Drama Pintu Pesawat Alaska Airlines Lepas Saat di Udara, Pilot Kini Gugat Boeing Rp167,4 Miliar
Di dalam Boeing 737-9 tersebut, terdapat 177 orang yang semuanya selamat meskipun beberapa mengalami cedera.
Seorang pilot yang memimpin penerbangan Alaska Airlines, yang mengalami insiden pintu pesawat copot di udara dua tahun lalu, kini mengambil langkah hukum terhadap produsen pesawat Boeing. Kapten Brandon Fisher menuduh perusahaan penerbangan tersebut berusaha mengalihkan kesalahan dan secara sengaja serta salah mengklaim bahwa kesalahan terjadi pada awak pesawat dalam insiden yang berlangsung pada malam 5 Januari 2024.
Pada saat itu, penerbangan Alaska Airlines 1282 yang berangkat dari Portland, Oregon, menuju Ontario, Kanada, terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah sebagian dari penutup pintu keluar tengah (MED) pesawat, yang sebelumnya merupakan jendela, meledak beberapa menit setelah lepas landas.
Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat menyatakan bahwa insiden ini menyebabkan 'penurunan tekanan yang cepat' di dalam kabin, sehingga beberapa barang milik penumpang tersedot keluar dari pesawat.
Di dalam Boeing 737-9 tersebut, terdapat 177 orang yang semuanya selamat meskipun beberapa mengalami cedera. Investigasi yang dilakukan oleh NTSB menemukan bahwa seorang pramugari mengalami luka ketika kokpit terbuka, sementara tujuh penumpang lainnya mengalami cedera ringan.
Dalam siaran pers NTSB yang dirilis pada 24 Juni 2025, dinyatakan bahwa kemungkinan penyebab dari insiden ini adalah kegagalan Boeing dalam memberikan pelatihan, panduan, dan pengawasan yang memadai kepada para pekerja di pabriknya.
Selain itu, badan tersebut juga mengungkapkan bahwa Administrasi Penerbangan Federal (FAA) tidak efektif dalam memastikan bahwa Boeing mengatasi masalah ketidaksesuaian yang berulang dan sistemik berkaitan dengan proses pelepasan suku cadangnya.
Sebagai tindak lanjut, FAA mengusulkan denda sebesar USD 3,1 juta (sekitar Rp51,9 miliar) terhadap Boeing pada bulan September 2025 terkait pelanggaran keselamatan, termasuk insiden yang terjadi pada 5 Januari 2024.
Boeing Menyalahkan Pilot
Meskipun pihak berwenang penerbangan akhirnya memutuskan bahwa Boeing bersalah, Kapten Fisher mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut awalnya berusaha menjadikannya sebagai 'kambing hitam'. Dalam pengaduan yang diajukan pada 30 Desember 2025, yang dikutip oleh People pada Selasa (6/1).
"Reaksi Boeing menunjukkan kurangnya integritas perusahaan yang telah menjadi sangat jelas setelah kesalahan manufaktur baru-baru ini, dan seringkali berakibat fatal."
"Tindakan Boeing telah berdampak dramatis dan mengubah hidup Kapten Fisher."
Gugatan yang diajukan tersebut menuduh bahwa Boeing membuat pernyataan yang tercela dan tidak akurat saat merespons gugatan class action dari para penumpang penerbangan itu. Di sisi lain, Boeing menolak untuk mengakui tanggung jawab atas kerugian yang terjadi, dengan alasan bahwa produknya "tidak dipelihara dengan benar atau disalahgunakan oleh orang dan/atau entitas selain Boeing."
Pilot Tuntut Boeing
Gugatan yang diajukan oleh pilot tersebut menyebutkan bahwa 'jelas bahwa kata-kata Boeing ditujukan kepada Kapten Fisher untuk menjadikannya kambing hitam atas berbagai kegagalan Boeing'. Dalam gugatan itu, Fisher diduga menerima surat dari FBI yang menginformasikan bahwa ia mungkin menjadi korban kelalaian kriminal yang dilakukan oleh Boeing.
Selain itu, Departemen Kehakiman juga telah membuka penyelidikan kriminal terhadap perusahaan tersebut, yang saat ini masih berlangsung, sebagaimana tertera dalam gugatan tersebut.
Fisher mengklaim bahwa sejak terjadinya insiden tersebut, ia mengalami 'dampak fisik dan mental yang mendalam'.
"Kemerosotan ini adalah manifestasi fisik yang nyata akibat cedera emosionalnya dan yang terus ia tanggung," ungkap gugatan tersebut.
Dalam tuntutannya, Fisher menyebut Boeing dan subkontraktornya, Spirit AeroSystems Holdings, Inc., sebagai pihak yang bertanggung jawab dan menuntut ganti rugi sebesar USD 10 juta (sekitar Rp167,4 miliar), di samping biaya pengadilan.
Hingga saat ini, pengacara Fisher, William Walsh, dan juru bicara Spirit AeroSystems mengarahkan semua pertanyaan kepada perwakilan Boeing, namun mereka belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar dari PEOPLE.