Keberhasilan Digital Marketing: Satu Konten Berkualitas Lebih Baik Dibandingkan dari 15 Konten yang Biasa Saja
Membuat konten hanya satu dalam seminggu namun berkualitas jauh lebih efektif.
Di tengah gempuran konten yang membanjiri media sosial, Group Business Unit Head Natural Wellness Category Bintang Toedjoe, Rindu Melati Siregar menegaskan bahwa keberhasilan sebuah brand dalam digital marketing bukan ditentukan oleh banyaknya jumlah konten, tetapi kualitasnya.
Rindu bercerita bahwa sebelumnya pihaknya sempat terbiasa dengan pola membuat 15 konten per bulan. Namun, dia dia menyadari banyaknya konten bukan jaminan kesuksesan.
"Dulu Saya engga tau apakah di sini ada digital agency, oh iya sebulan kita bikin konten Itu 15, 15 postingan konten seminggu kita naik. Tapi 15 konten itu Aaakah menjadi patokan sukses dalam sebulan? Kan engga gitu,” kata Rindu dalam acara Tech For Business Digital Marketing Madness, Jakarta, Selasa (3/6).
Menurutnya membuat konten hanya satu dalam seminggu namun berkualitas jauh lebih efektif.
"Tapi seberapa konten berkualitas yang kita bikin, kalau emang seminggu cuma satu bikin konten berkualitas itu oke. Kalau klik share-nya banyak dan komen-nya banyak, kalo adjustment-nya tinggi itu lebih berkualitas," tambahnya.
Menurut Rindu, tekanan pada tim kreatif atau agensi yang harus mengejar jumlah konten bisa berdampak pada kualitas. Belum lagi ditambah proses approval yang panjang dan berulang.
"Jadi makin banyak konten yang dikejar-kejar untuk diselesaikan di bulan tersebut. Kan kita sudah beradunya engga cuma sama brand lain, tapi influencer banyak banget. Influencer ada makro, ada mikro, ada nano, semuanya konten," katanya.
Namun, yang lebnih penting dari sekadar 'like', lanjut Rindu adalah seberapa banyak konten tersebut dibagikan (share). Dia menilai share itu lebih berharga. Artinya dia merasa konten itu relate, layak dikirim ke grup, atau bahkan menandai temannya.
Ambil Contoh Film Walid
Dia mencontohkan saat film 'Walid' ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang tertipu karena membaca komentar yang menyebut nama temannya, seolah-olah itu adalah pesan pribadi.
"Saya bacain komennya beberapa orang di-mention temennya, sampe saya ketipu, jujur saya ketipu karena di-mentionnya kayak gini misalnya, 'Budi Gua udah bilang lu tobat bro', saya klik tuh ini Walid beneran. Nah lo nih korban- korbannya banyak banget yang di-mention. Itu kan seru ya, saya tuh nge-klik loh apa sih yang di-mention. Ternyata gua ketipu dengan komen-komennya Itu tuh yang lebih menarik," cerita Rindu.
Di sisi lain, dia juga mengingatkan pentingnya memperluas jangkauan konten di luar platform milik sendiri. Menurutnya, saat konten menarik, amplifikasinya bisa menembus berbagai media.
"Tapi mau ngga mau kita memang harus main di situ karena audiens kita tersebar dengan sangat luas. Gak cuma berharap dari followers kita," ujarnya.
Lebih lanjut, untuk memiliki konten yang menarik, Rindu membagikan delapan strategi penting dalam membangun konten merek yang kuat, pertama tentukan target audiens. Kedua, buat rencana konten, fokus pada kualitas dibanding kuantitas, manfaatkan berbagai format konten.
"Kemudian, jaga konsistensi, gunakan data dan analitik, aktif berinteraksi dengan audiens, serta berkolaborasi dengan influencer," tutup dia.