Ketidakpastian Global Tinggi dan Kompleks, Butuh Penguatan Risk Intelligence di Sektor Keuangan RI
Dinamika ekonomi ini menuntut industri perbankan dan jasa keuangan untuk tidak sekadar bertahan, melainkan mengadopsi pendekatan pengelolaan risiko.
Lanskap sektor keuangan global saat ini menghadapi kondisi yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian akibat volatilitas pasar, tekanan inflasi, fragmentasi geopolitik, hingga disrupsi rantai pasok global. Dinamika ekonomi ini menuntut industri perbankan dan jasa keuangan untuk tidak sekadar bertahan, melainkan mengadopsi pendekatan pengelolaan risiko yang komprehensif, adaptif, dan forward-looking.
Department Head of Macro Economist Research & Publication Bank BNI, Immanuel Rinaldo menyoroti bahwa kombinasi konflik geopolitik yang memengaruhi harga energi dan perdagangan internasional telah meningkatkan ketidakpastian dunia.
la memproyeksikan meskipun pertumbuhan ckonomi Indonesia menyentuh 5,61 persen di awal 2026, angka tersebut diperkirakan akan melandai ke kisaran 5,2 eprsen secara tahunan, dengan proyeksi 4,9 persen hingga 5,0 persen pada semester kedua.
"Perusahaan tidak dapat lagi hanya bersandar pada pengalaman krisis di masa lalu. Integrasi data, proyeksi makroekonomi, dan stress testing yang dilakukan secara berkala sangat krusial untuk menghasilkan keputusan yang lebih forward-looking," jelas Immanuel dalam acara iLearn Thematic Webinar bertajuk 'Risk Intelligence and Sovereignty: Building Resilient Financial Ecosystems in an Uncertain World'.
Dari sudut pandang pengelolaan portofolio, Group Head Enterprise & Market Risk Bank BRI, Wita Adriawati, memaparkan pentingnya strategi diversifikasi dan perlindungan kredit secara end-to-end. la menyebutkan bahwa portofolio kredit BRI dijaga melalui komposisi sekitar 35-40 persen pada segmen mikro, 20 persen pada small business, 10 persen pada konsumer, dan 20-30 persen pada korporasi.
Wita juga menekankan efisiensi yang ditawarkan oleh instrumen risk transfer. "Dalam perhitungan aset tertimbang menurut risiko (ATMR), kredit yang dijamin asuransi dapat memperoleh bobot risiko sekitar 20 persen, sehingga membantu efisiensi modal," ujarnya dalam acara yang difasilitasi iLearn Program yang difasilitasi oleh Indonesia Re Institute tersebut.
Sebagai informasi, forum edukatif ini mempertemukan tokoh industri dan praktisi risk management untuk menyampaikan insight serta menggali strategi integrasi risk intelligence dan instrumen mitigasi dalam membangun ketahanan sistem keuangan nasional, khususnya di sektor perbankan dan asuransi kredit.
Perlunya Transformasi Organisasi
Membahas dari kacamata tata kelola yang lebih luas, Senior Partner RWI Consulting, Deddy Jacobus, menegaskan perlunya transformasi organisasi dari manajemen risiko yang reaktif menuju prediktif dan proaktif. Pemanfaatan teknologi, artificial intelligence (AI), dan pendeteksian pola (pattern recognition) wajib diterapkan untuk membangun early warning system yang mumpuni."Kegagalan sebuah organisasi sering kali bukan bersumber dari kurangnya data, melainkan karena ketidakmampuan untuk membaca insight tersebut dan merespons perubahan secara tepat waktu," pungkas Deddy.
Jadi Mitra Strategis Pengembangan Pengetahuan Industri
Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah menyatakan bahwa Indonesia Re memposisikan perusahaan melampaui penyedia kapasitas reasuransi, yakni sebagai mitra strategis dalam pengembangan pengetahuan industri.
Saat ini, program edukasi tersebut menjadi bagian dari mandat perusahaan yang melayani sekitar 120 perusahaan asuransi nasional, meliputi 70 asuransi umum dan 50 asuransi jiwa.
"Nilai utama dari wadah iLearn ini bukan sekadar berbagi pengetahuan, melainkan membantu industri mengelaborasi informasi agar mampu mengubah data menjadi insight, dan menerjemahkannya menjadi keputusan strategis untuk mendukung keberlanjutan bisnis," tegas Beatrix di Jakarta, Senin (22/6),