Nego Tarif Trump, Garuda Indonesia Bakal Beli 79 Unit Pesawat Boeing
Erick menambahkan bahwa pembelian pesawat dari Boeing merupakan bagian penting dari negosiasi tarif resiprokal dengan Presiden Donald Trump.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut bahwa PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berencana untuk membeli armada pesawat dari Boeing. Diperkirakan, jumlah pesawat yang akan dibeli mencapai 79 unit.
Erick menambahkan bahwa pembelian pesawat dari Boeing merupakan bagian penting dari negosiasi tarif resiprokal dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Perlu diketahui, Boeing adalah perusahaan pembuat pesawat yang berasal dari AS.
"Termasuk pengadaan pesawat terbang yang memang kita masih kurang," ujar Erick Thohir saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, seperti yang dikutip pada Rabu (9/7).
Dia menjelaskan bahwa rencana transaksi ini akan menggunakan perjanjian baru, karena perjanjian sebelumnya sudah tidak berlaku akibat restrukturisasi dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
"Dengan agreement baru, ya, bukan agreement yang lama. Kalau agreement yang lama kan sudah selesai, sudah gugur di PKPU. Jadi ini yang baru. Jumlahnya makanya naik kan kalau enggak salah jadi 79," jelas Erick.
Erick menyatakan bahwa Garuda Indonesia dan Pertamina berperan sebagai pendukung dalam negosiasi tarif dengan AS. Mereka berkontribusi dalam transaksi pembelian komoditas dari AS. Di sisi lain, Pertamina berencana untuk mengalihkan sumber impor minyak mentahnya ke AS.
"Semua nanti tunggu Pak Menko ya, kan Pak Menko sudah sebutkan rangkanya USD 34 billion (miliar) kalau gak salah, komponen itu mungkin yang terbesar dari Pertamina dan tentu Garuda," tegas Erick Thohir.
Suntik Modal Rp 6,6 Triliun
Baru-baru ini, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memberikan dukungan awal berupa pinjaman pemegang saham sebesar USD 405 juta atau sekitar Rp6,65 triliun kepada PT Garuda Indonesia Tbk. Pinjaman ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan maintenance, repair and overhaul (MRO), yang merupakan bagian dari total dukungan pendanaan yang mencapai sekitar USD 1 miliar.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa langkah ini mencerminkan pendekatan baru dalam proses restrukturisasi dan transformasi Garuda Indonesia di bawah pengelolaan Danantara.
"Kami bukan sekadar memberikan pendanaan, namun kami hadir sebagai pemegang saham dengan mandat yang jelas dan pendekatan institusional. Melalui Danantara Asset Management, kami akan memastikan proses transformasi berjalan sesuai rencana, dan setiap tahapan akan dievaluasi secara berkala berdasarkan capaian dan akuntabilitas," ungkapnya, Selasa (24/6).
Peningkatan Kinerja Usaha
Dony menjelaskan bahwa dukungan untuk transformasi menyeluruh mencakup optimalisasi bisnis, pendanaan jangka panjang, dan pendampingan yang berbasis pada tata kelola serta restrukturisasi untuk meningkatkan kinerja.
"Seluruh proses implementasi rencana transformasi ini akan diawasi dengan sistem tata kelola berstandar internasional. Didampingi Independent Financial Controller untuk mengawasi penggunaan dana dan Aviation Industry Expert yang memberikan keahlian teknis, melakukan benchmarking dengan standar industri global, serta memastikan penerapan praktik terbaik dalam proses transformasi Garuda Indonesia," tuturnya.
Transformasi yang komprehensif ini tidak hanya berfokus pada aspek finansial, tetapi juga pada peningkatan efisiensi operasional. Dony menegaskan pentingnya pengawasan yang ketat selama proses tersebut untuk memastikan semua langkah yang diambil sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Dengan adanya Independent Financial Controller dan Aviation Industry Expert, Garuda Indonesia berupaya untuk menerapkan praktik terbaik yang telah terbukti efektif di industri penerbangan global. Hal ini bertujuan agar setiap langkah dalam proses transformasi dapat berjalan dengan lancar dan memberikan hasil yang optimal bagi perusahaan.
Persiapkan Armada Pesawat
Kolaborasi pada fase awal ini ditujukan untuk meningkatkan perawatan dan kesiapan operasional armada Garuda Indonesia Group. Ini mencakup Garuda Indonesia yang beroperasi sebagai full service carrier (FSC) serta Citilink yang berfungsi sebagai low cost carrier (LCC).
Selanjutnya, dukungan dalam bentuk pembiayaan akan disusul dengan berbagai langkah yang bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja operasional dan keuangan. Langkah ini diharapkan dapat mendukung transformasi bisnis jangka panjang agar menjadi maskapai penerbangan yang berkelanjutan.
Menurut Dony, kolaborasi dengan Danantara ini menandai dimulainya fase baru dalam transformasi Garuda Indonesia.
"Yang sebelumnya telah dijalani pada 2021-2024 melalui restrukturisasi fundamental operasional dan keuangan dengan tujuan memastikan keberlanjutan usaha perusahaan," imbuhnya.
Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus beradaptasi dan berkembang dalam menghadapi tantangan di industri penerbangan.