Kejar Target Pembangunan PLTS 100 GW, Koperasi Didorong Jadi Penggerak Utama Transisi Energi
Percepat implementasi model-model yang telah dikembangkan sekaligus memperkuat kontribusi koperasi dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan Yayasan Rumah Energi mendorong peran koperasi sebagai penggerak utama transisi energi berbasis komunitas. Langkah ini guna mendukung target nasional pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).
"Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendukung implementasi target nasional pembangunan 100 GW PLTS yang ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN)," kata Direktur Eksekutif Rumah Energi Sumanda Tondang dikutip dari Antara, Rabu (24/6).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui diseminasi 'Handbook Praktis Panduan Pengembangan PLTS Berbasis Koperasi Hijau' serta pembacaan rekomendasi kebijakan hasil rangkaian lokakarya 'Readiness of Indonesia Solar Energy Series (RISE Series): Green Cooperative Workshop Series toward Indonesia's 100 GW Solar PV Target'.
Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan mencakup kebutuhan penyederhanaan regulasi, pengembangan skema blended finance untuk model bisnis koperasi berbasis energi terbarukan, peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi, hingga penguatan integrasi koperasi dalam agenda dekarbonisasi dan transisi energi nasional.
Kemenkop dan Rumah Energi juga menandatangani nota kesepahaman tentang Pengembangan Model Bisnis Koperasi Berbasis Energi Terbarukan.
Sumanda mengatakan Rumah Energi sejak 2021 telah mengembangkan pendekatan koperasi hijau melalui berbagai kajian, program pendampingan, serta pengembangan model bisnis energi terbarukan berbasis koperasi.
"Kerja sama ini menjadi fondasi penting untuk mempercepat implementasi berbagai model tersebut sekaligus memperkuat peran koperasi sebagai aktor utama dalam mendukung transisi energi Indonesia," ujarnya.
Menurut dia, kerja sama tersebut dapat mempercepat implementasi model-model yang telah dikembangkan sekaligus memperkuat kontribusi koperasi dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
Dalam kerangka kebijakan tersebut, koperasi diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.
Kebut Pengembangan Ekosistem Koperasi Hjau
Kemenkop dan Rumah Energi berharap kerja sama tersebut dapat mempercepat pengembangan ekosistem koperasi hijau yang mampu menjadi pelaku utama dalam pengembangan energi terbarukan, mendukung ketahanan energi nasional, menciptakan peluang ekonomi baru di tingkat lokal, serta berkontribusi terhadap pencapaian target pengurangan emisi Indonesia.
Dalam Lokakarya 3 yang menjadi bagian dari RISE Series, para pemangku kepentingan melakukan kajian terhadap model bisnis PLTS berbasis koperasi yang telah dikembangkan Rumah Energi dalam proyek Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui Model Energi Terbarukan Berbasis Masyarakat.
Model bisnis tersebut disusun berdasarkan hasil studi lapangan pada tiga lokasi percontohan, yakni Koperasi Unit Desa (KUD) Mina Fajar Sidik di Blanakan, Subang, Jawa Barat; Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan di Pasuruan, Jawa Timur; dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Gili Genting di Sumenep, Jawa Timur.
Kajian lapangan menunjukkan pengembangan PLTS berbasis koperasi memiliki prospek yang menjanjikan apabila didukung oleh skema pembiayaan yang tepat, model bisnis produktif yang kuat, serta dukungan regulasi yang memadai.