Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang, Kalimantan Barat, kini memfokuskan seluruh perhatiannya pada penanganan serta pencegahan penyakit menular babi, khususnya African Swine Fever (ASF). Langkah strategis ini diambil untuk menjaga stabilitas sektor peternakan lokal. Selain itu, upaya ini juga krusial dalam memastikan ketersediaan pasokan pangan yang memadai bagi seluruh masyarakat Singkawang.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, pada Sabtu (23/8) menegaskan pentingnya inisiatif ini. Menurutnya, penyakit ASF merupakan ancaman serius yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi para peternak. Pencegahan dini menjadi kunci utama untuk menghindari dampak buruk yang lebih luas di masa mendatang.
Fokus pada pencegahan ASF juga bertujuan untuk melindungi mata pencaharian peternak dan memastikan harga daging babi tetap stabil di pasaran. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa wabah ini dapat memicu inflasi dan ketidakpastian pasokan. Oleh karena itu, Pemkot Singkawang berkomitmen penuh dalam upaya mitigasi ini.
Advertisement
Advertisement
African Swine Fever (ASF) adalah penyakit menular yang sangat mematikan bagi babi, dengan tingkat kematian yang tinggi pada hewan yang terinfeksi. Meskipun ASF tidak menular ke manusia, dampaknya terhadap sektor peternakan dan ekonomi sangat meluas. Penyakit ini secara langsung memengaruhi pendapatan peternak serta ketersediaan daging babi di pasaran.
Wali Kota Tjhai Chui Mie menjelaskan bahwa serangan ASF pada akhir 2022 telah menyebabkan penurunan drastis populasi ternak babi di Kota Singkawang. Sebelumnya, populasi babi di kota ini mencapai 29 ribu ekor, namun angka tersebut menurun signifikan akibat wabah. Kondisi ini tidak hanya merugikan peternak secara finansial, tetapi juga memicu inflasi akibat berkurangnya pasokan daging babi yang tersedia.
Situasi tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan peternak di Singkawang. Pencegahan harus diprioritaskan agar kerugian serupa tidak terulang di masa depan. Pemkot menyadari bahwa investasi dalam upaya pencegahan jauh lebih efektif daripada penanganan setelah wabah menyebar luas.
Advertisement
Advertisement
Untuk mengatasi ancaman Penyakit Menular Babi ASF, Pemkot Singkawang mendorong penerapan biosekuriti ketat di seluruh usaha peternakan. Langkah ini mencakup serangkaian prosedur penting, seperti pemeriksaan kesehatan ternak secara rutin dan menyeluruh. Selain itu, desinfeksi kandang serta peralatan peternakan juga menjadi bagian integral dari strategi ini untuk meminimalkan risiko penyebaran virus.
Pembatasan lalu lintas hewan dari daerah yang terdeteksi wabah juga diterapkan secara ketat. Hal ini bertujuan untuk mencegah masuknya virus dari luar wilayah Singkawang atau dari peternakan yang sudah terinfeksi. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan zona aman bagi peternakan babi di kota tersebut.
Selain upaya mandiri dari peternak, pemerintah daerah juga melibatkan lintas sektor guna memperkuat strategi pencegahan Penyakit Menular Babi ASF. Tjhai Chui Mie menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta FAO. Kolaborasi ini terwujud melalui kehadiran Program Community ASF Biosecurity Intervention (CABI) di Singkawang, yang menjadi instrumen penting untuk memulihkan kembali populasi babi dan meningkatkan pengetahuan peternak mengenai tata kelola peternakan yang aman dari ancaman ASF.
Advertisement
Advertisement
Program CABI yang diinisiasi bersama berbagai pihak tidak hanya berfokus pada pemulihan populasi babi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas peternak. Edukasi dan pendampingan intensif menjadi bagian integral dari program ini, memastikan peternak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menerapkan praktik biosekuriti secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan demikian, risiko penyebaran Penyakit Menular Babi ASF dapat diminimalisir secara efektif.
Wali Kota Singkawang berharap bahwa penerapan biosekuriti berbasis komunitas ini dapat mempercepat pemulihan sektor peternakan babi di Singkawang. Partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, khususnya para peternak, dianggap sebagai kunci keberhasilan program ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat akan menciptakan lingkungan peternakan yang lebih tangguh dan aman dari ancaman penyakit.
Tujuan akhir dari semua upaya ini adalah agar kebutuhan protein hewani masyarakat Singkawang dapat terpenuhi secara mandiri. Dengan populasi babi yang sehat dan stabil, kota ini tidak perlu lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah. Hal ini akan memperkuat ketahanan pangan lokal dan mendukung stabilitas ekonomi di Singkawang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews