Hubungan Trump dengan Uni Eropa Kembali Memanas, Apple Jadi Korban Baru
Langkah itu diambil setelah perundingan dagang antara AS dan blok Eropa tersebut kembali menemui jalan buntu.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang hubungan dagang internasional dengan mengancam akan mengenakan tarif besar-besaran sebesar 50 persen terhadap Uni Eropa mulai 1 Juni.
Langkah itu diambil setelah perundingan dagang antara AS dan blok Eropa tersebut kembali menemui jalan buntu. Tak hanya menyasar mitra dagang tradisional Amerika, Trump juga memperingatkan bahwa Apple akan dikenai tarif 25 persen untuk iPhone yang diproduksi di luar negeri.
Melansir dari South China Morning Post, pasar saham langsung merespons keras. Indeks S&P 500 tercatat turun 0,67 persen, sementara saham Apple anjlok 3,02 persen di tengah gejolak pasar Eropa yang meluas.
Di media sosial, Trump menjelaskan secara langsung penargetan Apple. "Saya sudah lama memberi tahu Tim Cook dari Apple bahwa saya ingin iPhone yang dijual di Amerika dibuat di Amerika, bukan di India atau negara lain. Kalau tidak, maka Apple harus membayar tarif setidaknya 25 persen," tulisnya.
Pengumuman ganda pada Jumat itu mempertegas kampanye Trump yang terus berlanjut terhadap mitra dagang utama AS.
"Uni Eropa dibentuk untuk mengambil keuntungan dari Amerika dalam perdagangan," ujar Trump tajam, sambil menuduh blok tersebut menerapkan hambatan perdagangan, pajak yang memberatkan, dan berbagai regulasi yang merugikan perusahaan-perusahaan Amerika.
Trump Picu Ketegangan Global
Pada 2 April lalu, Trump telah memicu ketegangan dengan memberlakukan tarif 20 persen terhadap UE yang kemudian diturunkan menjadi 10 persen. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, dia menyebut Uni Eropa sebagai blok politik yang dibentuk untuk menyakiti Amerika Serikat, dengan menyebut jutaan mobil Eropa seperti Mercedes, BMW, dan Volkswagen dijual bebas di AS, sementara produsen AS kesulitan masuk pasar Eropa.
"Saya tidak mencari kesepakatan. Kesepakatannya sudah ada 50 persen tarif," tegasnya, namun memberi celah bahwa tarif bisa dihindari jika produsen Eropa, terutama perusahaan otomotif, membangun pabrik di AS.
Hal yang sama diberlakukan untuk Apple. "Kalau mereka produksi di sini, tidak ada tarif," ucapnya.
Trump juga mengungkap CEO Apple Tim Cook telah menyampaikan rencana membangun pabrik di India, namun dia menanggapi, "Tak masalah pindah ke India, tapi jangan berharap bisa jual di sini tanpa bayar tarif."
Sementara itu, ancaman Trump terhadap UE dan Apple muncul bersamaan dengan manuver diplomatik China yang justru berusaha mempererat hubungan dengan negara-negara Eropa.
Menteri Luar Negeri Wang Yi mengadakan serangkaian pertemuan dengan pejabat dari Belanda, Jerman, Polandia, dan Denmark untuk menekankan pentingnya kerja sama, menolak proteksionisme, dan menegaskan kembali prinsip satu China.
Presiden China Xi Jinping bahkan mengadakan panggilan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Kamis, menyerukan kerja sama menghadapi tantangan global. Macron menekankan pentingnya persaingan yang adil, khususnya terkait kekhawatiran atas pembatasan ekspor China terhadap cognac Prancis.
Langkah Trump kali ini mencerminkan ketidaksabarannya terhadap lambannya proses perundingan dagang. Ia menuduh UE enggan memangkas tarif dan tetap mempertahankan pajak dasar 10 persen atas sebagian besar impor.
"Diskusi kita dengan mereka tidak akan membuahkan hasil. Maka dari itu, saya rekomendasikan tarif langsung sebesar 50 persen terhadap Uni Eropa mulai 1 Juni. Tidak ada tarif jika produk dibuat di Amerika," tulisnya.
Data Perdagangan AS dengan Uni Eropa
Menurut data pemerintah AS, pada 2024 total perdagangan barang antara AS dan UE mencapai USD975,9 miliar dengan defisit sebesar USD235,6 miliar. Sementara perdagangan barang AS dengan China berjumlah USD582,4 miliar, dengan defisit yang lebih tinggi yaitu USD295 miliar.
Terkait Apple, Trump tampaknya semakin frustrasi terhadap perusahaan teknologi tersebut. Diperkirakan 80-90 persen dari lebih dari 60 juta iPhone yang dijual di AS tiap tahun diproduksi di China, sementara sisanya berasal dari India dan Vietnam.
Meski tidak jelas apakah pemerintah secara hukum dapat menetapkan tarif terhadap satu perusahaan, ancaman ini memperkuat tekanan terhadap Apple. Padahal, hubungan antara Trump dan Apple sempat membaik. Pada 12 April lalu, ia mengumumkan pengecualian terhadap smartphone dan perangkat elektronik dari tarif 'timbal balik', termasuk pungutan 125 persen terhadap impor dari China.
Ketegangan Semakin Meningkat
Namun ketegangan kembali meningkat. Apple sendiri berencana untuk memproduksi sebagian besar iPhone yang dijual di AS di India pada akhir 2026, sebagai upaya menghadapi kemungkinan tarif tinggi di China. Mulai kuartal Juni, sebagian besar pengiriman iPhone ke AS akan berasal dari India sebagai bagian dari strategi diversifikasi produksi.
Namun, dampak tarif tetap besar. Analis dari Wedbush Securities, Dan Ives, memperkirakan bahwa jika iPhone diproduksi di AS, harganya bisa melonjak hingga USD3.500 dari harga rata-rata saat ini sekitar USD1.000.
Apple kini masuk dalam daftar panjang perusahaan besar seperti Amazon dan Walmart yang menjadi sasaran kebijakan dagang Trump, di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian global.
Ancaman terhadap Apple dan Uni Eropa muncul meski AS dan China baru-baru ini menyepakati pengurangan tarif dalam pertemuan di Jenewa. Washington memangkas tarif menjadi 30 persen, sementara Beijing menurunkannya ke 10 persen.
Namun, sebagian besar sekutu tradisional AS, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Uni Eropa, masih belum mencapai kesepakatan dagang baru dengan Washington. Jepang dijadwalkan mengirim kepala negosiatornya, Ryosei Akazawa, ke AS pada 30 Mei untuk putaran perundingan keempat.