IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jepang, Prediksi Kenaikan Suku Bunga BOJ Lebih Lambat
IMF memperkirakan ekonomi Jepang hanya akan tumbuh sebesar 0,6% pada tahun 2025.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang dan memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga dengan kecepatan lebih lambat dari yang sebelumnya diperkirakan. Langkah ini dipicu oleh dampak dari tarif tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Dalam laporan *World Economic Outlook* terbaru yang dirilis Selasa (22/4), IMF memperkirakan ekonomi Jepang hanya akan tumbuh sebesar 0,6% pada tahun 2025. Angka ini turun 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya yang dirilis pada Januari. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 pertumbuhan ekonomi Jepang hanya mencapai 0,1%.
IMF menjelaskan bahwa penurunan proyeksi ini disebabkan oleh dampak tarif yang diumumkan pada 2 April lalu serta ketidakpastian yang menyertainya, yang dinilai mengimbangi penguatan konsumsi domestik akibat pertumbuhan upah yang melebihi inflasi.
Lembaga tersebut juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang pada 2026 sebesar 0,6%, atau turun 0,2 poin dari proyeksi Januari.
Dalam hal kebijakan moneter, IMF memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga secara bertahap dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan asumsi sebelumnya pada Oktober 2024. Laporan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik kapan kenaikan suku bunga berikutnya akan dilakukan, namun memperkirakan bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga menuju level netral sekitar 1,5% dalam jangka menengah, yang sesuai dengan target inflasi 2%.
BOJ sebelumnya telah mengakhiri kebijakan stimulus besar-besaran dan menaikkan suku bunga menjadi 0,5% pada Januari 2025. Langkah ini diambil setelah muncul keyakinan bahwa Jepang mendekati pencapaian target inflasi 2% secara berkelanjutan.
Meskipun Gubernur BOJ Kazuo Ueda telah menyatakan kesiapan untuk terus menaikkan suku bunga, kebijakan tarif dari mantan Presiden AS Donald Trump menambah kompleksitas terhadap keputusan waktu dan besaran kenaikan tersebut. AS telah menetapkan tarif 24% terhadap ekspor Jepang, meskipun tarif ini baru akan diberlakukan pada awal Juli. Selain itu, tarif universal sebesar 10% dan bea masuk 25% terhadap mobil tetap berlaku dan diperkirakan akan berdampak negatif terhadap ekonomi Jepang yang bergantung pada ekspor.
Sumber Reuters menyebutkan bahwa BOJ kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tetap dalam pertemuan kebijakan pada 30 April–1 Mei. Namun, bank sentral diperkirakan tetap akan memberi sinyal bahwa risiko dari tarif AS tidak akan menggagalkan tren kenaikan upah dan inflasi yang menjadi dasar untuk melanjutkan normalisasi suku bunga.