fakta menunjukkan bahwa penderitaan ekonomi Iran sebagian besar merupakan akibat dari keputusan pemerintah sendiri. Sanksi ekonomi memang berdampak besar, tetapi akar masalahnya berawal dari kebijakan luar negeri yang konfrontatif dan hubungan yang buruk dengan banyak negara.
Isolasi internasional yang dipilih oleh pemerintah Iran, yang lebih mementingkan ideologi daripada kepentingan nasional, telah membuat perekonomian negara itu rapuh dan tidak stabil.
Kondisi Investasi Asing
Kondisi ini diperburuk oleh minimnya investasi asing. Perdagangan internasional masih berlangsung, tetapi lebih banyak terjadi di pasar gelap akibat terputusnya hubungan Iran dari sistem perbankan global. Akibatnya, negara kehilangan potensi pemasukan yang sangat besar karena harus mencari jalur alternatif untuk mengekspor dan mengimpor barang.
Selama bertahun-tahun, investasi asing langsung ke Iran sangat minim. Bahkan pada puncaknya di tahun 2011, jumlahnya hanya mencapai USD4,3 miliar, jauh dari cukup untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan layanan publik seperti sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan bandara.
Pemerintah Iran juga tidak menunjukkan minat besar untuk menarik investor asing, bahkan dari negara-negara sahabat. Sebaliknya, anggaran negara justru dihabiskan untuk program-program kontroversial seperti pengembangan nuklir, pendanaan milisi proksi di kawasan, dan upaya menentang dominasi Amerika Serikat.
Penindasan terhadap rakyat, terutama terhadap perempuan melalui kebijakan wajib jilbab dan aturan diskriminatif lainnya, menyedot energi dan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan warga.
Selain itu, banyak warga Iran yang memiliki keahlian dan potensi besar memilih untuk meninggalkan negaranya. Setiap tahun, ratusan ilmuwan dan profesional memilih berimigrasi karena merasa tidak dihargai atau tidak memiliki ruang untuk berkontribusi di dalam negeri.
Pemerintah belum menunjukkan komitmen kuat untuk memanfaatkan kecerdasan mereka sebagai solusi mengatasi krisis ekonomi dan sosial yang semakin parah. Padahal, Iran memiliki potensi luar biasa dalam berbagai sektor seperti pariwisata, pertanian, perikanan, industri manufaktur, pendidikan, hingga layanan kesehatan.
Kemiskinan bukanlah kondisi permanen jika ada kemauan politik untuk memperbaiki kebijakan. Meski kerusakan telah berlangsung selama puluhan tahun, harapan tetap ada untuk mengubah nasib bangsa ini. Iran memiliki semua yang dibutuhkan untuk membangun negara yang makmur, asalkan kekayaan yang dimiliki benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.