Inflasi Sumsel Maret 2026 Terkendali di Tengah Momen Ramadhan dan Idul Fitri
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sumsel Maret 2026 sebesar 0,29 persen secara bulanan. Meskipun bertepatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri, angka ini masih terkendali dan lebih rendah dari inflasi nasional.
Palembang, Sumatera Selatan – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat inflasi sebesar 0,29 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Maret 2026. Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, yang disampaikan langsung oleh Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, di Palembang pada Kamis (02/04).
Angka inflasi bulanan ini dinilai masih dalam kategori terkendali, meskipun bertepatan dengan momen penting Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. BPS Sumsel menekankan pentingnya untuk tetap mengantisipasi potensi gejolak harga di masa mendatang.
Capaian inflasi 0,29 persen mtm ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, Februari 2026, yang tercatat sebesar 0,58 persen. Kondisi ini juga lebih baik jika dibandingkan dengan tingkat inflasi nasional yang mencapai 0,41 persen pada periode yang sama.
Tingkat Inflasi Bulanan dan Target BPS
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa tingkat inflasi bulanan Sumsel pada Maret 2026 sebesar 0,29 persen mtm. Angka ini menunjukkan bahwa inflasi di wilayah tersebut masih berada dalam koridor target yang ditetapkan.
Target inflasi yang ditetapkan berada di kisaran 0,25 persen plus minus 1 persen, sehingga capaian 0,29 persen dinilai masih on the track. Penurunan tingkat inflasi ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi regional.
Secara bulanan, tingkat inflasi Maret 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,58 persen. Ini menunjukkan adanya upaya pengendalian harga yang efektif di tengah permintaan yang cenderung meningkat selama periode keagamaan.
Penyumbang Utama Inflasi Berdasarkan Kelompok Pengeluaran
Dari sebelas kelompok pengeluaran yang dipantau, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi di Sumsel pada Maret 2026. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,29 persen terhadap total inflasi.
Selain itu, kelompok transportasi juga turut memberikan andil signifikan sebesar 0,08 persen, diikuti oleh kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil 0,04 persen. Komoditas utama yang mendorong inflasi pada bulan ini antara lain daging ayam ras, bensin, telur ayam ras, serta tarif angkutan antarkota dan kendaraan travel.
Peningkatan harga pada komoditas-komoditas tersebut seringkali terjadi menjelang dan selama perayaan hari besar keagamaan. Namun, upaya pemerintah daerah dan pihak terkait dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga berperan penting dalam menahan laju inflasi.
Deflasi dan Inflasi Tahunan di Sumsel
Di sisi lain, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,10 persen pada Maret 2026.
Deflasi pada kelompok ini dipengaruhi oleh penurunan harga emas yang mencapai Rp2,8 juta. Fenomena ini menunjukkan dinamika harga yang kompleks di berbagai sektor ekonomi Sumsel.
Selain data bulanan, BPS juga mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) Sumatera Selatan mencapai 3,09 persen. Penyumbang terbesar inflasi tahunan ini berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 1,55 persen dan tingkat inflasi 19,28 persen.
Secara keseluruhan, tingkat inflasi di Sumsel masih relatif terkendali dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,41 persen pada periode yang sama. Ini mencerminkan keberhasilan dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi.
Sumber: AntaraNews