Kemenkop Dorong Ekosistem Bisnis Kopdes Melalui Program Magang Intensif
Kementerian Koperasi mempercepat operasionalisasi Kopdes Merah Putih dengan Program Magang Kopdes Kemenkop, membekali pengurus membangun kemitraan bisnis berkelanjutan dan adaptif terhadap digitalisasi.
Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) tengah gencar menggalakkan upaya percepatan operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penyelenggaraan sebuah program magang komprehensif bagi para pengurus koperasi. Tujuan utamanya adalah membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan praktis untuk membangun ekosistem bisnis koperasi yang kuat dan berkelanjutan di daerah masing-masing.
Program magang ini dirancang sebagai sarana pembelajaran langsung di lapangan, memberikan pengalaman nyata kepada para peserta. Sebanyak enam lokasi magang telah disiapkan, salah satunya adalah Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq yang berlokasi di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keberhasilan Kopontren Al-Ittifaq dalam mengembangkan model bisnis koperasi yang inovatif dan terintegrasi.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen Kemenkop UKM untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor koperasi, khususnya Kopdes Merah Putih. Dengan demikian, diharapkan koperasi-koperasi di tingkat desa dan kelurahan dapat lebih mandiri, adaptif, serta mampu bersaing di era ekonomi modern. Program ini juga diharapkan mampu menciptakan jaringan kemitraan yang luas bagi koperasi-koperasi tersebut.
Memperkuat Kapasitas dan Kemitraan Bisnis Koperasi
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, menegaskan bahwa program magang ini krusial untuk memperkuat kapasitas pengurus Kopdes Merah Putih. Tujuannya agar mereka mampu menjalin kemitraan bisnis yang berkelanjutan dan mengembangkan ekosistem bisnis koperasi yang solid. "Kami terus mendorong Kopdes Merah Putih mampu membangun ekosistem dan kemitraan bisnis, dengan dukungan dari Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah (KNEKS), Programma Uitzending Manager (PUM) Representative Indonesia, dan perguruan tinggi,” ujar Destry.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk KNEKS dan PUM, menunjukkan adanya sinergi lintas sektor dalam pengembangan koperasi di Indonesia. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa koperasi mendapatkan akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan jaringan yang diperlukan untuk tumbuh. Program ini juga menjadi wadah bagi pertukaran ide dan pengalaman antar pengurus koperasi dari berbagai daerah.
Gelombang pertama program magang ini telah berlangsung dari tanggal 15 hingga 22 November 2025, melibatkan 38 peserta yang berasal dari empat provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Secara keseluruhan, program ini akan diikuti oleh 114 peserta dari 24 provinsi yang dibagi dalam tiga gelombang. Metode pelaksanaan meliputi pembekalan materi, studi kunjungan, serta praktik langsung di lapangan, memastikan pembelajaran yang holistik dan aplikatif.
Belajar dari Model Sukses Kopontren Al-Ittifaq
Kopontren Al-Ittifaq di Ciwidey menjadi salah satu lokasi magang yang dipilih karena dinilai sebagai contoh sukses penerapan pertanian terpadu. Model bisnisnya telah terhubung dengan pasar modern, menjadikannya studi kasus yang sangat relevan bagi peserta. Destry Anna Sari menilai, “Sistem agribisnis yang diterapkan Al-Ittifaq sudah terhubung dengan berbagai pasar modern, seperti supermarket, sehingga peserta magang bisa mempelajari rantai agribisnis secara lengkap dari hulu sampai hilir."
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, Yuke Mauliani Septina, menambahkan bahwa praktik langsung semacam ini akan memberikan dampak yang lebih signifikan bagi peningkatan kualitas pengurus Kopdes. Selain manajemen mutu, Yuke menekankan pentingnya adaptasi terhadap digitalisasi agar koperasi dapat menjadi entitas yang modern dan berdaya saing. Aspek digitalisasi menjadi kunci untuk memperluas jangkauan pasar dan efisiensi operasional.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Kopontren Al-Ittifaq, Setia Irawan, berharap para peserta magang dapat menemukan formula inovasi yang bisa diterapkan di daerah masing-masing. Ia menjelaskan bahwa melalui program ini, peserta akan dibekali pengetahuan mendalam mengenai pembangunan rantai pasok produk, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengelolaan produksi, hingga perencanaan jangka panjang. Ini mencakup aspek-aspek krusial dalam menjalankan bisnis koperasi yang efektif.
Irawan juga menyoroti keunikan Kopontren Al-Ittifaq sebagai koperasi berbasis komunitas dengan dukungan penuh dari masyarakat sekitar. "Maka, peserta magang bisa menggali bagaimana koperasi berbasis komunitas,” katanya. Pembelajaran ini diharapkan dapat menginspirasi peserta untuk membangun koperasi yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memiliki akar kuat di komunitas lokal, menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews