Kisah Yusuf Effendi, dari Kuli Bangunan Hingga Sukses Bangun Rumah Bimbingan Belajar
Kesuksesan tak hanya bisa diraih oleh orang dengan status yang tinggi.
Kesuksesan tak hanya bisa diraih oleh orang dengan status yang tinggi.
Kisah Yusuf Effendi, dari Kuli Bangunan Hingga Sukses Bangun Rumah Bimbingan Belajar
Meraup cuan sebanyak-banyaknya bukan orientasi mutlak bagi Yusuf Effendi.
Berawal dari kuli bangunan yang mengajar ngaji, Yusuf telah memiliki lima cabang rumah bimbingan belajar bernama Rumah Pintar.
Berbeda dari rumah bimbingan belajar pada umumnya yang mengajar pelajaran eksak atau sosial budaya, di Rumah Pintar milik Yusuf sangat mengutamakan pendidikan karakter.
Dalam wawancara yang diunggah akun YouTube Pecah Telur, Yusuf bercerita saat masih lajang, dia bekerja menjadi kuli bangunan.
Modal pelajaran agama Yusuf cukup kuat, hingga satu waktu dia mengajar ngaji dari awalnya 1 orang kemudian bertambah hingga belasan.
Namun, langkah Yusuf mengajar mengaji banyak ditentang tempat dia tinggal di Desa Talun, Jawa Tengah. Dia tidak kecil hati, justru dia ingin melegalkan tempat ajar untuj mengaji dan menjadi sebuah lembaga pendidikan.
Usai mendapatkan legalitas sebagai tempat usaha bimbingan belajar, Yusuf harus menjalani tantangan. Di warung bekas pecel yang berukuran sempit, Yusuf tidak punya cukup modal banyak untuk membeli meja belajar.
"Waktu itu kami sewanya hanya per bulan karena memang tidak kuat sewa per tahun saya ingat sekali pada waktu itu meja hanya dua, yang satu dipinjami sama yang punya rumah kemudian yang satu lagi dipinjami depan rumah muridnya hanya enam," kata Yusuf, dikutip pada Senin (25/9).
Merdeka.com
Satu hari, dia hendak menjual lemari pendingun satu-satunya yang dia miliki. Uang dari hasil jualan itu direncanakan untuk memfotokopi soal-soal yang sudah disiapkan Yusuf untuk materi Rumah Pintar.
Sejak pagi hingga sore, dia berkeliling menawarkan lemari pendingin. Namun, tak kunjung laku terjual. Di kantungnya hanya tersisa Rp100.000 untuk keperluan makan dia bersama sang istri.
Hingga kemudian, dia bertemu satu keluarga miskin, tidak mampu membawa sang anak berobat. Uang yang ada di kantung, diberikan Yusuf untuk keluarga tersebut. Tidak ada niat awal untuk memberi sedekah atau pinjaman oleh Yusuf.
Namun, saat Yusuf baru kembali dari keliling menjajakan lemari pendingin, suami dari istri yang diberi uang oleh Yusuf mengirim pesan jika uang Rp100.000 ingin dipinjam seluruhnya karena sudah belum memberi nafkah untuk sang istri selama dua hari.
Langkah itu sempat menimbulkan perdebatan di antara Yusuf dengan sang istri. Sebab, Istri Yusuf bingung karena tidak memiliki uang lagi untuk menyambung hidup beberapa hari ke depan. Namun keduanya merelakan uang tersebut.
"Waktu itu salat ashar hampir nangis, ya Allah besok bagaimana karena semua tempat sudah kami cari dan adanya cuma receh," ucapnya.
Popularitas Rumah Pintar Yusuf bahkan tersebar hingga luar Desa Talun. Bahkan, Yusuf sudah memiliki 5 cabang Rumah Pintar di Jawa Tengah.
"Alhamdulillah Rumah Pintar sering mengantar anak-anak mengikuti kejuaraan olimpiade nasional baik juara 1 2 3. Yang juara 1 olimpiade nasional itu ada banyak," ucapnya.