Perbankan Nasional Perkuat Prudential Measures Hadapi Risiko Geopolitik Global
Industri perbankan Indonesia memperketat prudential measures, termasuk manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian, guna menghadapi meningkatnya risiko geopolitik global dan menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memastikan industri perbankan di Indonesia memperketat "prudential measures" di tengah meningkatnya risiko geopolitik antara Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat. Langkah ini mencakup penguatan kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, di Jakarta pada Jumat (27/3).
Peningkatan risiko global, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan, menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset.
Meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang kuat.
Penguatan Prinsip Kehati-hatian di Tengah Ketidakpastian Global
Hery Gunardi menegaskan bahwa industri perbankan nasional terus memperkuat sejumlah langkah mitigasi untuk menghadapi tantangan global. Ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas.
Salah satu strategi kunci adalah melalui pelaksanaan stress test sektoral pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi. Sektor-sektor ini meliputi transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, penguatan early warning system juga menjadi prioritas untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi dini tanda-tanda masalah pada kualitas aset perbankan.
Strategi Mitigasi Risiko dan Optimalisasi Likuiditas
Perbankan juga meningkatkan disiplin dalam penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing, memastikan bahwa harga kredit sesuai dengan tingkat risiko yang diambil. Pendekatan ini membantu menjaga kualitas portofolio kredit.
Untuk menjaga kecukupan likuiditas, perbankan mengoptimalkan rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR). Rasio-rasio ini penting untuk memastikan bank memiliki cukup aset likuid untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan panjang.
Di sisi lain, pengelolaan eksposur nilai tukar dilakukan secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto. Langkah ini bertujuan untuk memitigasi risiko fluktuasi mata uang asing.
Dengan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik. Ini berlaku meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah.
Sumber: AntaraNews