Market Share Reksa Dana RI Masih Tertinggal Dibandingkan Negara Tetangga
AUM reksa dana RI capai Rp1.084 triliun per Maret 2026. Meski tumbuh, kontribusinya ke PDB baru 4 persen, masih tertinggal dari negara tetangga.
Bursa Efek Indonesia mencatat tren pertumbuhan investor dan dana kelolaan industri reksa dana di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Namun, kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional dinilai masih relatif rendah dibanding negara lain di Asia Tenggara.
Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional Otoritas Jasa Keuangan (OJK), M. Maulana, menyebut total asset under management (AUM) reksa dana hingga Maret 2026 mencapai Rp1.084 triliun, tumbuh sekitar 3,97 persen dibanding posisi akhir 2025.
“Kalau kita lihat data, AUM kita per Maret sudah Rp 1.084 triliun ini sudah naik 3,97 persen dibanding dengan Desember lalu, kelihatannya gede ya tapi ternyata dari sisi GDP ini baru 4 persen dibanding GDP,” kata Maulana di Gedung BEI, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Kontribusi ke PDB Masih Tertinggal
Meski mengalami pertumbuhan, kontribusi industri reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih berada di kisaran 4 persen. Angka tersebut dinilai tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga.
Maulana menyebut Thailand telah mencatat rasio kontribusi sebesar 30 persen terhadap PDB, sementara Malaysia mencapai 36 persen.
“Kalau kita bandingkan negara tetangga Thailand itu 30 persen dari GDP, Malaysia 36 persen dari GDP, jadi kan masih banyak ketimpangan ya masih banyak yang sebenarnya bisa dikejar nih,” ujarnya.
Jumlah Investor Terus Bertambah
Dari sisi jumlah investor, pertumbuhan juga terlihat signifikan. Hingga Maret 2026, jumlah investor reksa dana mencapai 23,5 juta orang, meningkat dari 19,2 juta pada akhir 2025.
“Kalau kita lihat investornya, investor kita tuh sudah sekarang ini, itu investor reksa dana ya 23,5 juta. Jumlah yang sangat besar ya dari bahkan desember lalu baru jumlah 19,2 juta jadi tumbuhnya sudah 8,14 persen dibanding tahun 2025,” ujarnya.
Meski demikian, jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan total populasi Indonesia yang mencapai sekitar 297 juta jiwa. Dari sisi demografi, penetrasi investor di kalangan usia produktif juga dinilai masih terbatas.