Hampir 780 Ribu Ternak Terdampak Bencana Sumatera, Kementan Siapkan Pemulihan
Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat 778.922 hewan ternak terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera, dengan fokus pada pendataan menyeluruh untuk pemulihan pascabencana.
Dampak Luas Bencana pada Sektor Peternakan Sumatera
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera telah menimbulkan dampak signifikan pada sektor peternakan. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sebanyak 778.922 hewan ternak, meliputi sapi, unggas, dan babi, terdampak di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data ini merupakan hasil pendataan sementara per 31 Desember 2025, yang terus diperbarui seiring proses penanganan darurat dan verifikasi lapangan.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir menangani dampak ini. Pendataan menyeluruh menjadi langkah awal penting untuk merencanakan pemulihan berkelanjutan bagi peternak setempat. Upaya ini bertujuan untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi riil di lapangan dan mencegah kerugian yang lebih besar pada wilayah terdampak.
Identifikasi jenis ternak yang terdampak, termasuk sapi, kambing, dan ayam, dilakukan secara cermat oleh Kementan. Hal ini krusial untuk menentukan jenis bantuan yang paling dibutuhkan oleh para peternak. Program pemulihan pascabencana juga telah disiapkan untuk membantu sektor peternakan bangkit kembali setelah masa kedaruratan selesai.
Rincian Hewan Ternak Terdampak di Berbagai Wilayah
Data Kementan per 31 Desember 2025 menunjukkan sebaran dampak bencana yang bervariasi di tiga provinsi. Ternak sapi dan kerbau menjadi salah satu yang paling banyak terdampak, dengan total 38.393 ekor. Sebaran terbesar berada di Aceh dengan 36.337 ekor, diikuti Sumatera Utara 1.641 ekor, dan Sumatera Barat 415 ekor.
Untuk kategori ternak kambing dan domba, total 113.325 ekor terdampak bencana. Provinsi Aceh mendominasi jumlah ini dengan 110.159 ekor, sementara Sumatera Utara mencatat 3.017 ekor dan Sumatera Barat 149 ekor. Angka-angka ini menunjukkan skala kerusakan yang luas pada populasi ternak di wilayah tersebut.
Unggas menjadi kategori ternak dengan jumlah terdampak paling tinggi, mencapai 622.154 ekor. Dari jumlah tersebut, 454.543 ekor berada di Aceh, 116.885 ekor di Sumatera Utara, dan 50.726 ekor di Sumatera Barat. Selain itu, Kementan juga mencatat 5.050 ekor ternak babi terdampak, yang seluruhnya berada di wilayah Sumatera Utara.
- Total Ternak Terdampak: 778.922 ekor
- Sapi dan Kerbau: 38.393 ekor
- Aceh: 36.337 ekor
- Sumatera Utara: 1.641 ekor
- Sumatera Barat: 415 ekor
- Aceh: 110.159 ekor
- Sumatera Utara: 3.017 ekor
- Sumatera Barat: 149 ekor
- Aceh: 454.543 ekor
- Sumatera Utara: 116.885 ekor
- Sumatera Barat: 50.726 ekor
Langkah Kementan dalam Penanganan dan Pemulihan Pascabencana
Kementerian Pertanian terus melakukan pendataan di lapangan untuk memastikan akurasi data. Penyaluran bantuan akan dilaksanakan setelah tahap penanganan kedaruratan selesai secara menyeluruh. Data yang terkumpul ini akan menjadi dasar penting untuk penyaluran bantuan, program pemulihan pascabencana, serta langkah strategis lainnya.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menjelaskan bahwa Kementan memiliki program pemulihan pascabencana yang akan membantu peternak. “Kita identifikasi semua, ternak ayam, sapi, kambing, kita identifikasi. Ya, kita kan dari sisi peternakan, kita juga ada program yang nanti kita bantu setelah pemulihan, namanya pemulihan pascabencana gitu,” kata Sudaryono.
Fokus utama Kementan adalah memulihkan sektor peternakan dan menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Meskipun demikian, Kementan belum merinci apakah ternak yang terdampak tersebut mati, hilang, atau selamat, karena pendataan masih berlangsung. Prioritas saat ini adalah mendukung penanganan darurat dan perencanaan pemulihan pascabencana secara efektif.
Sumber: AntaraNews