NTB Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Ancaman Cacar Sapi
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meningkatkan kewaspadaan terhadap Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar sapi yang berpotensi merugikan ekonomi dan mengganggu distribusi ternak, demi menjaga status NTB sebagai sentra sapi potong nasional.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil langkah serius dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar sapi yang mengancam populasi ternak di wilayahnya. Upaya ini dilakukan melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB untuk melindungi sapi dan kerbau dari penyakit menular tersebut. Langkah antisipasi ini menjadi krusial mengingat potensi dampak ekonomi dan gangguan distribusi ternak yang bisa ditimbulkan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Muslih, menekankan pentingnya kewaspadaan yang lebih tinggi seiring dengan penyebaran kasus cacar sapi di berbagai daerah di Indonesia. Pencegahan menjadi prioritas utama, diwujudkan melalui penguatan koordinasi antar sektor terkait serta pembentukan tim khusus. Strategi ini diharapkan mampu meminimalisir risiko penularan dan penyebaran penyakit.
Sebagai bagian dari sistem deteksi dini, Pemerintah NTB aktif melaksanakan surveilans berkelanjutan, khususnya di area perbatasan dan titik-titik lalu lintas ternak. Penyakit cacar sapi sendiri merupakan infeksi virus yang ditandai benjolan pada kulit, demam, dan penurunan nafsu makan, serta menular melalui serangga seperti nyamuk dan lalat. Kewaspadaan dini ini sangat penting untuk menjaga NTB sebagai sentra sapi potong nasional.
Ancaman Cacar Sapi dan Dampak Ekonomi
LSD atau cacar sapi adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus, menyerang sapi dan kerbau dengan gejala khas berupa benjolan pada kulit. Selain itu, hewan yang terinfeksi juga menunjukkan demam tinggi, kondisi lemas, dan penurunan drastis nafsu makan. Penularan penyakit ini sebagian besar terjadi melalui vektor serangga penghisap darah, seperti nyamuk dan lalat.
Muslih menjelaskan bahwa dampak cacar sapi tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik hewan ternak. Kerugian ekonomi yang signifikan berpotensi terjadi akibat penurunan produktivitas, kematian ternak, dan pembatasan pergerakan hewan. Kondisi ini dapat mengganggu stabilitas pasokan daging dan kesejahteraan peternak lokal. LSD dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang parah karena kerusakan permanen pada kulit hewan, penurunan produksi susu, pertumbuhan yang buruk, infertilitas, keguguran, dan kadang-kadang kematian.
Sejumlah daerah di Indonesia telah melaporkan penemuan kasus sapi ternak positif terinfeksi penyakit LSD, salah satunya Kabupaten Jembrana di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman ini nyata dan memerlukan perhatian serius. Indonesia sendiri telah melaporkan kasus LSD di Sumatera pada Maret 2022.
Kementerian Pertanian (Kementan) telah merespons dengan menyalurkan ratusan dosis vaksin darurat, obat-obatan, multivitamin, desinfektan, serta alat kesehatan ke wilayah terdampak. Australia juga telah menyumbangkan total 1.435 juta dosis vaksin LSD ke Indonesia dari tahun 2022 hingga 2024 untuk mendukung upaya pengendalian ini.
Strategi Pencegahan dan Pengendalian di NTB
Muhamad Riadi, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, menegaskan bahwa NTB memiliki peran penting sebagai salah satu sentra sapi potong nasional. Karakteristik wilayah dengan lalu lintas ternak keluar daerah yang tinggi menuntut kewaspadaan ekstra dan sistem pengendalian yang kuat terhadap cacar sapi. Pengawasan ketat menjadi kunci untuk menjaga populasi ternak.
Prioritas utama dalam penanganan cacar sapi adalah langkah pencegahan yang komprehensif, dimulai dari penguatan koordinasi lintas sektor. Pembentukan tim kewaspadaan khusus juga menjadi bagian dari strategi ini, memastikan semua pihak terkait bekerja sama secara efektif. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan respons yang terpadu dan cepat.
Sistem deteksi dini atau early warning detection diimplementasikan melalui surveilans aktif dan berkelanjutan. Fokus utama pengawasan adalah di wilayah perbatasan dan titik-titik strategis lalu lintas ternak, yang merupakan jalur potensial masuknya penyakit. Pemantauan rutin ini memungkinkan identifikasi kasus cacar sapi secara cepat.
Riadi juga telah menginstruksikan tim pendamping kesehatan hewan di tingkat kecamatan untuk secara rutin memantau kondisi kesehatan sapi masyarakat. Pemantauan ini bertujuan untuk mendeteksi gejala cacar sapi sedini mungkin dan mengambil tindakan pencegahan atau penanganan yang diperlukan. Edukasi kepada peternak juga menjadi bagian penting dari upaya ini.
Sumber: AntaraNews